Sabtu, 13 September 2014

MENGENCINGI OM



         Sore itu keluarga Ustadz Muhammad sibuk berbenah awal karena nanti malam ada pertunjukan layar tancap di pasar kubangkangkung. Masyarakat menyambut gembira pertunjukan layar tancap yang hanya diselenggarakan pada moment2 tertentu, tidak mesti bisa sewaktu2, bahkan bisa hanya 1x dalam setahun. Termasuk beberapa anggota keluarga Untadz Muhamad. 
        Untuk sampai ke lokasi jaraknya kurang lebih 5 kilometer dari dusun bojong menuju pasar kubangkangkung. Masyarakat ramai beriring2an berjalan kaki menuju pasar. Dengan 'sempor ' / obor bambu ( jawa ) mereka mengajak sanak keluarganya beramai2 menuju pertunjukannya. Termasuk Farida juga diajak oleh bundanya. Mereka berangkat bersama, bu lik, pak lik, keponakan berjalan kaki sejauh 5 kilometer.
         Farida sendiri tidak tahu film apa yang akan diputar, bahkan sampai saat ini tidak bisa mengingatnya. Farida juga tidak tahu mengapa mereka beramai2 nonton film sejauh itu. Farida juga tidak tahu apakah mereka capai atau tidak. Yang diingat hanya, pada malam itu bersama menyusuri hutan jati, padang ilalang dan lewat dipinggir jalan kereta api jauuhhh sekali, dalam gelap dan sepi diiringi bunyi hewan2 hutan, jangkrik dan burung hutan. Farida juga ingat keluarganya begitu gembira, bercerita dan bersendau gurau penuh keakraban sepanjang perjalanan sampai ke tujuan. Tiba2 pak lik Sawon berbalik memanggil bunda Farida.
"Tuh, mba adikmu sedang 'mborong' jajan.'" pak lik bermaksud memberitahu bunda Salma untuk menegur adiknya supaya tidak boros. Ternyata bu lik Ane berbarengan dengan penjual jajan yg hendak berjualan di pertunjukan layar tancap, dan di borong jajanannya di tengah jalan sebelum sampai lokasi.
"Iya, emang istrimu itu hobi banget jajan, di mana2 tetap jajan, lha wong gelap2 begini koq ya, 'kober2nya beli jajan." Bunda Salma menimpali samapil berbalik menuju bu Lik Anem 
"Soal jajan sih nda apa2 bu de, asal secukupnya aja, borosnya itu lho yang yang ketulungan, coba lihat aja pasti nanti diborong semua tuh jajannya." Pak lik menambahkan.
"Sudah, yuk....cukup, jangan banyak2, nanti malah nda habis, siapa yang mau makan jajan sebanyak itu ?" Bunda Salma mengajak bu Lik jalan lagi.
Memang bu Lik Ane terkenal boros dan tidak perhitungan. Pernah waktu masih duduk di kelas 4 SR (sekolah rakyat ) mengambil uang ayahnya rp.1,- untuk mborong jajan dan dibagi2kan untuk teman sekelasnya.
             Sampai selesai film diputar Farida tidak mengerti apa yang ditonton, entah film apa. Segenap keluarga beranjak pulang. Dari stasiun kubangkangkung menyusuri pinggiran rel berjalan bersama, karena sudah makin gelap Faridapun di 'ingkling' (duduk diatas pundak) oleh pamannya, yang adik ipar bundanya.
         Baru 1 kilo meter dari stasiun, tiba2 Farida kepengin 'pipis'. Gelap, dingin dan sepi. Sungguh suasana yang menakutkan bagi anak2. Tapi Farida yang baru berusia 3 tahun tidak merasa takut. Justru saat ini dia hanya merasa bingung, hatinya bercakap2 sendiri.
"Aku kepengin pipis tapi aku malu mengutarakan pada pak lik.' batinnya yang pemalu.
"Ah,aku tahan ajalah sampai rumah, ntar aja pipis di rumah.' jawab hatinya lagi
          Semua yang dewasa berjalan sambil sesekali bercerita isi film yang diputar tadi, tapi tidak seramai saat berangkat. Mungkin karena sudah malam, mereka lelah dan ngantuk. 
"Lho...apa ini ?" Tiba2 Pak Lik Sawon berteriak kecil karena kaget, ada sesuatu yang hangat mengalir dari pundak ke arah dada dan perutnya.
"Kenapa, pak lik ?" Bunda Salma bertanya.
"Nda tahu bu de, apa Farida pipis, ya ?" Jawab pak lik
"Farida, kamu pipis ?" bunda Salma bertanya pada Farida. Mereka berhenti sejenak untuk memastikan apakah Farida kencing atau tidak.
"Coba turun sebentar, lihat celanamu..." Pak lik menurunkan Farida dari pundaknya.
"Oh...bener kamu pipis to, nak, koq nda bilang, to ?" Bunda Salma memeriksa celana Farida. Semua tertwa menertawakan pak Lik
"Kapok pak lik, dikencingi tuh sama keonakannya ."Bunda Salma tertawa kecil sambil bergurau. Semua anggota keluarga tertawa ramai menyaksikan kejadian lucu ini, memecah kesunyian malam.....Merekapun melanjutkan perjalanan untuk pulang.
          Farida hanya diam, saat di tanya mengapa kencing tidak bilang2. Tapi sebenarnya di hatinya yang paling dalam dia sangat menyesal dan maluuuuuu banget. Farida tidak mau bilang kepengin pipis karena malu pada semua orang, bila pipis di tengah perjalanan dan malu pada pak liknya, sehingga dia memilih menahan pipis karena dalam pikiran mungilnya akan bisa menahan sampai rumah, tapi malah kencing di pundak pak liknya, aduuuhhh lebih maluuu...dech. 'Kalau tahu begini dari tadi aku bilang biar nda bikin malu ngencingi pak lik' batin kecilnya sibuk menjelaskan mengapa dia tidak bilang kebelet pipis dan betapa malunya dia. Betapa ingin mulut mungilnya menjelaskan ini dan meminta maaf yang sedalam2nya pada semuanya, terutama pada pak lik tercinta yang sudah memanggul pulang balik perjalanan. 
        Sayang sekali pak liknya tidak berumur panjang, Beliau meninggal saat Farida masih balita atau anak2, Farida sendiri belum ingat betul kejadian tersebut, sehingga tidak sempat meminta maaf, karena masih kecil. Seandainya sampai dewasa pak Liknya masih hidup pasti dia akan meminta maaf. Meskipun begitu pak Liknya pasti meamafkannya karena usianya baru 3 tahun, belum pantas dianggap bersalah atas perbuatannta. Inilah barangkali yang bisa jadi pembelajaran buat kita untuk tidak menvonis nakal pada perbuatan anak2 yang terkadang menjengkelkan, tapi sebenarnya mereka bermaksud baik dan tidak disengaja.
Cilacap, ahad legi, 14 september 2014

