Minggu, 15 Mei 2016

Menangkap belalang di sawah


Hasil gambar untuk GAMBAR BELALANG DI SAWAH
Hasil gambar untuk GAMBAR BELALANG DI SAWAH          
Saat umur 5 th Farida di kirim ke desa Mlipak di Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap, karena Ustadz Muhammad kembali ditugaskan di kota Kabupaten. Karena Proyek pembangunan jalan Cilacap- Kawunganten sudah usai.  Kalau di ajak ke Cilacap terasa repot dengan 3 anak, dan anak pertama baru berumur 5 th. 
              Neneknya adalah perempuan jawa yang sangat tangguh, memiliki 14 anak, dengan pekerjaan rumah tangga yang padat, masih bekerja di sawah atau di kebun pada masa-masa tertentu, misalnya ; saat musim tanam, "matun ( jawa )" , atau musim panen. Beberapa petak sawah dan tanah di desa dengan beberapa orang pekerja/ buruh tani nenek termasuk orang yang ulet ikut ke sawah meski hanya mengawasi buruh dan menunjukkan lokasi dan padi mana yang mesti dipanen dulu. 
              Farida sangat suka saat ikut nenek ke sawah. Di sana banyak belalang, bahkan bisa sampai ratusan/ ribuan bila musim belalang datang. 
"pyuuur....." segerombolan belalang terbang menghindar saat para pemetik padi mendekati area persawahan.
" Pyak...." Farida berusaha menjaring belalng dengan jaring buatan sendiri yang sudah di bawa dari rumah. Jaring dari plastik kiloan yang diikatkan pada sebilah kayu seperti ketika menangkap kupu2.
" Ah ! ngga kena..." Seambil terus berjalan mengikuti nenek dan sepupunya serta para pekerja pemetik padi melewati pematang sawah.
"Aha...kena, kamu ! Tiba2 Farida berseru gembira karena jaringnya berhasil menangkap seekor belalang sawah yang sedang asyik makan biji padi dia atas pohonnya.
"Oh, kamu dapat, ya...? Aku belum, lho." Sri kakak sepupu Farida melihat kea arah Farida.Nenek Tami senyum2 bahagia menyaksikan cucu2nya bermain penuh tawa ria, bergembira bersama.
              Rombongan pemetik padi sudah agak jauh masuk pematang. Nenek Tami memandang kanan kiri dengan teliti, di sebelah mana padi yang sudah siap panen.
"Bu...., pak....berhenti, di belah sini dulu yang dipetik, nih sudah banyak yang tua." Nenek Tami menunjuk ke arah padi yang sudah kuning matang membuat senang bagi mata yang memandang.
"Njih, mbah..." Hampir serempak para buruh tani menjawab bersamaan. Mereka segera turun dari pematang menuju ke sawah yang sudah menguning tersebut.
            Saat nenek Tami menagwasi para pekerja dan para buruh tani memetik padi, Farida dan Sri asyik lari ke sana kemari mengejar dan menangkap belalang. Hari sudah agak siang adzan dhuhur hampir berkumandanga.
"Bapa2... ibu2....istirahat dulu, mari kita makan siang dulu, nanti kita teruskan setelah sholat dhuhur." Nenek Tami mengajak para pekerja Ishoma ( istirahat, sholat dan makan ).
"Ayo kita makan, tuh sudah dipanggil mbah..." kata bu Dinem mengajak bu Warti. Tanpa menjawab bu Warti langsung mengajak semua temennya.
"Bapak2...ibu2....kita istirahat dulu, mari makan dulu." Katanya.
Farida...Sri...ayu makan cah ayu....nanti pulang...jangan lama2 di sawah nanti kalian sakit."Nenek Tami mekan kedua cucunya dan menyuruh pulang setelah makan tidak boleh sampai sore kewatir cucunya sakit.
              Pak Paiman mengambil tas besar yang berisi 30 "penggel" ( nasi bungkus yang di bungkus daun dengan menu kuliner Jawa ).
"Ndi...penggele, jal bu...aku njaluk telu kiye go sebelah kene." Bu Narti minta 3 bungkus nasi ke teman sebelahnya untuk mengambilkan, bu Ijah. Suasana yang penuh persaudaraan, kebersamaan, nikmat, penuh syukur dengan menikmati menu hidangan kuliner "ndeso" yang     alami, bebas pengawet dan pewarna buatan atau "ayam tiren".
"Farida, yuk kita pulang....nanti diamarahi nenek lho kalau kita nda pulang. " Ajak Sri
" Yuk ! Nih akau dapat belalang banyak, coba lihat punyamu, mba....!" kata Farida.
"Nih...wah...banyak punyaku..daripada punyamu".kata Sri gembira.
" Ya, iya ,lah...kan mba Sri lebih gede darikuku, hehe...." Farida tersenyum meledek kakak sepupunya.
             Sampai di rumah, belanag di bersihkan dan dibumbui lalu digoreng.  Memang di desa jaman dulu 70 an, belalang masih banyak di sawah2 dan oarang2 di desa memanfaatkan sebagai lauk makan atau sekedar cemilan, maka tidak ada yang merasa "jijik", bahakan terasa gurih dan nikmat. Ternyata di man internet saat ini diberdayakan lagi dan menjadi  cemilan/ lauk mewah yang cukup mahal karena berdasarkan penelitian ternyata belalang mengandung protein yang tinggi dan sangat sulit dicari. Hemm.....ternyata  ' keren juga' orang desa, yah ?             
               

