Senin, 07 November 2016

BERBURU TELUR BEBEK

Hasil gambar untuk gambar bebek bertelur di sawahHasil gambar untuk gambar bebek bertelur di sawah

              Musim panen telah usai, para Petani tdk pergi ke sawah. Mereka mengerjakan tugas lanjutan rutin masing2, menjemur padi. Sementara para buruh tani mencari sisa-sisa padi panen yang tidak terjangkau para pemetik padi. Lumayan ...bisa buat penyambung nyala dapur. Padi yang dihasilkan dari sisa panen pemilik sawah biasanya memang bebas dipetik siapapun, sambil menunggu musim tandur/ tanam padi yang baru.
             Mbok Minah dan mba Tini tiba2 lewat depan rumah nenek Tami....
"Hari ini kita ngasag (memetik padi sisa panen-pen) di sawah siapa, yu ?" Tanya Tini pada Mbok Minah.
"Di sawah Mbah Tami aja, di sana luas dan masih baru panennya, jadi belum ada yang ngasag." Jawab Mbok Minah yakin.
"Oh...ya, benarkah ? Bagus kalau begitu, bisa dapat padi lumayan hari ini kita." Wajah Tini berseri penuh harapan.
"Eh...tapi jangan seneng dulu....siapa tahu kita sudah kedaluan orang lain, atau di sana sudah banyak yang lagi ngasag juga...." Mbok Minah memperingtakan Tini supaya tidak terlalu kecewa kalau ternyata nanti sudah banyak teman yang ngasag di Sawah Mbah Tami, nenek Farida.
           Farida yang sedang menjemur pakaian kecilnya mendengar pembicaraan Mbok Minah dan lik Tini, tiba2 ingin ikut....Tapi karena Farida sangat pemalu dan tidak enak hati-an/ rikuh ( jawa-pen) tidak mau bilang pada mereka. Farida hanya mengikuti dari belakang bersama kakak sepupunya mba Sri.
"Eh, Farida, ntar kalau dapat telor kita jual, ya...uangnya kita simpan kalau sudah banyak bisa buat beli baju lebaran..."Kata Sri. Sri memang anak yang sangat irit ( gemi -Jawa-pen) rupanya ajaran Eyang Tami untuk bisa mengatur keuangan dan rajin menabung.
"Iya,mba." Farida menjawab lirih karena memang Farida sangat segan pada kakak sepupunya. Kawatir dimarahi atau bahkan dijambak (ditarik rambutnya-Jawa-pen).
           Dugaan Mbok Minah benar, sampai di sawah ternyata sudah banyak ibu-ibu buruh tani yang siap ngasag. Di sana juga sudah banyak anak-anak yang ikut ibu mereka , yang remaja ikut membantu memetik padi sisa, yang masih anak-anak ada yang berburu telur bebek, mencari belut atau ikan sawah bagi yang laki2. Sungguh suasana yang menyenangkan, bekerja sambil santai, sehingga lupa pada rasa lelah. Apalagi bagi yang dapat memetik padi lebih banyak atau dapat ikan/ belut banyak. Bahagianya.....
          Tiba-tiba dari arah timur....