Jumat, 22 Agustus 2014

DIKENCINGI OM


       Seperti biasanya jam 03.30 Bunda Salma bangun untuk memasak dan mengurus segala keperluan rumah tangga setelah sholat subuh. Ustadz Muhammad bersiap berangkat kerja mengawasi para 'kuli' pembangunan jalan Cilacap-kawunganten. Tetapi hari ini agak berbeda dengan hari2 biasanya. Biasanya setiap pagi setelah bunda Salma memasak untuk sarapan pagi langsung mengajak kedua anaknya untuk mencuci baju sekaligus memandikan mereka di sumur dekat pematang sawah di dataran rendah dekat rumah. Maklum tanah di desa kubangkangkung masih berbukit2. Demikian juga rumah bunda Salma yang terletak di dataran tinggi tetapi sumurnya di dataran rendah. Perlu waktu 30 menit untuk sampai ke sumur, karena jarak 1 kilo meter turun terjal dari dataran tinggi rumahnya, baru 1 kilometer kemudian menapaki jalan landai menuju sumur dekat pematang sawah.
        Tetapi hari ini kemenakan bunda Salma datang dari Kroya berkunjung dan menginap beberapa hari. Farida tidak mengerti untuk apa dia datang, apakah hanya silaturahmi biasa atau ada keperluan lain. Yang dia ingat hanya saat omnya mandi bersama di sumur.
         Pagi yang cerah, matahari baru terlihat samar2 di balik rerimbunan pohon jati di sekitar perkebunan. Ya di desa ini memang dijadikan area kebun jati oleh para pemilik tanah pribadi seperti kakek Farida yang memiliki tanah beberapa hektar. Disamping itu pemerintah kabupaten Cilacap juga memiliki kebun karet yang berhektar2 sampai sekarang.
"Farida....uji...ayo ikut pak lik mandi !" ajak Naslam pada kedua kemenakannya.
"Yuk...!" Farida menggandeng tangan Uji adik lelakinya sambil menganggukan kepalanya. Meski baru pertama kali mereka bertemu pak liknya tetapi tidak merasa sungkan karena pak liknya sangat ramah dan dekat dengan anak2. Memang belum menikah tetapi sudah mudah memahami anak2.
        Sekarang sedang musim hujan, jlan menuju sumur menurun dan licin.
"Ayo hati2 jalannya..." Naslam mengingatkan kemenakannya sambil tersenyum lebar
Farida bergandengan tangan dengan adiknya, usia Farida baru 4  tahun, sedangkan adiknya baru berumur 2 tahun saat itu. 
"Aduh...." Tiba2 Farida mengaduh lirih,ternyata terpeleset dan langsung dipegangi pak liknya supaya tidak terjatuh. Lalu mereka bertiga kembali menapaki jalan setapak yang hanya cukup untuk dua telapak kaki untuk menuruni bukit menuju sumur. Farida dan Uji berjalan setengah jongkok sambil berpegangan tanah/ tumbuh2an disekitar jalan takut terpeleset. Coba bagaimana jadinya bila terpeleset ? Tentu akan terguling sejauh 1 kilometer dari atas tebing ke bawah.
       Jalan menurun sudah dilalui, dilanjutkan melalui jalan rata ditengah2 kebun jagung untuk sampai ke sumur. Pohon jangung yang mulai berbuah dan sebagian masih berbunga menjadikan rasa indah dan sejuk bagi orang2 yang melintasinya. Tentu saja bila pagi sampai siang, lain lagi jika malam hari pasti akan menakutkan jalan sendirian di tengah kebun jagung dan jati dalam kegelapan malam yang diiringi bunyi hewan2 hutan, seperti burung hantu, auman harimau, atau lolongan anjing hutan. Yah, suasana grumbul Bojong desa Kubangkangkung kecamatan Kawunganten kabupaten Cilacap tahun 1969 masih hutan lindung yang alami dan seram.
       Sampailah di sumur, pak lik Naslam mencuci baju2 dan celana kotornya karena nanti siang akan ulang kembali ke desanya Danasri lor, kroya dengan naik kereta api karena belum ada bis, maklum jalannya belum selesai dibangun. Farida dan Uji asyik bermain air sabun cucian pak liknya.
Karena sudah selesai mencuci pak liknya pun, bersiap memandikan kedua keponakannya.
" Farida, uji, sini nak mandi !"
" Ya..." Farida dan Uji bergegas mendekat ke pak liknya
" Masya Alloh....koq badanmu kurus amat, ji...." Naslam kaget saat membuka baju Uji ternyata berbadan kurus. Memang sejak lahir Uji tidak semontok Farida. Apalagi di pegunungan seperti itu tidak ada serelak atau susu formula seperti sekarang.
" Sini, aku kencingi kalian biar cepet besar !" Kata Naslam.
" Jongkok sini !" Naslam menarik tangan Uji dan Farida menyuruh jongkok di dekatnya supaya mudah dikencingi. Ha...ha...entah mitos dari mana pada jaman dulu, orang Jawa memiliki keyakinan apabila ada anak2 yang pertumbuhannya kurang baik, akan cepat sehat dan besar bila dikencingi. Anehnya Uji menurut, jongkok dan benar2  dikencingi pak liknya. Berbeda dengan Farida, karena kecerdasannya Farida menolak dan lari. Dalam hatinya berkata, 'air kencing kan bau dan jijik, buat apa aku mau dikencingi'. He..he...lucu juga Farida lari kecil pak Liknya mengejar sambil telanjang celana. Meskipun kedua keponakannya sama sekali tidak ingat seperti apa bentuknya saat itu dan porno atau tidak karena masih amat kecil, yang jelas saat ini sangat lucu bila mengingatnya.
"Lho, koq kamu lari Farida....nanti kamu nda gede-gede, lho." Kata Naslam sambil menutup celananya.
 Saat ini kepikir juga, apa iya, ya...aku bertubuh mungil karena dulu waktu kecil nda mau dikencingi pak lik ? He...he...
          Selesai sudah cucian dan mandi paginya. Pulang kembali menapaki jalan setapak. Saat ini terbalik, bukan menurun tapi menanjak naik 1 kilo meter. Kalau waktu berangkat Farida dan Uji kecil agak jongkok  sambil berpegangan tanah supaya tidak terguling ke bawah, kali ini agak merangkak naik berpegangan tanah supaya tidak jatuh.
Sampai di halaman rumah pak Lik Naslam menjemur cuciannya, Farida dan Uji segera mencari Bundanya untuk sarapan pagi bersama.
Cilacap, jumat pon 22 Agustus 2014M/ 24 syawal 1435 H.

Minggu, 17 Agustus 2014

lahirnya adik pertamaku



          Pagi itu rumah Keluarga Muhamad tampak hitmad, karena para anggota keluarga sedang menanti kehadiran anggota baru, adik Farida, anak kedua bunda Salma akan lahir menambah keramaian keluarga. Mbah Dukun dan para anggota keluarga telah siap2. Eyang Samina, bunda dari bunda Salma tampak sibuk mengatur orang2 yang hadir.
"Mad, kamu di sini saja, dekat Salma jangan jauh2, bantu Salma dengan doa dan berikan semangat biar lancar melahirkan..." Kata Beliau
"Njih, bu...." Ustadz Muhammad menganggukan kepalanya."Ini mbah 'uborampe ( peralatan-jawa ) buat si jabang bayi...." Eyang Mina menyodorkan seperangkat alat persiapan menerima bayi lahir. Dari mulai 'bokor ( bejana-jawa ) tempat air untuk mandi bayi, handuk kecil, minyak telon, popok,grita dll.
"Farida...sana keluar nak, main sama teman2mu, ra 'ilok' anak kecil melihat orang melahirkan." Bunda Salma masih sempat menyuruh putri kecilnya keluar kamar, karena akan berpengaruh bagi psikologis anak kalau menyaksikan orang melehirkan. Baik karena melihat darah yang cukup banyak maupun proses melahirkan yang sangat berat serta melihat aurat bundanya sendiri.
         Farida kecil hanya menurut dan tak luput memperhatikan para tingkah orang2 disekitarnya sambil ikut diam dan merekam kejadian2 dalam memory otak mungilnya. Dalam hati mungilnya terbersit rasa senang dan bahagia akan mempunyai adik, teman bermain yang akan disayangi dan dibimbing sepanjang hari2nya kelak.
           Sudah beberapa jam belum lahir juga. Karena sudah agak siang Ustadz Muhamad beranjak akan makan pagi setengah siang karena sudah jam 10 dan dari tadi pagi belum makan pagi. Tidak lupa melengkapi menu lauknya yang unik yaitu cabai hijau bakar tungku 'pawon'. Inilah barangkali yang kelak setelah dewasa Farida jadi suka makan cabai hijau bakar/ goreng untuk lauk barangkali turunan dari ayahnya. Karena kata bundanya dulu saat Farida dalam kandungan, ayahandanya suka sekali menu ini. Sebenarnya bukan cabai hijau bakarnya yang disukai, awalnya hanya suka cabai rawit hijau segar untuk  'cigit' ( makan cabai 1-2 butir pelengkap makan ) petik langsung dari pohon di kebun, tapi terkadang cabai rawit masih muda2, maka memetik cabai merah karena masih muda juga maka dibakar untuk menghilangkan bau 'langu' ( bau cabai hijau yang masih muda ). Hal ini dikatakan beliau saat Farida dewasa mendengar Bundanya mengatakan kebiasaan ayahandanya. Farida dewasa hanya berkata dalam batin,pantes aja aku kalau lihat cabai rawit muda atau cabai besar yang masih hijau bawaannya pengin makan / 'cigit' ternyata menurun dari kebiasaan ayahku.
          Baru saja beberapa suap makan,tiba2....
"Mad...ayo sini, nie cabang bayinya mau keluar..." Eyang Samina memanggil.
"Njih, Mbah....Ustadz Muhamad meletakkan piring, membersihkan tangan dan buru2 menuju kamar tempat istrinya melahirkan.
" oe...oe....pada hari kamis pahing 31 Desember 1971 seorang bayi laki2 lahir selamat, sehat, tidak cacat sedikitpun. Baru 2 tahun menikah Ustad Muhamad sudah dikaruniai 2 orang anak. Senin pon 27 Oktober 1969/ 15 syaban lahir Tuti Munfarida ( Farida ). Dan saat ini putra keduanya.
"Alhamdulillah....serentak yang hadir memuji kebesaran Alloh yang telah membuat semuanya lancar dengan karunia yang tiada terhingga ini. 
"Allohu Akbar2 ...la ilaha illalloh...Ustadz Muhammad mengumandangkan adzan di telingan kanan dan iqomah di telinga kiri si jabang bayi, anak keduanya.
        Seperti saat Farida lahir seminggu kemudian diadakan ritual pemberian nama dengan 'kenduri' mengundang warga sekitar, membaca sholawat al barzanji dan kalimat2 toyibah. Nama anak keduanya Puji Waluyo, karena beberapa bulan sebelum melahirkan Puji Waluyo Ustadz Muhamad sakit parah, dengan nama Puji Waluyo ( memohon keselamatan-jawa ) pada anak keduanya berharap sehat seperti sebelumnya sehingga bisa mengasuh dan mendidik anak2nya. 
           Setelah dewasa kini Farida baru sadar, ternyata usianya baru 2 tahun saat adiknya lahir, tapi mengapa begitu jelas dalam ingatanya semua peristiwa dan kejadian2 pada saat itu. Farida ingat betul saat bundanya menyruh keluar dari kamar, saat ayahnya belum selesai makansudah berhenti untuk mensupport bundanya melahirkan, saat mbah dukun menerima bayi diatas 'tampah' ( tempayan tempat menyiapkan sayur kalau mau masak sebagai adat jawa menerima bayi lahir dari rahim ibunya ). Ingat semuanya, apakah karena kecerdasan otaknya , atau karena kejadian ini sangat berkesan baginya sehingga membekas, mengendap kuat  dan mendalam  tak terlupakan dalam ingatannya. Entahlah...yang jelas tidak banyak anak2 seusianya yang bisa merekam peristiwa dengan lengkap dan detail.
Cilacap,senin wage 18/ 08/ 2014/ 20 syawal 1435 H

