Rabu, 27 April 2016

MENELAN BIJI GABAH


        Siang itu panas matahari terasa sangat terik, para petani produsen yang sedang menjemur padi hasil panen maupun hasil ' mbawon' para buruh tani merasa senang karena jemurannya bisa kering tanpa harus berkali2 angkat junjung memindah berulang2 karena gerimis atau  hujan datang di tengah2 masa menjemur padi. Demikian pula Eyang Tami, nenek Farida dari pihak ayahnya. Jemuran padinya tampak sudah kering dan siap diangkat untuk kembali disimpan di 'lumbung' padi keluarga.
       Beberapa pekerja yang membantu Beliau hilir mudik untuk mengemas dan memasukkan padi ke lumbung, ada yang laki2 dan ada pula yang perempuan. Nyai Salma bunda Farida adalah wanita ulet dan tangguh yang tidak suka berpangku tangan ,duduk manis bagai ratu yang mulia. Apalagi di rumah mertuanya. Memang untuk beberapa bulan Ustadz Muhammad menitipkan keluarganya  karena sedang panen di desa supaya istrinya membantu sibuknya musim panen. Disamping itu Eyang Tami sebagai ibu yang baik juga selalu memanggil Nyai Salma untuk ikut mengawasi dan mengatur para pekerja buruh tani yang " mbawon" pada  musim petik padi atau jagung, karena Eyang Tami tergolong orang kaya dengan sawah dan ladang yang luas.
             Masing-masing orang sibuk dengan pekerjaannya sendiri-sendiri, Bu Salma asyik menunjukkan tempat penyimpanan padi yang sudah kering dan tempat menjemur padi yang masih basah. Tiba-tiba ....
"huwek...huwek...." suara balita berusaha memuntahkan isi mulutnya.
"Masya, Alloh...kenapa kamu Farida ?" Tanya Sri kakak sepupu perempuan Farida.
Farida tdak menjawab hanya sibuk berusaha mengeluarkan isi tenggorokannya. Spontan Nyai Salma berlari ke arah Farida.....
"Ada apa ? Coba lihat....a' , ayo...." Nyai Salma meminta putri mungilnya untuk membuka mulut lebar2.
" Ya, Alloh....tenggorokanmu berdarah...coba ghe...gher...keluarin, nak yang di tenggorokan, ada biji ' gabah' , tuh...." Nyai Salma membantu Farida mengeluarkan benda kecil'sebutir biji padi' dari mulut Farida sambil berdoa dan merasa was2 .
          Dalam hati dan pikiran  Farida yang lugu dan masih balita bertanya-tanya merasa kewatir, ' Apa aku mau mati, ya, kalau biji padi ini nda keluar, koq semua orang panik ?" batin Farida.
"Alhamdulillah....berhasil keluar, nak, nak...kenapa kamu makan 'gabah' ? Untung sudah keluar." Nyai Salma merasa lega, dan plong.
"Lain kali jangan diulangi, y , nak..." Kata Nyai Salma menasehati.
"Nggih..." Jawab Farida lirih sambil mengangguk.
                Dalam hati mungilnya bergumam dan heran. "Kan, aku tadi nda bermaksud makan biji padi tapi maksudku aku ikut2an mba Sri "nyisil- jawa". Nyisil adalah kebiasaan anak2 remaja desa bila musim panen padi tiba, untuk memakan biji beras dari batangnya sehabis di panen atau dijemur dengan cara mengupas langsung dengan gigi di dalam mulutnya.
         Ini adalah kenangan yang menegangkan bagi Farida kecil yang teringat sampai dewasa. Bersyukur  bisa melewati bahaya tersebut.