Senin, 12 Oktober 2020

Legenda Putra ke 3.Ku

Legenda Putra ke 3 Ku

   Ini adalah kisah nyata  Motor Legenda, putra ke 3 & Aku. Juga tentang pandemi yang melanda dunia pada tahun 2019 : covid 19 atau Corona virus.


      Kamis wage malam jumat kliwon 5 mlm 6 Desember 2019. Putra ke 3 ku yang sudah memiliki fadhilah sejak dalam kandungan, meninggal dunia karena ditabrak nenek Kamto yang berusia 70 th. Putra ke 3 ku : Muhammad Rahmatul Azhar yang baru masuk semester 1 Fakultas Syari'ah IAIIG Cilacap, sepulang dari menghadiri acara Sholawat bersama Gus Afif, dengan akhir kalimat Thoyyibah " Innalillahi...Allohu Akbar 3x...di TKP.....dan wafat...
      Aku mendapat kabar putraku jam 24.30 dan sampai di ruang jenazah RSUD Cilacap putraku sudah tidak berbusana, siap dimandikan. Maka saat itu aku mengucap : " Alhamdulillah...ya Alloh, Har...kamu husnul khotimah...anak sholih, kamu waktu bayi sudah ibu mandikan sekarang kamu meninggalpun minta dimandikan Ibu...mestinya karena kamu anak sholih, kamu yang memandikan Ibu kelak bila Ibu wafat, tapi tidak apa2 itu sudah takdir Alloh, Ibu akan memandikanmu....."
Lalu aku mencium jidat dan ke 2 kening putraku serta meminta Suamiku memegang kran air untuk menyiram seluruh anggota badan putraku & Aku yg menggosok lembut dari wajah hingga kaki, kecuali bagian alat reproduksinya karena laki2 jadi aku meminta Suamiku yg mensucikannya, meskipun Aku sbg Ibunya jg boleh.
     Selesai memandikan, suamiku mengkafani putraku, setelah selesai pk.01.30, aku langsung mengabari saudara2 dan teman kerjaku via grup whatsaps/ w.a dengan maksud memohon doa kebahagiaan dan kelancaran bagi putraku menuju Alloh swt.
Akupun tidak menangis...
Langsung sholat jenazah dan tadarus surat Yaasiin, hingga pagi hari jam 09.00 dimakamkan, aku ikit mengantar sampai ke makam dan pulang paling akhir karena membaca Yaasiin dan sholawat & doa dulu. Di makam Aku qobulkan agar Rosululloh saw sendiri yg menyambut kedatangan putraku...dan pada bacaan " Salaamun qoulan min Robbi Rohim."...aku mencium bau harum yang luar biasa dari arah lubang makam mengarah ke hidungku...
Bahkan seminggu sebelum wafat putraku ( dari malam jumat pon hingga 40 hari wafatnya) rumahku begitu semerbak harum...
     Tapi ketika sore hari setelah putraku di makamkan, rasa sedih & kehilangan mulai hadir ke hatiku. Hingga malam harinya pk.01.30 aku belum tidur, datang 4 ekor kucing seakan takziyah atau datang untuk menemani ruh putraku yg pulang lg. Maka kucing2 itu kusuruh naik ke kamar atas ,kamar yg biasa untuk bersantai mendengar rebana sholawat olehnya. Di kamar atas kucing2 tsb bergumam, bersendau gurau, tapi tidak berisik...
Hingga aku berpikir mungkin mereka sedang bermain dengan ruh putraku yang berkunjung ke rumah karena mati Syahid ruhnya boleh berkunjung, terbersit dalam pikiranku " benarkah putraku husnul khotimah ? Mengapa di mulutnya ada sedikit busa ? Tak terasa aku tertidur beberapa menit, antara sadar dan tidur tiba2 ada bisikan di  hatiku kalimat " Sayyidina Husen"... Akupun terjaga dan kaget...
Apa maksudnya ? Pikirku.
Kemudian dari pikiranku ada jawaban, putraku meninggal husnul khotimah, sebagaimana Sayyidina Husen yg diracuni hingga mulutnya berbusa, bedanya anakku karena ditabrak mobil.