Senin, 07 Juli 2014

Menelan 'cemendil '

              Minggu yang cerah, Ustadz Muhammad sudah bersiap 'nukang' meneruskan pesanan yang belum selesai. Sementara Salma sudah selesai masak untuk sarapan pagi. Bunda Salma juga sudah selesai mencuci dan mengambil air dari sumur. Semalam tidak turun hujan karena sedang musim kemarau. Hampir semua sumur kering, hanya beberapa sumur warga yang masih mengeluarkan air, itupun berwarna keruh dan sangat dalam, sulit dijangkau dengan 'timba' air. Tetapi tidak ada warga desa yang mengeluh, mereka sudah terbiasa menjalani kondisi sulit seperti ini. Maklum daerah perbukitan memang begitu, kalau musim kemarau sulit mendapatkan air. Bahkan tanah perkebunan dan sawah merekapun kering kerontang sampai terbelah-belah ( mlethak-jawa ).
               Saat Muhamad sedang meng-amplas kayu tiba2 putrinya menghampiri sambil tersenyum lucu.
"Ayah....ini buat aku, ya ?" Dia menunjukkan sesuatu di tangan mungilnya, ternyata mangkuk mainan yang berisi 'grajian ( serpihan kayu bekas digergaji yang berukuran sangat kecil2 seperti padi ).
" Ya...tapi hati2,ya nak...kalau kena angin bisa kelilipan,lho...."
" Ya, yah...." senang dikabulkan keinginannya berlari kecil menghampiri teman2 mainnya yang merupakan kemenakan bunda Salma. Mereka adalah anak dari kakak-kakak  dan adik bunda Salma.
" Farida, sini kita main masak2an..." ajak Sri kakak sepupu Farida yang hanya selisih 1 minggu umurnya, lebih tua Sri. Tapi anak ini sangat jauh berbeda dengan Farida yang lembut, kuning bersih,sehat,  lincah dan cerdas, penuh feminim. Sedangkan Sri berkulit gelap, tomboi, agak kurus, kasar bagai anak laki2. 
        Mereka berdua sedang asyik main masak2kan tiba2 datang adik sepupunya yang laki2, Tofik namanya. Anak ini gagah, berkulit bersih, ramah tapi tegas seperti ayahnya yang merupakan suami dari adik bunda Salma. Memang anak gadis R Kartareja semua bersuami ganteng, terhormat dan berkepribadian baik. Maklum mbah R. Kartareja adalah keturunan ningrat sehingga yang berani menjadi 'besan' dan menantunya juga orang2 pilihan. Apalagi istri mbah Raden Karta juga seorang keturunan ningrat yang karismatik, lembut, dan ayu.
"Mba, aku punya mainan nih, bagus,kan ? " Tofik menunjukkan tembak2an dari pelepah pisang pada kedua kakak perempuan sepupunya. Sri dan Farida hanya manggut2 tanda setuju, entah apa yang ada dalam benak mereka. Mungkin karena takut Tofik marah bila bilang tidak bagus atau memang karena bener2 bagus mainannya.
             Mereka bermain bertiga sambil berlarian memainkan tembak2an. Tofik yang menembak sedang Sri dan Farida yang berlarian menghidari temabkan seolah mereka sedang di kejar penjahat bersenjata.
"Dor,dor,dor...." Mulut Tofik berbunyi menirukan bunyi senapan.
" Aduh...." Tiba2 Farida mengaduh lirih, terjatuh dan lututnya lecet2kecil. Spontan Ustd Muhamad berlari menghampiri putrinya, sambil berkata :
"Ah...nda papa...cuma lecet sedikit, koq...ayo berdiri, terusin mainnya sana !" Ustadz Muhamad membimbing putrinya berdiri sambil menenangkan dan mengajarinya untuk menjadi bocah tangguh yang tidak mudah mengeluh.
            Setelah capai berlarian main tembak2an mereka bertiga memutuskan bermain di belakng rumah. Tiba2 Sri  memberikan sesuatu,
"Nih buat kamu, enak lho, ini namanya 'klentheng' ( biji dari buah randu )." Sri memberikan segengam klentheng pada Farida.
"Ayo, dimakan...!" ajak Sri. 
Faridapun menurut makan beberapa butir klentheng. Tiba-tiba....dari arah dapur...
"Farida, sini nak, sudah dulu mainnya, nanti kecapaian, lho." Bunda Salma melambaikan tangannya mengjaka Farida istirahat.
"Lho.lho...kamu makan apa,nak ?'' Tanyanya.
"Nih...." Farida mengacungkan genggaman tangan mungilnya yang berisi beberapa butir klentheng. Tapi sungguh kaget Farida saat mengetahui reaksi bundanya.
"Masya Alloh, nak...apa yang kamu makan ? Lha, ini kan 'cemendil' ( kotoran kambing ), koq kamu makan, to, ayo buang...." Bunda Salma membuang benda dalam genggaman Farida sekaligus membersihkan tangan mungilnya.
"Coba nak buka mulutmu, a...ayo...." Bunda Salma berusaha membuang butiran2 hitam kecil dari mulut putrinya.
"Walah, walah ni anak, cemendil koq ya di makn, to...." Bunda Salma gugup dan menyesal heran.
         Saat itu Farida tidak protes, hanya bertanya2 dalam hati ' lha ini kan klentheng koq dibilang cemendil, to...bunda ini gimana ? batinnya keheranan. Saat Farida juga merasa ragu, apa iya ini cemendil ? Kalau iya berarti Sri sengaja membohongi aku. Kalau ini klentheng kenapa Bunda sangat kewatir dan bilang ini cemendil,ya ? Batinnya bertanya-tanya tapi hatinya tetap yakin kalau yang dimakan tadi adalah klentheng.
         Ketika Farida sudah dewasa ayahnya sering menceritakan hal ini sebagai lelucon, saat bergurau bersama anak2nya atau dengan saudara2 ayah/ bundanya.  Katanya, " tuh Farida dulu waktu kecil pernah makan cemendil makanya giginya sehat dan kuat, ha....ha..." Tetapi sampai saat ini Farida tetap mengatakan kalau yang dipegang dulu adalah klentheng dan sebenarnya belum di telan baru sampai mulut bundanya sudah datang mengeluarkan isi mulutnya, jadi baik klentheng atau cemendil kambing tetap saja belum pernah dimakan. Ha...ha...lucu juga, yang benar yang mana, ya ?
Cilacap, selasa 08 Juli 2014