"Hey...aku nemu telur....." Seru Ardi kegirangan karenamenemukan telur di balik rerumputan pinggir pematang sawah.
"Ih, seneng yah kamu...coba lihat" Salman mendekat ke arah Ardi
"Nih....masih bagus ..lho, belum busuk."Ardi menujjukkan telor temuannya.
         Sementara ibu2 pencarai padi sudah agak lumayan dapatnya. Farida sendiri belum dapat apa-apa, seperti biasanya anak terkecil, hanya mengalah dan ikut2an, tapi sudah cukup bahagia, sejenak melupakan kerinduannya pada orangtua dan adik-adiknya yang tinggal di kota. Tidak ada yang tahu hari demi hari bahkan detik2 demi detik adalah kesedihan dan duka bagi Farida, gadis kecil, balita yang harus tinggal terpsah dari keluarganya dan dititipkan pada neneknya di desa,...melakukan semua tangung jawab dan pekerjaannya sendiri, mandi, sekolah, bahakan mencuci baju sendiri, mandiri di usia yang masih di bawah umur. Kelak inilah salah satu faktor yang menyebabkan dia tumbuh menjadi wanita yang tangguh dan mandiri.
         "Alloohu Akbar, Alloohu Akbaar...." Terdengar Adzan dhuhur berkumandang dari kejauhan. Semua bersiap pulang, masyarakat desa yang taat beragama, begitu ulet mencari nafkah, baik laki-laki maupun perempuan, tetapi tetap menomor satukan pengabdian pada Tuhannya. Mungkin ini juga yang membentuk Farida sangat memperhatikan agamanya, disamping Ayahandanya yang juga ahli jihad fi sabilillah yang senantiasa mengajarkan nilai-nilai Islami dan mendidik Farida dengan sangat ketat.
"Eh, apa itu...putih-putih...." Farida menunjuk ke arah bawah kerumunan pohon padi yang sudah dipetik padinya, sambil berusa menuju ke sana unutk memastikan dan mengambil benda bulat putih yang kemungkinan adalah telur ayam.
"Asyik...aku dapat..." Tiba2 Sri menjerit kegirangan meraih telur lebih dulu. Lagi2 Farida cuma bisa mengalah dan melihat, ini juga yang menjadi sifat dan kepribadian Farida setelah dewasa kelak. Mengalah karena sejak balita sudah harus mengalah pada Mba sepupu atau saudara2nya.
         Bukan main gembiranya Sri dapat telur ayam...Ardi juga senang dengan telur bebek temuannya. Anak-anak lain tidak ada yang dapat tapi mereka tidak iri pada rejeki temannya. Mereka terbiasa tulus, siapa yang dapat berarti itu rejekinya. Sungguh ketulusan yang hakiki, persaudaraan anak-anak desa yang lugu dan penuh niali-nilai kebaikan.
         Sebelum sampai di rumah Sri mampir ke warung untuk menjual telur temuannya. Lalu uangnya di masukkan ke celengan ayam miliknya ( wadah tempat menyimpan uang tabungan anak2 yang terbuat dari tanah liat. Lalu Sri dan Farida pergi mandi dan bersiap sholat dhuhur...