Kamis, 12 Mei 2016

Tersengat lebah bunga

                                                                          Hasil gambar untuk gambar lebah di atas bunga
            Bulan ramadhan tiba, seluruh umat Muslim menyambut gembira. Bulan yang penuh berkah, pahala amal kebaikan dilipat gandakan sampai hitungan yang tak bisa ditentukan. Tobat dan pengampunan terbuka lebar bagi yang bertobat dengan sungguh2. Masjid2 dipenuhi umat yang antusias mengisi kegiatan di bulan ramadhan. Ghiroh ibadah makin meningkat, bukan hanya ibadah fardhlu yang diwajibkan saja tetapi ibadah sunnah pun marak dilakukan.
             Farida kecil ikut bergembira menyambut datangnya bulan ramadhan. Dari  shalat Isya sudah   bersiap berjamah trawih , setelah itu dilanjutkan tadarus sampai jam 23.00. Farida hanya sampai jam 21.00 karena pengurus masjid sudah membagi waktu anak2 hanya sampai jam 21.00. Meski usianya masih balita tapi semangat religious nya cukup tinggi, sehingga ikut2an duduk mendengarkan remaja dan orangtua tadarus.
         Beduk dan rebana bertalu2 menyenandungkan nada2 Islami membangunkan umat Muslim untuk makan sahur sebagai sunnah menjalankan ibadah puasa."thek..dug...tek dug...tek...tek...dug...dug...sahur...sahur....bangun...banguuuun...." suara rombongan membangunkan umat.    
"Ustadz....ustadz...mpun saur, dereng, ampun kerinan....sahur ( jawa ; sudah bangun, belum ? jangan kesiangan....sahur...." ) Salah seorang pemimpin rombongan berusaha membangunkan keluarga ustadz Muhammad.
"Nggih, sampun." Nyai Salma menjawab karena beliau memang tidurnya tidak mudah lelap, selalu mudah terjaga, Tidak seperti Ustadz Muhammad yang tidurnya lelap dan terjaga bila mendengar adzan, bahakan untuk makan sahur saja harus dibangunkan oleh istrinya, tidak bangun sendiri.
Bunda Salma melihat ke arah jam diniding di kamarnya ternyata masih jam 02.00.
            Bunda Salma berangkat ke belakang untuk ambil air wudhlu bersiap qiyamul lail, tadarus al-Qur'an , sholat tahajut karena waktu makan sahur masih panjang , apalagi  disunatkan pada akhir waktu. Baru setelah selesai riyadhoh jam 03.30 pergi ke dapur untuk menyiapkan menu makan sahur sekalian membangunkan suami untuk bersiap makan sahur. Jam 04.00 pagi Ustadz Muhammad dan bunda Salma makan sahur dengan menu sederhana tapi sangat qona'ah dan tasyakur, sekedar  itba'  Nabi dan menjalankan sunnah. 
             Jam 04.30 adzan berkumandang dengan syahdu mendayu memanggil kaum muslimin untuk berjamaah shalat subuh di masjid atau menjalankan shalat munfarid  di rumah. Ustadz Muhammad bersiap mengimami jamaah shalat subuh dilanjutkan kultum. Di bulan ramadhan masjid penuh sesak sampai ke serambi , laki2 perempuan berbondong2 berangkat jamaah dan mendengarkan mau'dhoh hasanah. Padahal di bulan2 lain yang berjamaah subuh paling cuma 2 shaf.
Tidak ketinggalan, Farida juga ikut bindanya ke mesjid untuk berjamaah subuh dan mengikuti tausiyah Ustadz Muhammad.
               Kebiasaan anak2 ketika bulan ramadhan setelah jamaah shalat subuh di masjid mereka ramai2 jalan2  pagi. Farida ikut teman2nya yang lebih besar darinya. Jalan2 sambil memungut buah2ah yang berjatuhan di pinggir2  jalan dari pohon2 yang di tanam para penduduk sebagai penyejuk jalan.
"Asyik...aku dapat mangga matang..." Seru Sri kakak sepupu Farida. Rombongan anak2pun kembali meneruskan perjalanan.
"Eh, aku dapat belimbing, nih...." Saodah menemukan buah belimbing masak di dekat pohonnya.
Setelah beberapa meter berjalan.....
"Alhamdulillah....aku dapat sawo, nih..." Farida menunjukkan buah sawo di tanganya pada Sri kakak sepupunya.
Tapi tiba2 tangan dan pipi Farida terasa  nyeri dan pegal2...
"Ih, aku koq gatal banget, ya...." katanya lirih.
"Coba, aku lihat..." Sri mendekat ke arah Farida.
"Hah ? Hii....takut, tuh ada tawon di lenganmu,..." Sri menunjuk ke arah Tawon yang sedang hinggap di lengan Farida.
"Oh, cuma tawon bunga, nda bahaya....ayo kita cari bunga di sekitar sini buat nyembuhin..." Budi salah satu teman jalan2 yang sudah duduk di kelas 2 SD tahu jenis tawon tersebut.
"Nah, ini ada bunga...Lely menemukan bunga liar di dekat jalan.
"Sini, aku gosokin ke tanganmu ..." Budi meminta bunga itu dan menggosok2an ke tangan Farida.
            Rombongan anak2pun beranjak pulang untuk mandi dan bersiap ke sekolah bagi yang sudah sekolah. Buah2an yang ditemukan di jalan disimpan di lemeri makan untuk di makan saat berbuka nanti sore.