Seperti biasanya jam 03.30 Bunda Salma bangun untuk memasak dan mengurus segala keperluan rumah tangga setelah sholat subuh. Ustadz Muhammad bersiap berangkat kerja mengawasi para 'kuli' pembangunan jalan Cilacap-kawunganten. Tetapi hari ini agak berbeda dengan hari2 biasanya. Biasanya setiap pagi setelah bunda Salma memasak untuk sarapan pagi langsung mengajak kedua anaknya untuk mencuci baju sekaligus memandikan mereka di sumur dekat pematang sawah di dataran rendah dekat rumah. Maklum tanah di desa kubangkangkung masih berbukit2. Demikian juga rumah bunda Salma yang terletak di dataran tinggi tetapi sumurnya di dataran rendah. Perlu waktu 30 menit untuk sampai ke sumur, karena jarak 1 kilo meter turun terjal dari dataran tinggi rumahnya, baru 1 kilometer kemudian menapaki jalan landai menuju sumur dekat pematang sawah.
Tetapi hari ini kemenakan bunda Salma datang dari Kroya berkunjung dan menginap beberapa hari. Farida tidak mengerti untuk apa dia datang, apakah hanya silaturahmi biasa atau ada keperluan lain. Yang dia ingat hanya saat omnya mandi bersama di sumur.
Pagi yang cerah, matahari baru terlihat samar2 di balik rerimbunan pohon jati di sekitar perkebunan. Ya di desa ini memang dijadikan area kebun jati oleh para pemilik tanah pribadi seperti kakek Farida yang memiliki tanah beberapa hektar. Disamping itu pemerintah kabupaten Cilacap juga memiliki kebun karet yang berhektar2 sampai sekarang.
"Farida....uji...ayo ikut pak lik mandi !" ajak Naslam pada kedua kemenakannya.
"Yuk...!" Farida menggandeng tangan Uji adik lelakinya sambil menganggukan kepalanya. Meski baru pertama kali mereka bertemu pak liknya tetapi tidak merasa sungkan karena pak liknya sangat ramah dan dekat dengan anak2. Memang belum menikah tetapi sudah mudah memahami anak2.
Sekarang sedang musim hujan, jlan menuju sumur menurun dan licin.
"Ayo hati2 jalannya..." Naslam mengingatkan kemenakannya sambil tersenyum lebar
Farida bergandengan tangan dengan adiknya, usia Farida baru 4 tahun, sedangkan adiknya baru berumur 2 tahun saat itu.
"Aduh...." Tiba2 Farida mengaduh lirih,ternyata terpeleset dan langsung dipegangi pak liknya supaya tidak terjatuh. Lalu mereka bertiga kembali menapaki jalan setapak yang hanya cukup untuk dua telapak kaki untuk menuruni bukit menuju sumur. Farida dan Uji berjalan setengah jongkok sambil berpegangan tanah/ tumbuh2an disekitar jalan takut terpeleset. Coba bagaimana jadinya bila terpeleset ? Tentu akan terguling sejauh 1 kilometer dari atas tebing ke bawah.
Jalan menurun sudah dilalui, dilanjutkan melalui jalan rata ditengah2 kebun jagung untuk sampai ke sumur. Pohon jangung yang mulai berbuah dan sebagian masih berbunga menjadikan rasa indah dan sejuk bagi orang2 yang melintasinya. Tentu saja bila pagi sampai siang, lain lagi jika malam hari pasti akan menakutkan jalan sendirian di tengah kebun jagung dan jati dalam kegelapan malam yang diiringi bunyi hewan2 hutan, seperti burung hantu, auman harimau, atau lolongan anjing hutan. Yah, suasana grumbul Bojong desa Kubangkangkung kecamatan Kawunganten kabupaten Cilacap tahun 1969 masih hutan lindung yang alami dan seram.
Sampailah di sumur, pak lik Naslam mencuci baju2 dan celana kotornya karena nanti siang akan ulang kembali ke desanya Danasri lor, kroya dengan naik kereta api karena belum ada bis, maklum jalannya belum selesai dibangun. Farida dan Uji asyik bermain air sabun cucian pak liknya.
Karena sudah selesai mencuci pak liknya pun, bersiap memandikan kedua keponakannya.
" Farida, uji, sini nak mandi !"
" Ya..." Farida dan Uji bergegas mendekat ke pak liknya
" Masya Alloh....koq badanmu kurus amat, ji...." Naslam kaget saat membuka baju Uji ternyata berbadan kurus. Memang sejak lahir Uji tidak semontok Farida. Apalagi di pegunungan seperti itu tidak ada serelak atau susu formula seperti sekarang.
" Sini, aku kencingi kalian biar cepet besar !" Kata Naslam.
" Jongkok sini !" Naslam menarik tangan Uji dan Farida menyuruh jongkok di dekatnya supaya mudah dikencingi. Ha...ha...entah mitos dari mana pada jaman dulu, orang Jawa memiliki keyakinan apabila ada anak2 yang pertumbuhannya kurang baik, akan cepat sehat dan besar bila dikencingi. Anehnya Uji menurut, jongkok dan benar2 dikencingi pak liknya. Berbeda dengan Farida, karena kecerdasannya Farida menolak dan lari. Dalam hatinya berkata, 'air kencing kan bau dan jijik, buat apa aku mau dikencingi'. He..he...lucu juga Farida lari kecil pak Liknya mengejar sambil telanjang celana. Meskipun kedua keponakannya sama sekali tidak ingat seperti apa bentuknya saat itu dan porno atau tidak karena masih amat kecil, yang jelas saat ini sangat lucu bila mengingatnya.
"Lho, koq kamu lari Farida....nanti kamu nda gede-gede, lho." Kata Naslam sambil menutup celananya.
Saat ini kepikir juga, apa iya, ya...aku bertubuh mungil karena dulu waktu kecil nda mau dikencingi pak lik ? He...he...
Selesai sudah cucian dan mandi paginya. Pulang kembali menapaki jalan setapak. Saat ini terbalik, bukan menurun tapi menanjak naik 1 kilo meter. Kalau waktu berangkat Farida dan Uji kecil agak jongkok sambil berpegangan tanah supaya tidak terguling ke bawah, kali ini agak merangkak naik berpegangan tanah supaya tidak jatuh.
Sampai di halaman rumah pak Lik Naslam menjemur cuciannya, Farida dan Uji segera mencari Bundanya untuk sarapan pagi bersama.
Cilacap, jumat pon 22 Agustus 2014M/ 24 syawal 1435 H.