Rabu, 19 Oktober 2016

Menanti Mangga jatuh

Hasil gambar untuk gambar pohon mangga dekat sawahHasil gambar untuk gambar pohon mangga dekat sawah
           Angin sepoi2 begitu lembut dan indah menibakkan rambut farida yang tergerai panjang sampai lutut belakang.....Siang itu hari minggu jadi ada waktu untuk berkumpul dan bermain dengan teman sebaya. Usianya baru 7 tahun dan masih duduk dibangku SD kelas 2 tapi sudah menjadi pribadi yang mandiri karena sejak usia 5 tahun sudah dititipkan neneknya di desa, ditinggal orangtua yang bekerja di kota Kabupaten.
        Maklum orang desa tidak begitu memperhatikan metode mengasuh anak. Tetapi pada kenyataannya anak produk jaman dulu lebih shalih daripada anak sekarang yang sudah sangat canggih menerapkan metode pendidikan anak. Termasuk nenek Farida dan Bundanya juga tidak mengerti teori pendidikan anak, sehingga secara alami membiarkan anak melakukan pekerjaan sendiri, seperti ; mandi, makan, cuci piring dan cuci baju sejak umur 5 tahun.
              Selesai cuci piring dan cuci baju, Farida pergi bermain dengan teman2nya. Saat ini adalah musim buah mangga, teman2 Farida mengajak ke pematang sawah , karena di sana banyak pohon mangga di pinggir2 sawah. Sambil bermain juga disuruh menunggui sawah, mengusir burung2 yang makan padi anak2 juga senang karena sambil menunggu mangga jatuh. Biasanya mangga yang lemah gantungannya akan jatuh tertiup angin besar, baik mangga yang masih muda atau yang sudah masak.
             Anak laki-laki bermain "panggal (gangsing), anak perempuan bermain boneka dan masak-masakkan. Permainan tradisional yang masih sangat sederhana, bahkan bonekanyapun dari kain atau daun pisang buatan sendiri. 
 "Bugs !.......suara mangga jatuh tertiup angin kencang. Anak2 berhamburan berlarian ke arah suara jatuhnya mangga, mencoba mencari saling berebut, berlomba cepat dan menemukannya.
"Asyik....aku dapat...." seru Ari kegirangan menemukan mangga masak yang ranum dan harum.
Anak laki2 cenderung lebih sering dapat daripada anak perempuan yang lebih jarang mendapatkan karena kalah cepat larinya.
"Ini loteknya sudah jadi, silahkan dimakan, ya...." Asih menawarkan lotek-lotekan yang dibuat dari daun2 rumput di dekat sawah untuk mainan pada boneka yang dipegang Farida.
"Iya , terimakasih...." Farida menjawab mewakili boneka mainannya.
"Minumnya apa, yah ?" Tanya Asih lagi.
"Es teh aja, lah ...." Jawab Farida
Asih berekting seolah sedang membuat es teh pesanan Farida. Sementara itu Farida menikmati "lotek"nya. 
"Ufs ham....pedesnya,...tapi enak, lho...." Farida mendemontrasikan rasa pedas loteknya.
"Oh, kepedesen, ya....ini es tehnya diminum biar pedasnya sembuh...." Asih menyuguhkan es teh mainan dari daun pisang yang dilipat2.
               Sementara itu anak laki2 bermain gangsing.
"Wah....Rudi menang terus...."Kata Mansur
"Iya, hayo pakai dukun, ya...haha...." Gurau Arman
"Hus, jangan ngawur kamu ! Kalo ngga bisa ngaku aja jangan banyak alasan! Jawab Rudi serius
              Ternnyata tidak terasa sudah masuk waktu Asar, Adzan berkumandang mengundang umat Muslim menunaikan kewajiban.
"Yuk , pulang sudah asdzan, tuh...kita sholat dan nanti berangkat ngaji sekalian, ya..." Farida mengajak teman2nya.
              Sampai Sore hanya mangga satu yang jatuh tapi mereka tetap senang dan bahagia, tidak kecewa apalagi iri pada teman yang mendapatkannya, apalagi mangganya juga di makan ramai2 meski masing2 anak cuma mendapat sepotong kecil. Sungguh persahabatan dan pertemanan yang indah saling berbagi dalam kebersamaan dan keadilan penuh persaudaraan.
  