Minggu, 06 Juli 2014

Bundaku Tangguh

          Pagi yang indah, alam pegunungan yang sejuk, dengan hijaunya dedaunan dan udara yang menyegarkan, membuat hati penduduk desa terasa tenang tanpa beban. Pagi itu bunda Salma telah bersiap pergi ke sumur untuk mencuci pakaian dan mengambil air persediaan untuk masak dan keperluan lain. Sebelumnya sebelum adzan subuh berkumandang beliau telah bangun, mengambil air wudhlu , menunaikan shalat subuh dan masak untuk sarapan pagi.
        Satu ember berisi pakaian kotor dan satu ember kosong tempat air di bawa dengan dipikul menggunakan 'mbatan' ( alat dari bambu untuk memikul 2 ember seperti orang sedang menimbang barang. Salma juga mengajak putrinya, Farida untuk mandi pagi sekalian.
           Cukup jauh sumur yang dituju kurang lebih 1,5 kilometer, maklum di sini sulit mencari sumber mata air yang bisa terus mengalir saat kemarau tiba. Apalagi rumah Salma ada di atas tebing, sedangkan sumurnya di bawah tebing, sehingga harus berjalan menurun sampai 500 meter dari atas undak2an tanah yang dibuat warga untuk naik turun menuju tempat2 di bawahnya, seperti sumur, ladang dan sawah mereka. Sungguh medan yang sangat sulit untuk dijangkau apalagi bila musim hujan, jalan tanah yang berbentuk tangga ini sangat licin. Subhanalloh....betapa hebat keihlasan para perempuan Jawa dalam berumah tangga....
          Sampai di bawah...sumur sedang banyak airnya karena sedang musim hujan. Bunda Salma langsung mencuci di atas kayu tempat menggosok cucian yang dibuatakan suaminya. Sementara Farida ikut2an sambil bermain air dan cucian. Sumur warga ini terletak di lereng bukit, di sebelahnya ada pematang sawah dan sebuah rel kereta api, jadi bila penumpang kereta api menengok ke arah sumur akan terlihat jelas oang2 yang sedang di sumur. Maklum, sumur sederhana dengan dinding daun kelapa yang dianyam ( bleketepe-jawa ).
"Airnya bagus,bun...kayak balon kecil2..." Farida bermain air sabun dicucian bundanya.
"Oh, ya....awas lho hati2, ya....jangan kena mata...perih..." bundanya menimpali.
"He-eh," jawab Farida, manggut2 lucu sambil asyik menangkap gelembung udara dari sabun. Ibunya meneruskan mencuci sambil mengawasi ananda tercinta.
"Farida...sini, mandi dulu, nak....ibu sudah selesai nyucinya, nih." Salma isyarat melambaikan tangan memanggil putri mungilnya yang berjarak 2 meter darinya.
"Aohh...bunda udah selesai , ya....iya deh, aku mandi dulu..." jawabnya menurut karena dia memang kararternya penurut.
            Tiba2 saat memandikan Farida, ada kereta api lewat dengan suara yang gemuruh dan penumpang tampak penuh. Salma cuek tak peduli, meski dia tahu sebagian penumpang kereta api menagraahkan pandangan ke arahnya.
"Bunda....kereta itu mau ke mana ?" 
" Ke Gandrung, nak...memangnya kenepa ?"
"Gandrung itu jauh, ya bun ? "
" Nda....mau apa to ?'' Sebenarnya Farida ingin mengatakan bahwa dia pengin pergi naik kereta tapi takut bundanya tidak setuju maka dia hanya menggeleng tanda bahwa dia tidak ingin apa2, dia hanya bertanya saja.
           Selesai mencuci, Farida juga sudah dimandikan, bunda Salma bergegas pulang. Seorang perempuan tabah dan tangguh, pulang ke rumah memikul 2 ember dengan mbatan di pundaknya. Ember air posisi di depan badan untuk mengurangi goyangan sehingga sampai di rumah tidak terlalu banyak yang tumpah, sedang ember yang satunya posisi di belakang berisi cucian yang akan dijemur.
            Jalan sangat licin dengan hati2 mereka menuju rumah....untuk jalan dari sumur ke jalan bertangga kurang lebih 1 kilo meter. 
" Faraida hati2, nak...'"
" Iya, bun...." anak balita ini menaiki jalan tangga dengan hati2 meski sebenarnya di hatinya takut jatuh karena sangat licin. Farida kecil sangat terkesan dan kagum sekaligus prihatin pada bundanya. Dalam hati kecilnya bertanya-tanya 'kenapa bunda yang perempuan yang mengambil air yang sangat sulit, jauh , jalan naik tebing dan licin. Memang jalan 500 meter ini naik kurang lebih 80 derajat jadi cukup curam dan berbahaya juga. Bukan ayahnya yang mengerjakan hal ini ?' Tanya ini tersimpan dalam hati sampai saat ini karena Farida tergolong anak pendiam, tidak berkata/ bertanya bila belum merasa perlu. Apalagi kalau kewatir akan mengecewakan atau membuat sedih yang ditanyanya, dia tidak akan melakukanya. Apalagi dalam menaiki jalan ini Farida sempat terpeleset sedikit dan ada cucian bundanya yang terjatuh dan kotor. Yang perlu di bersihkan lagi karena jatuh di tanah liat lembek tempat mereka berjalan.
            Sampai di depan rumah langsung menejmur pakaian dan menyimpan air di dapur. Kemudian meneruskan aktifitas 'nambang' ( membuat tali dari sabut kulit kelapa untuk bahan pembuat kesed ) pekerjaan rutin sambilan, meski Salma memilki kebun beberapa hektar tetapi tipe pekerja keras yang ada dalam dirinya membuatnya tidak mau berpangku tangan membuang waktu. Hampir semua waktunya untuk bekerja di keluarga , istirahat hanya apabila tidur malam hari saja.
Cilacap senin 7 juli 2014
             

Sabtu, 05 Juli 2014

Sang Idola ( Tipe ayah dan anak idola )


