Rabu, 19 Oktober 2016

Menanti Mangga jatuh

Hasil gambar untuk gambar pohon mangga dekat sawahHasil gambar untuk gambar pohon mangga dekat sawah
           Angin sepoi2 begitu lembut dan indah menibakkan rambut farida yang tergerai panjang sampai lutut belakang.....Siang itu hari minggu jadi ada waktu untuk berkumpul dan bermain dengan teman sebaya. Usianya baru 7 tahun dan masih duduk dibangku SD kelas 2 tapi sudah menjadi pribadi yang mandiri karena sejak usia 5 tahun sudah dititipkan neneknya di desa, ditinggal orangtua yang bekerja di kota Kabupaten.
        Maklum orang desa tidak begitu memperhatikan metode mengasuh anak. Tetapi pada kenyataannya anak produk jaman dulu lebih shalih daripada anak sekarang yang sudah sangat canggih menerapkan metode pendidikan anak. Termasuk nenek Farida dan Bundanya juga tidak mengerti teori pendidikan anak, sehingga secara alami membiarkan anak melakukan pekerjaan sendiri, seperti ; mandi, makan, cuci piring dan cuci baju sejak umur 5 tahun.
              Selesai cuci piring dan cuci baju, Farida pergi bermain dengan teman2nya. Saat ini adalah musim buah mangga, teman2 Farida mengajak ke pematang sawah , karena di sana banyak pohon mangga di pinggir2 sawah. Sambil bermain juga disuruh menunggui sawah, mengusir burung2 yang makan padi anak2 juga senang karena sambil menunggu mangga jatuh. Biasanya mangga yang lemah gantungannya akan jatuh tertiup angin besar, baik mangga yang masih muda atau yang sudah masak.
             Anak laki-laki bermain "panggal (gangsing), anak perempuan bermain boneka dan masak-masakkan. Permainan tradisional yang masih sangat sederhana, bahkan bonekanyapun dari kain atau daun pisang buatan sendiri. 
 "Bugs !.......suara mangga jatuh tertiup angin kencang. Anak2 berhamburan berlarian ke arah suara jatuhnya mangga, mencoba mencari saling berebut, berlomba cepat dan menemukannya.
"Asyik....aku dapat...." seru Ari kegirangan menemukan mangga masak yang ranum dan harum.
Anak laki2 cenderung lebih sering dapat daripada anak perempuan yang lebih jarang mendapatkan karena kalah cepat larinya.
"Ini loteknya sudah jadi, silahkan dimakan, ya...." Asih menawarkan lotek-lotekan yang dibuat dari daun2 rumput di dekat sawah untuk mainan pada boneka yang dipegang Farida.
"Iya , terimakasih...." Farida menjawab mewakili boneka mainannya.
"Minumnya apa, yah ?" Tanya Asih lagi.
"Es teh aja, lah ...." Jawab Farida
Asih berekting seolah sedang membuat es teh pesanan Farida. Sementara itu Farida menikmati "lotek"nya. 
"Ufs ham....pedesnya,...tapi enak, lho...." Farida mendemontrasikan rasa pedas loteknya.
"Oh, kepedesen, ya....ini es tehnya diminum biar pedasnya sembuh...." Asih menyuguhkan es teh mainan dari daun pisang yang dilipat2.
               Sementara itu anak laki2 bermain gangsing.
"Wah....Rudi menang terus...."Kata Mansur
"Iya, hayo pakai dukun, ya...haha...." Gurau Arman
"Hus, jangan ngawur kamu ! Kalo ngga bisa ngaku aja jangan banyak alasan! Jawab Rudi serius
              Ternnyata tidak terasa sudah masuk waktu Asar, Adzan berkumandang mengundang umat Muslim menunaikan kewajiban.
"Yuk , pulang sudah asdzan, tuh...kita sholat dan nanti berangkat ngaji sekalian, ya..." Farida mengajak teman2nya.
              Sampai Sore hanya mangga satu yang jatuh tapi mereka tetap senang dan bahagia, tidak kecewa apalagi iri pada teman yang mendapatkannya, apalagi mangganya juga di makan ramai2 meski masing2 anak cuma mendapat sepotong kecil. Sungguh persahabatan dan pertemanan yang indah saling berbagi dalam kebersamaan dan keadilan penuh persaudaraan.