Minggu, 15 Mei 2016

Menangkap belalang di sawah


Hasil gambar untuk GAMBAR BELALANG DI SAWAH
Hasil gambar untuk GAMBAR BELALANG DI SAWAH          
Saat umur 5 th Farida di kirim ke desa Mlipak di Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap, karena Ustadz Muhammad kembali ditugaskan di kota Kabupaten. Karena Proyek pembangunan jalan Cilacap- Kawunganten sudah usai.  Kalau di ajak ke Cilacap terasa repot dengan 3 anak, dan anak pertama baru berumur 5 th. 
              Neneknya adalah perempuan jawa yang sangat tangguh, memiliki 14 anak, dengan pekerjaan rumah tangga yang padat, masih bekerja di sawah atau di kebun pada masa-masa tertentu, misalnya ; saat musim tanam, "matun ( jawa )" , atau musim panen. Beberapa petak sawah dan tanah di desa dengan beberapa orang pekerja/ buruh tani nenek termasuk orang yang ulet ikut ke sawah meski hanya mengawasi buruh dan menunjukkan lokasi dan padi mana yang mesti dipanen dulu. 
              Farida sangat suka saat ikut nenek ke sawah. Di sana banyak belalang, bahkan bisa sampai ratusan/ ribuan bila musim belalang datang. 
"pyuuur....." segerombolan belalang terbang menghindar saat para pemetik padi mendekati area persawahan.
" Pyak...." Farida berusaha menjaring belalng dengan jaring buatan sendiri yang sudah di bawa dari rumah. Jaring dari plastik kiloan yang diikatkan pada sebilah kayu seperti ketika menangkap kupu2.
" Ah ! ngga kena..." Seambil terus berjalan mengikuti nenek dan sepupunya serta para pekerja pemetik padi melewati pematang sawah.
"Aha...kena, kamu ! Tiba2 Farida berseru gembira karena jaringnya berhasil menangkap seekor belalang sawah yang sedang asyik makan biji padi dia atas pohonnya.
"Oh, kamu dapat, ya...? Aku belum, lho." Sri kakak sepupu Farida melihat kea arah Farida.Nenek Tami senyum2 bahagia menyaksikan cucu2nya bermain penuh tawa ria, bergembira bersama.
              Rombongan pemetik padi sudah agak jauh masuk pematang. Nenek Tami memandang kanan kiri dengan teliti, di sebelah mana padi yang sudah siap panen.
"Bu...., pak....berhenti, di belah sini dulu yang dipetik, nih sudah banyak yang tua." Nenek Tami menunjuk ke arah padi yang sudah kuning matang membuat senang bagi mata yang memandang.
"Njih, mbah..." Hampir serempak para buruh tani menjawab bersamaan. Mereka segera turun dari pematang menuju ke sawah yang sudah menguning tersebut.
            Saat nenek Tami menagwasi para pekerja dan para buruh tani memetik padi, Farida dan Sri asyik lari ke sana kemari mengejar dan menangkap belalang. Hari sudah agak siang adzan dhuhur hampir berkumandanga.
"Bapa2... ibu2....istirahat dulu, mari kita makan siang dulu, nanti kita teruskan setelah sholat dhuhur." Nenek Tami mengajak para pekerja Ishoma ( istirahat, sholat dan makan ).
"Ayo kita makan, tuh sudah dipanggil mbah..." kata bu Dinem mengajak bu Warti. Tanpa menjawab bu Warti langsung mengajak semua temennya.
"Bapak2...ibu2....kita istirahat dulu, mari makan dulu." Katanya.
Farida...Sri...ayu makan cah ayu....nanti pulang...jangan lama2 di sawah nanti kalian sakit."Nenek Tami mekan kedua cucunya dan menyuruh pulang setelah makan tidak boleh sampai sore kewatir cucunya sakit.
              Pak Paiman mengambil tas besar yang berisi 30 "penggel" ( nasi bungkus yang di bungkus daun dengan menu kuliner Jawa ).
"Ndi...penggele, jal bu...aku njaluk telu kiye go sebelah kene." Bu Narti minta 3 bungkus nasi ke teman sebelahnya untuk mengambilkan, bu Ijah. Suasana yang penuh persaudaraan, kebersamaan, nikmat, penuh syukur dengan menikmati menu hidangan kuliner "ndeso" yang     alami, bebas pengawet dan pewarna buatan atau "ayam tiren".
"Farida, yuk kita pulang....nanti diamarahi nenek lho kalau kita nda pulang. " Ajak Sri
" Yuk ! Nih akau dapat belalang banyak, coba lihat punyamu, mba....!" kata Farida.
"Nih...wah...banyak punyaku..daripada punyamu".kata Sri gembira.
" Ya, iya ,lah...kan mba Sri lebih gede darikuku, hehe...." Farida tersenyum meledek kakak sepupunya.
             Sampai di rumah, belanag di bersihkan dan dibumbui lalu digoreng.  Memang di desa jaman dulu 70 an, belalang masih banyak di sawah2 dan oarang2 di desa memanfaatkan sebagai lauk makan atau sekedar cemilan, maka tidak ada yang merasa "jijik", bahakan terasa gurih dan nikmat. Ternyata di man internet saat ini diberdayakan lagi dan menjadi  cemilan/ lauk mewah yang cukup mahal karena berdasarkan penelitian ternyata belalang mengandung protein yang tinggi dan sangat sulit dicari. Hemm.....ternyata  ' keren juga' orang desa, yah ?             
               