         Kicauan burung bersautan mndendangkan lagu pujian. Mentari bersinar cerah di balik rerimbunan pohon2 hutan, mengabarkan sejuta harapan bagi penduduk desa. Ada yang bergegas menuju ke sawah , ada yang ke ladang, ada juga yang ke hutan dan beberapa orang ke pasar. Mereka kebanyakan adalah buruh tani, pekerja kebun karet, buruh kebun dan pemilik warung klontong. 
            Muhammad yang telah selesai mengawasi pembangunan jalan, bersiap untuk meneruskan pekerjaan rutin 'nukang'. Ada beberapa pesanan kursi, meja dan lemari yang belum selesai. Dengan di bantu kakak ipar dan bapak mertuanya yang terkadang juga ikut menekuni keahlian 'nukang', Muhamad asyik 'masah' ( menghaluskan kayu dengan alat tukang kayu yg disebut pasah ). Tiba-tiba pasah yang digunakan terasa kurang pas posisinya/ agak miring, maka dia mencari palu kecil untuk meluruskan, tetapi tidak ditemukan. Beruntung ketika menoleh ke arah kiri, beliau melihat putri kecilnya sedang bermain.
"Farida, tolong ambilkan palu, nak !"
Putri kecilnya yang baru berusia 2 tahun sudah terbiasa dengan alat2 tukang kepunyaan ayahnya. Dia juga anak yang lucu dan cerdas, cepat menghafal dan kuat ingatannya meski tanpa diajari satu2.
"Nih..." Farida mengacungkan palu kecil ke ayahnya, tidak salah memang yang diberikannya palu bukan yang lain, meski belum pernah diberi tahu namanya, tetapi karena sering mendengar atau melihat maka dia paham.
         Farida melanjutkan bermain dengan mainan seadanya. Selendang kecil, payung kecil dan beberapa wadah kecil untuk main masak2an. Meski bermain sendirian tanpa teman, dia tidak pernah rewel apalagi merajuk. Dia memang tipe anak yang mandiri, tabah dan 'nrimo'. Tidak pernah meminta apapun pada siapapun. Apa yang dimilikinya baginya sudah cukup, bila menginginkan sesuatu tidak pernah diutarakan pada siapapun, hanya disimpan di hati. Dia hanya menerima apabila diberi, tidak pernah meminta.
         Bundanya, Salma sedang asyik di dapur menumbuk padi untuk di masak karena jauh dari tempat penggilingan padi dan di dipan sudah tersedia daun singkong dan kelapa muda diparut dan dimasak  disantan. Sungguh keluarga yang hidup sederhana dan ikhlas. Masaknyapun dengan 'pawon' ( perapian kuno alat pembakaran ketika memasak. Maka tidak aneh apabila dinding dapur rumah dan dapurnya juga berwarna hitam saking seringnya terkena asap dapur.
            Jam 08.00 pagi masakan sudah tersedia, maklum  Salma bangun pagi sekali sebelum subuh. Tanpa di suruh, Muhamad dan keluarga kumpul di balai tempat mereka makan bersama. Lima keluarga dalam rumah yang bersebelahan satu komplek tetapi sering berkumpul untuk makan bersama. Kali ini hanya 3 keluarga yang berkumpul, yaitu yang 'nukang' bareng, keluarga ayah Salma, keluarga kakak bu Salma dan keluarga Muhamad / Salma sendiri. Salma membagi nasi ke masing2 piring di depannya, mereka mengambil lauk sendiri2 hanya santan daun singkong, tempe goreng  dan sambal terasi. Kenikmatan mereka sangat tampak, meski sederhana tapi ikhlas.
"Ayo...nambah, mad ..." kakak iparnya mempersilahkan Muhamad untuk tidak sungkan nembah makanan.
"Ya, sudah ....cukup, cukup....sampean monggo...katanya
"Ya. nda usah malu2, lha kamu laki2 koq makanya sedikit, nanti nda 'rosa / kuat, lho." ayah mertuanya menimpali. Muhamad hanya terseyum kecil.....
            Farida ikut2an membawa sisa hidangan yang sudah selesai ke dapur, meski hanya membawa piring satu, itu sudah cukup menunjukkan kalau dia bukan anak pemalas. Memang meski baru berusia 2 tahun, dia sudah terlihat karakter positifnya. Suka membnatu bundanya, cepat tanggap, cerdas, lincah dan mandiri serta 'nrimo' nda suka meminta apapun apalagi merajuk, tidak pernah sama sekali, itu karena gen dan didikan dari kedua orangtuanya sebagai anak pertama yang diharapkan menjadi contoh dan pelindung adik2nya kelak.
Cilacap, Sabtu 05 Juli 2014
          