Ternyata beberapa hari kemudian ada yg bilang, bila orang sholih meninggal dunia mengeluarkan busa di mulutnya itu karena ilmu yg dimiliki & tanda kesholihannya. Aamiin.
      Malam ke 70 wafatnya putra ke 3 ku, putra ke 2 bermimpi yg seakan nyata yang isinya " tentang kebahagiaan adiknya yang sudah di istana yg indah, megah, mewah, penuh pelayan cantik2 dan jamuan hidangan yg lezat2 tak terkira.
     Tapi, kesedihanku belum hilang meski sudah banyak isyarat2 kebahagiaan putraku di alam Baqo. Hingga aku berpikir & berbisik kepada Alloh swt : ".ya Alloh, sebentar lagi romadhon, semua orang tarwih di masjid, kalau aku tarwih di rumah sangat sayang krn rumahku berhimpitan dg masjid, tapi kalau tarwih di masjid aku khawatir akan menangis teringat putraku yg sdh almarhum, sholat idul fitripun begitu lalu besok lebaran semua anak cucu, menantu mudik kumpul di rumah mertuaku, bagaimana aku ? Kalau mudik kewatir banyak menangis melihat anak2 dan saudara2 yg utuh, tdk mudik tidak enak ke mertua & saudara2 karena aku yg terdekat rumahnya & yg membuat tradisi kumpul keluarga di rumah mertua tiap idul fitri. Juga tradisi muter tetangga, tiap Idul fitri bagaimana kelak ketika semua tetangga sekitar datang ke rumah untuk silaturahmi spt tiap tahun selama ini ? Apakah aku akan menangis terus ? Kalau Arisan2, dan mengajar di kampus,  bagaimana aku ?
     Kemudian aku juga berpikir...
Sungguh kejam orang yang menabrak putraku, jangankan meminta maaf, datang ke rumahpun tidak ( bahkan sampai tulisan ini ku tulis / sdh hampir 1 tahun). Betapa jahat sopir ambulan, Polisi, Dokter dan petugas Medis yang menangani kejadian ditabraknya putraku. Mereka bungkam semua, membiarkan putraku di ruang jenazah sendirian, bahkan setelah menabrak lari pulang, meninggalkan putraku di TKP /tidak menemani sampai ke Rumah sakit atau setidaknya mengabari aku orangtuanya. Bahkan mengarang cerita dengan mengatakan putraku yang salah, yang menabrak, hanya karena takut terkena sangsi hukum, takut ganti rugi dan terseret hukum, aku sangat kecewa....
Padahal aku yang  tertimpa musibah ini sampai saat ini masih dipenuhi, ketakutan, kesedihan, kengerian dan kekawatiran....
     Subhaanallohi walhamdulillahi...
Alloh swt menjawabku   ....
Tiba2 dunia mengumumkan pandemi Covid 19...
Tidak boleh berkerumun, termasuk dilarang 0sholat tarwih di masjid, mudik, silaturahmi ke tetangga, arisan2 , kuliah2....
Aku jadi bersyukur sekali lagi, karena aku tidak harus bersedih di depan umum...
Yang lebih memprihatinkan....
Covid 19 juga menimpa semua kalangan : di jalan tiba2 orang jatuh meninggal,spt putraku yg ditabrak jatuh ditinggal pergi dan wafat. Sopir ambulan, petugas medis, dokter ,polisi juga meninggal, seperti mereka yang bungkam dan merekayasa cerita saat putraku meninggal...
    Sungguh aku sangat prihatin pada masa pandemi ini, tetapi aku juga bersyukur dan merasa sebagai hamba Alloh swt yang diberi fadhilah dan karomah . ...
Aku bukan fokus pada virus tapi pada anak2ku, kesedihan, kekawatiran, ketakutan dan musibahku juga ditemani banyak orang.....
     Apakah aku & putraku kekasih Alloh swt ? Atau kedholiman tersebut penyebabnya,  atau memang kebetulan ? 
Yang jelas semua yang kutulis semua nyata. Putraku suka montor Legenda & sholawat, wafat sedang naik motor legenda sepulang sholawat. Inilah Legenda, puttra ke 3 & Aku....

                        Selasa pahing,13/10/20