Kamis, 12 Mei 2016

Tersengat lebah bunga

                                                                          Hasil gambar untuk gambar lebah di atas bunga
            Bulan ramadhan tiba, seluruh umat Muslim menyambut gembira. Bulan yang penuh berkah, pahala amal kebaikan dilipat gandakan sampai hitungan yang tak bisa ditentukan. Tobat dan pengampunan terbuka lebar bagi yang bertobat dengan sungguh2. Masjid2 dipenuhi umat yang antusias mengisi kegiatan di bulan ramadhan. Ghiroh ibadah makin meningkat, bukan hanya ibadah fardhlu yang diwajibkan saja tetapi ibadah sunnah pun marak dilakukan.
             Farida kecil ikut bergembira menyambut datangnya bulan ramadhan. Dari  shalat Isya sudah   bersiap berjamah trawih , setelah itu dilanjutkan tadarus sampai jam 23.00. Farida hanya sampai jam 21.00 karena pengurus masjid sudah membagi waktu anak2 hanya sampai jam 21.00. Meski usianya masih balita tapi semangat religious nya cukup tinggi, sehingga ikut2an duduk mendengarkan remaja dan orangtua tadarus.
         Beduk dan rebana bertalu2 menyenandungkan nada2 Islami membangunkan umat Muslim untuk makan sahur sebagai sunnah menjalankan ibadah puasa."thek..dug...tek dug...tek...tek...dug...dug...sahur...sahur....bangun...banguuuun...." suara rombongan membangunkan umat.    
"Ustadz....ustadz...mpun saur, dereng, ampun kerinan....sahur ( jawa ; sudah bangun, belum ? jangan kesiangan....sahur...." ) Salah seorang pemimpin rombongan berusaha membangunkan keluarga ustadz Muhammad.
"Nggih, sampun." Nyai Salma menjawab karena beliau memang tidurnya tidak mudah lelap, selalu mudah terjaga, Tidak seperti Ustadz Muhammad yang tidurnya lelap dan terjaga bila mendengar adzan, bahakan untuk makan sahur saja harus dibangunkan oleh istrinya, tidak bangun sendiri.
Bunda Salma melihat ke arah jam diniding di kamarnya ternyata masih jam 02.00.
            Bunda Salma berangkat ke belakang untuk ambil air wudhlu bersiap qiyamul lail, tadarus al-Qur'an , sholat tahajut karena waktu makan sahur masih panjang , apalagi  disunatkan pada akhir waktu. Baru setelah selesai riyadhoh jam 03.30 pergi ke dapur untuk menyiapkan menu makan sahur sekalian membangunkan suami untuk bersiap makan sahur. Jam 04.00 pagi Ustadz Muhammad dan bunda Salma makan sahur dengan menu sederhana tapi sangat qona'ah dan tasyakur, sekedar  itba'  Nabi dan menjalankan sunnah. 
             Jam 04.30 adzan berkumandang dengan syahdu mendayu memanggil kaum muslimin untuk berjamaah shalat subuh di masjid atau menjalankan shalat munfarid  di rumah. Ustadz Muhammad bersiap mengimami jamaah shalat subuh dilanjutkan kultum. Di bulan ramadhan masjid penuh sesak sampai ke serambi , laki2 perempuan berbondong2 berangkat jamaah dan mendengarkan mau'dhoh hasanah. Padahal di bulan2 lain yang berjamaah subuh paling cuma 2 shaf.
Tidak ketinggalan, Farida juga ikut bindanya ke mesjid untuk berjamaah subuh dan mengikuti tausiyah Ustadz Muhammad.
               Kebiasaan anak2 ketika bulan ramadhan setelah jamaah shalat subuh di masjid mereka ramai2 jalan2  pagi. Farida ikut teman2nya yang lebih besar darinya. Jalan2 sambil memungut buah2ah yang berjatuhan di pinggir2  jalan dari pohon2 yang di tanam para penduduk sebagai penyejuk jalan.
"Asyik...aku dapat mangga matang..." Seru Sri kakak sepupu Farida. Rombongan anak2pun kembali meneruskan perjalanan.
"Eh, aku dapat belimbing, nih...." Saodah menemukan buah belimbing masak di dekat pohonnya.
Setelah beberapa meter berjalan.....
"Alhamdulillah....aku dapat sawo, nih..." Farida menunjukkan buah sawo di tanganya pada Sri kakak sepupunya.
Tapi tiba2 tangan dan pipi Farida terasa  nyeri dan pegal2...
"Ih, aku koq gatal banget, ya...." katanya lirih.
"Coba, aku lihat..." Sri mendekat ke arah Farida.
"Hah ? Hii....takut, tuh ada tawon di lenganmu,..." Sri menunjuk ke arah Tawon yang sedang hinggap di lengan Farida.
"Oh, cuma tawon bunga, nda bahaya....ayo kita cari bunga di sekitar sini buat nyembuhin..." Budi salah satu teman jalan2 yang sudah duduk di kelas 2 SD tahu jenis tawon tersebut.
"Nah, ini ada bunga...Lely menemukan bunga liar di dekat jalan.
"Sini, aku gosokin ke tanganmu ..." Budi meminta bunga itu dan menggosok2an ke tangan Farida.
            Rombongan anak2pun beranjak pulang untuk mandi dan bersiap ke sekolah bagi yang sudah sekolah. Buah2an yang ditemukan di jalan disimpan di lemeri makan untuk di makan saat berbuka nanti sore.