Rabu, 02 Juli 2014

NAMAKU


         
           Satu minggu sudah kehadiran sang buah hati pertama Ustadz Muhammad. Dalam Islam di sunnahkan memberi nama anak dan aqiqah /  tasyakur kelahiran anak dengan menyembelih kambing 2 ekor bagi anak laki2 dan untuk anak perempuan cukup 1 ekor. Ustadz Muhammad yang hanya pegawai kontrak di DPUK Kabupaten Cilacap tidak mampu membeli seeokr kambing meskipun beliau juga kerja sambilan sebagai tukang kayu atau kerja lainnya. Memang orangtuanya adalah tokoh agama dan tokoh masyarakat yang disegani dan termasuk orang kaya di kampungnya, keturunan Kyai dari Kebumen, yaitu K.Muhammad Yunus Muhsin dan Bapak mertuanya menjadi orang terkaya kedua di daerahnya karena masih keturunan ningrat, ayahanda bu Salma, yaitu R Kartareja. Tetapi Muhammad bukan tipe laki2 yang mau menerima pemberian begitu saja dari orang lain, meski dari mertuanya atau ayahnya sendiri sekalipun.
           Maka malam itu malam ke-7 kelahiran putri pertamanya telah mempersiapkan acara pemberian nama 'si jabang bayi' dengan tanpa daging kambing. Hanya meneyembelih seekor ayam jago , 2 kilo telur ayam dan lauk pauk dari sayuran. Nasi 'tumpeng ' telah siap dengan seekor 'ingkung ( ayam kampung jantan yang di rebus dengan bumbu kuning santan ala jawa disajikan utuh ) serta aneka sayur, buah pisang dan jajanan 'ndeso' tertata apik di hamaparan tikar.  Sebenarnya pada waktu masih dalam kandungan 4 bulan dan 7 bulanan juga sudah diadakan acara pembacaan albarzanji, bahkan dibacakan al-Qur'an surat2 terpilih, at -taubah, Lukman, maryam, Yusuf  dengan maksud ibu dan bayinya senatiasa bertaubat, menjaga diri dari segala dosa dan maksiat. Kelak anak yang lahir menjadi anak sholih/ sholihan lahir batinseperti nabi Yusuf bila laki2 dan seperti maryam ibunda nabi Isa bila perempuan, dan senantiasa mentaati ajaran Islam seperti nasehat Lukmanul Hakim pada anak2nya.
        Para undangan telah hadir semua, kurang lebih 40 orang. Mereka duduk melingkar mengelilingi hidangan, tetapi tidak langsung menikmatinya.
" Asalamu'alaikum warohmatullohi wabarokaatuh....."
" Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokaaatuh........" serempak hadirin mnjawab salam Ust Muhamad.
" Alhamdulillahiladzi an'ama 'alaina bini'matil iman wal Islam wa jami'i ni'matihi , wassolatu wasalamu 'ala nabiyil karim SAW  ( hadirin menyaut shollallohu 'alaihi wa salam ) Bapak2 yang saya hormati....marilah kita panjatkan puji syukur kepada Alloh SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, inayah dan nikmatnya kepada kita semua, sholawat dan salam senantia kita sanjungkan ke hadirat Rosululloh SAW, terimakasih atas kehadiran bapak2 yang telah meluangkan waktunya untuk memenuhi undangan saya, pada malam hari ini saya punya hajat memberi nama anak pertama saya yang lahir pada hari senin 27 oktober atau 15 sya'ban seminggu yang lalu. Tetapi sebelumnya saya mohon keikhlasan babak2 untuk bersama membaca shalawat al-barzanji  beberapa lembar, untuk mengingatkan pada kita akan kelahiran Nabi Muhammad SAW, sebagai uswatun hasanah. Saya juga berharap dengan dibacakannya kisah2 kelahiran Nabi Muhammad dan bersholawat pada Beliau akan menjadi wasilah dan doa semoga putri saya menjadi anak yang sholihah, berbakti pada kedua orangtua , negara dan Agama, Amiin. " ( hadirin menyaut, aamiin...).
    "A'dzubillahiminasyaithonirojim, bismillahirohmanirrohiim, abtadiul imlaa...abismidatil 'aliyah.....( Alloh...seru hadirin ) .....demikian bait demi bait kisah Rosululloh SAW di baca secara bergantian oleh beberapa orang yang dipilih, yang lainnya menyahut, Alloooh....sampai pada srakal ( bacaan sajak/ bait puisi puji2an pada pribadi Rosululloh yang sangat mulia, hadirin berdiri untuk mencukur rambut bayi berusia 7 hari itu secara bergiliran. Dengan digendong bundanya dan dibimbing ayahandanya bayi mungil itu dibawa keliling bergantian ke para hadirin untuk dicukur. Para hadirin tidak merasa ragu untuk mencukur karena rambutnya hitam, lebat dan panjang bagai anak usia 3 tahun. Ustadz Muhamammad mendahului mencukur dengan bersholawat.......
"Ya Rosulalloh salamun'alaik...ya Rofi'asani wadaroji, 'atfata ya ji rotal 'alamiin ya uhai laljudi wal karomi....
Sampai akhirnya dianggap cukup bacaan2 yang dipilih karena tidak mungkin menyelesaikan satu buku sejarah Nabi yang di tulis oleh al-Barzanji itu.
             Segera 'megari ( nama petugas pembagi nasi tumpeng ), maklum tumpeng yang cuma 1-3  dan ayam jago 1 ekor dibagi 40 orang, jadi harus ada yang biasa membagi bila tidak pasti akan bingung bagaimana membaginya, jadi butuh keahlian khusus, yang orang disebut megari. Budaya peninggalan Jawa Hindu dan politheisme ketika mereka mendoakan  merayakan sesuatu untuk memohon pada para dewa yang dilestarikan oleh Walisongo, penyeru ajaran Islam. Hal ini tentu saja telah disesuaikan dengan ajaran Islam.Misalnya ritual doanya bukan meminta pada dewa, roh leluhur atau makhluk lain tetapi pada Alloh SWT. Mantera-mantera magic diganti dengan kalimah toyyibah , sholawat dan doa2, makanan yang pada waktu jaman Jawa Hindu disajikan untuk para dewa dan leluhur ,sekarang dibagi untuk sodaqoh dan hadiyah bagi para hadirin yang diundang untuk dimakan bersama dan dibawa pulang untuk keluarga yang menunggu di rumah. 
Sehingga budaya 'kenduri/ kepungan/ syukuran ' ini menjadi budaya yang sangat bagus untuk berbagi, kebersamaan, sillaturhaim , shodaqoh  dan persatuan serta persaudaraan sesama Muslim dan umat manusia.
           Setelah doa penutup, Ustadz Muhammad mengumumkan...
"Alhamdulillah.....terimaksih bapak2, acara berjalan lancar, penuh hikmat tanpa ada halangan apapun. Selanjutnya saya akan menyampaikan bahwa putri kami akan kami beri nama " Derita Tuti Munfarida". Mohon doa restunya semoga bisa menjadi perempuan seperti arti namanya. Amiin. Terimaksih atas kehadiran dan doanya, semoga menjadi amal sholih bagi bapak2, kami tidak bisa membalas apa2, hanya Alloh SWT yang akan membalas amal baik kita semua. Amiin. Wasalamu'alaikum warohmatullohi wabarokaatuh."  Sambil menikmati hidangan, dilantunkan beberapa tembang Islami, dari grup qashidah pimpinan Ustadz Muhammad ,yang multi talnt. Hadirin juga dipersilahkan kembali ke rumah masing2 bagi yang sudah merasa cukup merasa cukup menikmati hidangan.
         Kata ayahku Namaku adalah nama dari kesepakatan beliau  berdua, ibu  saya ingin memberi nama saya "Derita' dengan maksud hidupnya bahagia selamanya, tidak pernah menderita, sedangkan Farida adalah nama teman perempuan ayah yang dikagumi karena kecantikan dan kepandaiannya, ibu  berharap sejak awal anak pertama beliau  lahir perempuan dan akan memberi nama dengan nama peempuan yang disukai oleh ayah dengan harapan ayahku akan melupakan Farida, karena sudah dapat pengganti, putrinya sendiri sebagai penyejuk hati. Kupikir aneh juga ibuku, masa ingin membuang kennagan ayah dengan wanita idolanya malah dengan anak perempuan sendiri, diberi nama dengan namanya lagi, ah, aku tak menngerti jalan pikiran bundaku itu. Sedangkan Tuti adalah nama idola pada zaman itu maka ibuku membubuhkan nama tersebut, nama yg lagi ngetren, he..he.
          Belakangan setelah aku dewasa aku mengartikan namaku dengan versiku sendiri. Derita sudah tidak masuk menjadi namaku semenjak aku mendaftar sekolah di SD karena aku masuk SD ketika akau ikut nenek di desa Mlipak Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap. Saat aku ditanya namaku siapa aku hanya menjawab "mum" panggilanku sehari2,lalu kakak seppu perempuanku yang sudah kelas 2 SD waktu itu mengatakan pada Guruku namaku 'mumfaridah". Ketika kelas 6 ada pendataan calon peserta ujian akhir SD aku diberi tahu kalau namaku 'Tuti Munfarida". Berasal dari bahasa arab maka panggilan Mun menjadi Mum karena ada huruf nun mati bertemu fa ( bacaan ikhfa ). Maka aku memperbaiki nama panjangku Tuti Munfarida, tetapi guru SD ku ternyata orang Muslim yang alim, tahu tata bahasa arab/ ilmu nahwu- shorof/ gramatika bahasa arab. Sehingga namaku ditulis Tuti Munfaridah ( huruh h dibelakang adalah ciri abhasa arab kalau aku perempuan akata beliau ) walaupun sampai saat ini aku tidak  suka dengan huruf h ini. Tetapi sudah ditulis dijazah SD samapai saat ini. Sedangkan nama Derita baru ku ketahui setelah aku sekolah SMP kata ibuku, sebenarnya namaku Derita Tuti Munfarida. Tetapi aku tidak suka dengan nama derita karena seperti nama kalimat, juga  aku takut dipanggil Rita bila nama Derita menempel karena nama temanku Rita adalah perempuan 'nakal' sejak remaja. Na'udzubillah, aku nda ingin seperti dia. Maka sampai saat ini namaku Tuti Munfaridah.
          Setelah aku dewasa dan mengaji aku mengartikan namaku sendiri, dengan arti : Tuti berasal dari bahasa arab : Tuti ' ; yang berarti taat/ mampu ( tatho'a ). Sedangkan Munfaridah : artinya sendiri. Maka aku menafsiri namaku sebagai ; perempuan mandiri yang taat kepada Alloh SWT atau perempuan yang memiliki keistimewaan/ kemampuan tersendiri. Amiin.
Cilacap, kamis pon 03 Juli 2014
        