Rabu, 27 April 2016

MENELAN BIJI GABAH


        Siang itu panas matahari terasa sangat terik, para petani produsen yang sedang menjemur padi hasil panen maupun hasil ' mbawon' para buruh tani merasa senang karena jemurannya bisa kering tanpa harus berkali2 angkat junjung memindah berulang2 karena gerimis atau  hujan datang di tengah2 masa menjemur padi. Demikian pula Eyang Tami, nenek Farida dari pihak ayahnya. Jemuran padinya tampak sudah kering dan siap diangkat untuk kembali disimpan di 'lumbung' padi keluarga.
       Beberapa pekerja yang membantu Beliau hilir mudik untuk mengemas dan memasukkan padi ke lumbung, ada yang laki2 dan ada pula yang perempuan. Nyai Salma bunda Farida adalah wanita ulet dan tangguh yang tidak suka berpangku tangan ,duduk manis bagai ratu yang mulia. Apalagi di rumah mertuanya. Memang untuk beberapa bulan Ustadz Muhammad menitipkan keluarganya  karena sedang panen di desa supaya istrinya membantu sibuknya musim panen. Disamping itu Eyang Tami sebagai ibu yang baik juga selalu memanggil Nyai Salma untuk ikut mengawasi dan mengatur para pekerja buruh tani yang " mbawon" pada  musim petik padi atau jagung, karena Eyang Tami tergolong orang kaya dengan sawah dan ladang yang luas.
             Masing-masing orang sibuk dengan pekerjaannya sendiri-sendiri, Bu Salma asyik menunjukkan tempat penyimpanan padi yang sudah kering dan tempat menjemur padi yang masih basah. Tiba-tiba ....
"huwek...huwek...." suara balita berusaha memuntahkan isi mulutnya.
"Masya, Alloh...kenapa kamu Farida ?" Tanya Sri kakak sepupu perempuan Farida.
Farida tdak menjawab hanya sibuk berusaha mengeluarkan isi tenggorokannya. Spontan Nyai Salma berlari ke arah Farida.....
"Ada apa ? Coba lihat....a' , ayo...." Nyai Salma meminta putri mungilnya untuk membuka mulut lebar2.
" Ya, Alloh....tenggorokanmu berdarah...coba ghe...gher...keluarin, nak yang di tenggorokan, ada biji ' gabah' , tuh...." Nyai Salma membantu Farida mengeluarkan benda kecil'sebutir biji padi' dari mulut Farida sambil berdoa dan merasa was2 .
          Dalam hati dan pikiran  Farida yang lugu dan masih balita bertanya-tanya merasa kewatir, ' Apa aku mau mati, ya, kalau biji padi ini nda keluar, koq semua orang panik ?" batin Farida.
"Alhamdulillah....berhasil keluar, nak, nak...kenapa kamu makan 'gabah' ? Untung sudah keluar." Nyai Salma merasa lega, dan plong.
"Lain kali jangan diulangi, y , nak..." Kata Nyai Salma menasehati.
"Nggih..." Jawab Farida lirih sambil mengangguk.
                Dalam hati mungilnya bergumam dan heran. "Kan, aku tadi nda bermaksud makan biji padi tapi maksudku aku ikut2an mba Sri "nyisil- jawa". Nyisil adalah kebiasaan anak2 remaja desa bila musim panen padi tiba, untuk memakan biji beras dari batangnya sehabis di panen atau dijemur dengan cara mengupas langsung dengan gigi di dalam mulutnya.
         Ini adalah kenangan yang menegangkan bagi Farida kecil yang teringat sampai dewasa. Bersyukur  bisa melewati bahaya tersebut.