Jumat, 27 Juni 2014

KELAHIRANKU

Bulan dan pohon

             Malam yang cerah bagai cerahnya hati pasangan suami istri Muhammad-Salma yang sedang menanti kelahiran anak pertamanya. Belum tahu kapan bayi mungil itu akan lahir karena mereka hidup di desa terpencil yang dikelilingi sawah, ladang dan hutan lindung. Maklum pasca menikah langsung ditugaskan di daerah terpencil itu untuk memimpin proyek pembangunan jalan pemerintah Kawunganten-Cilacap. Desa kubangkangkung desa yang masih sangat tertinggal, sepi, alami tanpa vasititas. Yang ada hanya alam yang masih perawan dengan penduduk desa yang lugu bagai suku pedalaman. 
               Malam ini adalah malam 15 sya'ban, malam dimana umat Islam biasa mengadakan shalat tasbih berjamaah di masjid karena pada malam itu di katakan dalam hadis sebagai malam di angkatnya amal perbuatan manusia selama 1 th. Dalam hadis juga dikatakan bahwa pada malam ini Rosululloh SAW pernah di cari di tempat tidur beliau oleh istri tercintanya Aisyah r.a, tetapi tidak ada karena sedang berada di kuburan Baqi untuk mendoakan para Mukminin yang sudah meninggal terlebih dahulu.
                 Masjid telah dipenuhi jamaah yang telah siap beribadah bersama, tapi Ustadz Muhammad belum datang juga. Ustadz Muhammad telah siap berangkat ke masjid namun tidak mengajak istri tercintanya karena sedang hamil tua dan tinggal menunggu lahir saja. Tiba2 dari arah kamar ......
" Mau ke masjid, pak ?" Nyai Salma bertanya pada suainya
" Iya...emangnya kenapa, bu ?" jawab Beliau
" Ya, nda papa sih, kalau Bapak mau ke mesjid, ya silahkan , tapi...kayaknya nda bisa menyaksikan kelahiran anak kita..." jawab Salma
" Lho, memangnya, ibu sudah mau melahirkan ? Apa sudah ada tanda2 mau melahirkan ?" tanya Suaminya.
" Iya...." jawab istrinya.
" Oh, kalau gitu Bapak nda jadi ke mesjid, sebentar aku bilang ibumu dulu." jawab Muhammad gugup.
" Ah...nda usah, pak..." sanggah istrinya.
" Memangnya kenapa ?" tanya Muhammad
" Aku malu..." kata istrinya.
" Lho, ya nda usah malu, to....semua perempuan kan melahirkan,ibu juga pernah melahirkan malah sampai 14 kali, lagi pula kan ibu lebih berpengalaman, jadi nanti kita tahu apa yang harus kita lakukan, to...." jelas Muhammad
" Ya, terserah bapak, kalau begitu.....'' jawab istrinya menurut.
                 Pak Muhammad bergegas menemui ibu mertuanya mengabarkan keadaan anak kesayangannya yang hendak melahirkan anak pertamanya. Spontan saja ibundanya, melonjak kegirangan langsung menuju rumah ananda tercinta yang hanya berjarak beberapa meter bersebelahan dengan Beliau.
" Ayo, Mad...kamu panggil dukun, sana cepat !' perintah bu Inah, mertuanya.
" Njih, bu..." Muhammad bergegas pergi menuju rumah Dukun Bayi, orang yang biasa membantu persalinan di desa terpencil, maklum di sini belum ada Bidan apalagi Dokter. Cukup jauh juga jarak perjalanan ke rumah mbah Dukun. Untungnya Muhammad adalah pemuda tangguh, ulet dan pemberani, meski harus melintasi hutan dalam kegelapan dan diiringi suara-suara menyeramkan hewan hutan yang bersautan melantunka kidung peringatan bagi manusia supaya tidak terlelap tidur tanpa sadar bahwa dunia ini hanya tempat singgah sementara.
                   Akhirnya dengan bekal obor daun kelapa kering ( klari-jawa ) Muhammad dan   Mbah Tuyem sampai juga di rumah sederhana tempat Salma dan keluarganya menunggu.
"Kapan kamu mulai merasa mules2 ?" tanya mbah Tuyem pada Salma.
" Tadi sore, mbah..." jawabnya.
" Oh, ya....ayo sini, coba saya periksa dulu..." mbah Tuyem memanggil Salma. Salma menurut, mengikuti mbah Tuyem yang berjalan mengarah ke kamar yang ditunjukkan Muhammad.
" Monggo, mbah..." kata Salma
" O....Bagus...ya...posisinya sudah mapan,ini...tidak sampai besok ,Insya Alloh lahir malam ini, ayo siapkan 'ubo rampenya." ( peralatan -jawa ) mbah Tuyem manggut2 sambil tangannya tak lepas dari sekitar bagian perut Salma.
" Syukur, mbah...memang itu yang kita harapkan. " Salma menimpali.
                  Para jamaah masjid sudah pulang ke rumah masing2 dan mereka langsung tidur lelap. Maklum alam desa terpencil sangat sepi dan gelap sehingga membiasakan para penduduknya tidur awal. Meski malam itu malam Nisfu Sya'ban. Muhammad yang tadi tidak jadi ke mesjid karena kewatir tidak bisa menyaksikan anaknya lahir, mengambil air wudhlu untuk shalat Isa dan shalat tasbih sekalian mendoakan kelancaran dan keselamatan Bayi dan ibunya saat melahirkan nanti. Sementara Keluarga yang berkumpul dan Mbah Dukun serta salma sedang menunggu kelahiran bayi sambil 'lek-lek-an ( terbagun malam-jawa ) di malam Nisfu sya'ban yang penuh berkah ini.
                Pada hari itu, senin tanggal 14 malam 15 syaban bertepatan dengan tgl 27 malam 28 Oktober 1969 jam 00.00 atau jam 12 malam, tiba2...
"oe...oe...." suara bayi mungil penduduk baru hadir ke dunia. Seorang anak perempuan yang sehat, bertubuh sintal, kulit kuning, rambut hitam tebal, mata sipit, ada lesung pipit di pipi kanannya lahir membawa kebahagian di keluarga besar Ustadz Muhammad.
" Alhamdulilllahirobbil 'alamiin.....serentak Ustadz Muhammad dan keluargan mengucap syukur hampir bersamaan meski tidak ada yang memimpin. Kecuali mbah Tuyem karena belum begitu terbiasa dengan kalimah toyyibah, maklum masyarakat kampung ini memangan kaum 'abangan', belum mendalami Islam. Seorang putri pertama keluarga Ustadz Muhammad lahir bertepatan malam penuh berkah malam nisfu sya'ban dan bertepatan malam hari sumpah pemuda, serta hari senin hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, semoga menjadi berkah dan cahaya bagi Islam , negara dan Keluarga, Aamiin.
               Ustadz Muhammad langsung mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri  Bayi perempuan mungil yang cantik itu. Subhanalloh wal hamdulillah wala ilaha Illallohu walllohu akbar. Pada malam yang mulia dan penuh berkah, malam di mana umat Islam beribadah mendekatkan diri kepada Alloh, memohon ampun dosa2 yang telah lalu dan memohon keberkahan umur yang akan datang, serta memeprbanyak amal ibadah supaya ketika amalnya diangkat, sedang dalam keadaan baik, beribadah kepada Alloh SWT, putri pertama Ustadz Muhammad di lahirkan. Sungguh anugerah yang indah dan tak ternilai harganya dengan apapun juga. Semoga kelahiranya yang bertepatan dengan malam yang mulia akan menjadikan putri mungil ini perempuan sholihah lahir batin yang membawa kebaikan bagi dirinya, keluarganya dan sesama. Amiin.
Cilacap, jumat 27 juni 2014
        

Selasa, 24 Juni 2014

INDAHNYA DESAKU


Hasil gambar untuk gambar pemandangan indah
           
          Gemercik air di lereng lembah desa kubangkangkung,  yang dikelilingi hutan lindung dengan beribu pohon karet, serta alam pegunungan yang sejuk, hijau yang menawarkan kedamaian di hati penduduknya membuat pagi itu terasa indah dan menggairahkan. Alam telah mengalirkan energi positif yang membawa semangat juang untuk mengabdi pada Bangsa dan negri ini. Warto, demikian para tetangga dan teman sebaya memanggil nama ayahku, yang lengkapnya ' suwarto'. Ayahku yang berasal dari desa Mlipak, Danasri lor Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap ditugaskan sebagai 'Mandor' pembangunan jalan raya Kawunganten- Cilacap. Sebagai pegawai kontrak pemerintah daerah / PEMDA Cilacap,hanya menurut saja. Maka sejak itulah ayahku yang baru menikah dengan ibuku yang bernama Salem binti Kartareja, langsung pindah ke desa kubangkangkung kecamatan Kawunganten Kabupaten Cilacap.
           Ayahku adalah tipe laki-laki yang bertanggung jawab, disiplin, teguh memegang prinsip, pekerja keras, penuh kasih sayang dan memiliki bermacam keahlian/ talent. Disamping sebagai karyawan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten ( DPUK ), ayahku juga mengisi waktu luangnya dengan menjadi 'tukang' kayu. Pulang dari kerja pemerintah, di rumah juga menerima berbagai pesanan seperti ; lemari,meja, kursi dan berbagai peralatan dari kayu, bahkan rumahpun dibuatnya. Di kantor ayahku juga menerima pesanan gambar-gambar yang diperlukan oleh pemerintah daerah, seperti gambar gedung/ bangunan kantor, rambu-rambu lalu lintas dan lain2 karena ayahku lulusan Sekolah Teknik ( ST ). Bukan hanya itu Beliau bahkan menerima permintaan menguras WC, mengayuh becak dan mengecat, demi tanggungjawabnya pada keluarga.
              Dalam bidang seni ayahku sudah sejak remaja menjadi Mayoret Drumband, vokalis dan gitaris/ pianis/ pemimpin grup musik dangdut maupun rebana di kampung. Disamping juga pandai melukis, lukisanya sering diminati oleh temen2 kerja sebagai karya seni yang indah. Yang lebih hebat lagi ayahku sangat mahir melukis dan membuat wayang baik yang dari kertas maupun kulit. Wayang hasil karya ayah sangat indah, sampai-sampai menurutku tidak ada wayang yang seindah dan senatural buatan ayah, benar2benar bernilai seni tinggi, berbeda dengan wayang2 yang dijual di pasaran.  Menyanyi, melukis, menggambar membuat wayang adalah keahlian ayahku di bidang seni, disamping juga ayahku adalah pemimpin grup seni Kuda Lumping.
             Di bidang olah raga ayahku sangat potensial, dari bola voly, catur, koprol, pencak silat adalah jenis-jenis olah raga yang sering dijuarainya. Dan entah berapa cabang olah raga lainnya yang sudah dikuasai ayah.
            Dalam bidang Agama Islam, sejak kanak2 ayahku adalah aktifis masjid, sehingga pada saat menikah dan berpindah ke desa kubangkangkung karena tugas negara ayahku aktif menjadi ustadz di mshola sekitar, yang waktu ayahku datang masyarakat di sana masih sangat terbelakang. Mereka masih mengkonsumsi daging celeng/ babi hutan hasil berburu bersama para lelaki di sana. 
           Profesi penduduk waktu itu adalah mencari kayu di hutan, berburu , tukang kayu dan petani dan buruh kebun karet. Sedangkan kaum perempuan menjadi buruh kebun karet, petani/ buruh tani dan ibu rumah tangga.
              Adat kebiasaanya masih sangat terbelakang. Sering seorang perempuan yang menganggur hanya 'petan' ( mencari kutu temannya ) dengan hanya memekai ( kutang/ BH ) dan 'kain kemben'. Sehingga pemandangan perempuan dengan buah dada telanjang adalah hal yang sangat biasa dan bukan sesuatu yang tabu atau memalukan. Bahkan seoarang perempuan menyusui tanpa berpakaian hanya dengan BH di depan rumah, di warung, di rumah tetangga sambil petan tanpa baju sudah baisa. Mereka tidak merasa malu karena sudah menjadi tradisi sehari2. 
              Mungkin ini juga salah satu pemicu perilaku hidup bertetangga yang 'tidak sehat'. Saya ingat betul waktu kanak2 sering mendengar ibu temanku bercinta dengan ayah temanku yang lainnya. Artinya budaya sex dengan suami/ istri tetangganya sudah dianggap biasa. Siapa suka sama siapa asal sama-sama suka tidak apa2. Suami/ istri tidak protes, menuntut atau cemburu karena pada dasarnya, mereka juga bisa suka sama siapa saja yang disukai suatu waktu tanpa dituntut oleh pasangannya. Sungguh kehidupan bagai di hutan seperti alamnya yang dikelilingi perhutanan.
            Alhamdulillah ayah dan ibuku tidak mengikuti tradisi hidup seperti itu. Ibuku adalah tipe wanita setia meski murah senyum dan care. Ayahku adalah laki2 yang berpengetahuan agama Islam yang cukup, sehingga paham betul mana larangan agama mana yang dibolehkan. Hal ini ku simpulkan ketika telinga mungilku sering mendengar, ada seorang pria yang merayu ibuku, ibuku menolak dengan ramah tapi jelas.
            Desa yang indah, sejuk dengan penduduk yang lugu tanpa terbelenggu aturan agama dan negara karena mereka meang terpencil di tengah hutan. Ayahku di tugaskan di sini dari awal menikah sampai mempunyai 3 anak, sekitar tahun 1968- 1975. Sampai pembangunan jalan raya Kawunganten- Cilacap selesai.
           Tugas yang tanpa bayaran yang pantas karena ayahku hanya tenaga kontrak namun ikhlas. Padahal begitu berat dijalani, berbagai cobaan menerpa, karena hidup di tengah hutan. Dari mulai ketakutan sendirian malam hari bila ayahku pergi, ada laki2 yang masuk ke kamar ibuku saat ayhku pergi tapi berhasil ditolak dan pergi. sampai suatu saat ayahku 'kemasukan jin' berbulan2, dalam kondisi mengenaskan.
             Kronologinya begini, diantara jalan Kawunganten- Cilacap ada sebuah pohon besar yang menganggu pembangunan jalan, tetapi tidak ada yang berani menebang karena dari cerita masyarakat di sana mengatakan kalau ohon itu dihuni maklhuk halus. Ayahku yang pemberani yang juga sebagai 'mandor' pemimpin pembangunan di sana, menyruh anak buahnya untuk tetap menebang pohon tersebut supaya bisa dibangun jalan. Maka anak buah ayahku mau menuruti dengan janji apabila ada'apa-apanya' resiko ditanggung ayahku. Maka ayahku meng-iyakan. Singkat cerita anak buah ayahku menebang pohon dengan mengatakan " hai penghuni pohon besar, maaf aku menbang rumahmu, tapi aku hanya orang suruhan mandorku, kalau kamu tidak terima atau marah maka marah dan membalaslah pada mandorku pak Warto.' Lalu dikencingi pohon tersebut dan ditebang seperti perintah ayahku. Ternyata benar, tidak tahu ujung pangkal dan sebabnya, di rumah, ayahku mengamuk, berteriak2 seperti orang gila sampai berbulan2 bahkan telanjang bila tidak dicegah oelh keluarga. Alhamdulillah pak lik ayahku yang bernama mbah Tarmuji adalah orang pintar, maka beliau diundang oleh ibu dan neekku/ ibu ayahku untuk mengobati beliau, sehingga jin penghuni pohon besar tersebut berhasil di usir dan ayahku sembuh sampai saat ini, sudah bersusia 65 tahun, pensiun. Dan menjadi KH Edi suwarto karena perjuangannya untuk Islam dan ibadah haji tahun 2009 Semoga beliau panjang umur dan barokah. Amin
Cilacap, selasa wage 24 juni2014 M
                                 25 syaban 1435 H

Senin, 23 Juni 2014

AKU

 
                 Blogger ini adalah media untuk menuliskan kisah nyata dalam hidupku. Aku akan menulis tentang diriku dari masa kecil sampai aku berhenti menulis kisah ini. Kisah ini akan kutulis dalam bentuk novel, dengan maksud kelak akan kuterbitkan menjadi sebuah buku novel, aku juga berharap novel ini akan menginspirasi  anak-anakku dan orang2 yang membaca novelku , mengambil hikmah dan pelajaran yang berharga untuk memotivasi anak-anak keturunanku, para perempuan, laki-laki , pemuda, pemudi dan siapa saja yang mau mengambil sisi baik dari perjalanan hidupku. Tetapi tentu saja jangan sampai meniru hal-hal buruk dariku, terutama tentang ditulisnya kisah rumah tanggaku yang kurang baik, tetapi sebenarnya mengandung banyak kebaikan, terutama tentang kesabaranku, kesetiannku, sikap 'nrimo'ku, keuletan dan ketabahanku. Meskipun disisi lain aku akan menulis tentang keadaan suami dan anak2ku, semoga mereka dan para pembaca tidak salah paham, tujuanku hanya ingin menulis semua yang terjadi dalam hidupku yang dapat diambil hikmahnya untuk pembelajaran hidup orang lain.
             Sebelum aku menulis kisah hidupku dalam bentuk novel, terlebih dahulu aku ingin mengenalkan diri, sebagai berikut :
Nama              : Dra. Tuti Munfaridah, M.S.I ( saat mulai menulis novel ini usiaku sudah 45 th )
TTL                : Cilacap, senin pon 27 Oktober 1969
Alamat            : Jln Tambora no ; 732 A Sidanegara, Cilacap Tengah, Jawa Tengah, Indonesia
Pekerjaan        : Da'i dan Dosen
Suami              : K Muhrorudin
Anak               : 1. Tajun Milatu Syafaat
                         2. Azky Misbahu Rofi'
                         3. Muhammad Rahmatul Azhar
                         4. Aviva Atqiyatul Arifa
Hp                   : 089607059259, 082300104239
Email               ; tutimnfarida17@gamil.com/ faridatuti68@yahoo.co.id
             Aku berharap bila novel ini selesai dan aku belum sempat menerbitkannya maka novel ini kuwariskan pada anak-anakku untuk diterbitkan dan bila ada produser yang berminat bisa mengangkat menjadi sebuah film, dengan kontrak kerja yang legal. Dan mulai hari ini juga aku membuka konsultasi untuk semua oarang yang membutuhkan, tentang masalah rumah tangga dan agama Islam. Bisa menghubungi no hp/ sms/ surat ke alamat saya atau email.
           Jangan lupa ikuti kisahnya dan ambil hikmah dibalik ceritanya  : - )
           Cilacap, selasa wage 24 juni 2014 M/ 25 SYABAN 1435 H