
Minggu yang cerah, Ustadz Muhammad sudah bersiap 'nukang' meneruskan pesanan yang belum selesai. Sementara Salma sudah selesai masak untuk sarapan pagi. Bunda Salma juga sudah selesai mencuci dan mengambil air dari sumur. Semalam tidak turun hujan karena sedang musim kemarau. Hampir semua sumur kering, hanya beberapa sumur warga yang masih mengeluarkan air, itupun berwarna keruh dan sangat dalam, sulit dijangkau dengan 'timba' air. Tetapi tidak ada warga desa yang mengeluh, mereka sudah terbiasa menjalani kondisi sulit seperti ini. Maklum daerah perbukitan memang begitu, kalau musim kemarau sulit mendapatkan air. Bahkan tanah perkebunan dan sawah merekapun kering kerontang sampai terbelah-belah ( mlethak-jawa ).
Saat Muhamad sedang meng-amplas kayu tiba2 putrinya menghampiri sambil tersenyum lucu.
"Ayah....ini buat aku, ya ?" Dia menunjukkan sesuatu di tangan mungilnya, ternyata mangkuk mainan yang berisi 'grajian ( serpihan kayu bekas digergaji yang berukuran sangat kecil2 seperti padi ).
" Ya...tapi hati2,ya nak...kalau kena angin bisa kelilipan,lho...."
" Ya, yah...." senang dikabulkan keinginannya berlari kecil menghampiri teman2 mainnya yang merupakan kemenakan bunda Salma. Mereka adalah anak dari kakak-kakak dan adik bunda Salma.
" Farida, sini kita main masak2an..." ajak Sri kakak sepupu Farida yang hanya selisih 1 minggu umurnya, lebih tua Sri. Tapi anak ini sangat jauh berbeda dengan Farida yang lembut, kuning bersih,sehat, lincah dan cerdas, penuh feminim. Sedangkan Sri berkulit gelap, tomboi, agak kurus, kasar bagai anak laki2.
Mereka berdua sedang asyik main masak2kan tiba2 datang adik sepupunya yang laki2, Tofik namanya. Anak ini gagah, berkulit bersih, ramah tapi tegas seperti ayahnya yang merupakan suami dari adik bunda Salma. Memang anak gadis R Kartareja semua bersuami ganteng, terhormat dan berkepribadian baik. Maklum mbah R. Kartareja adalah keturunan ningrat sehingga yang berani menjadi 'besan' dan menantunya juga orang2 pilihan. Apalagi istri mbah Raden Karta juga seorang keturunan ningrat yang karismatik, lembut, dan ayu.
"Mba, aku punya mainan nih, bagus,kan ? " Tofik menunjukkan tembak2an dari pelepah pisang pada kedua kakak perempuan sepupunya. Sri dan Farida hanya manggut2 tanda setuju, entah apa yang ada dalam benak mereka. Mungkin karena takut Tofik marah bila bilang tidak bagus atau memang karena bener2 bagus mainannya.
Mereka bermain bertiga sambil berlarian memainkan tembak2an. Tofik yang menembak sedang Sri dan Farida yang berlarian menghidari temabkan seolah mereka sedang di kejar penjahat bersenjata.
"Dor,dor,dor...." Mulut Tofik berbunyi menirukan bunyi senapan.
" Aduh...." Tiba2 Farida mengaduh lirih, terjatuh dan lututnya lecet2kecil. Spontan Ustd Muhamad berlari menghampiri putrinya, sambil berkata :
"Ah...nda papa...cuma lecet sedikit, koq...ayo berdiri, terusin mainnya sana !" Ustadz Muhamad membimbing putrinya berdiri sambil menenangkan dan mengajarinya untuk menjadi bocah tangguh yang tidak mudah mengeluh.
Setelah capai berlarian main tembak2an mereka bertiga memutuskan bermain di belakng rumah. Tiba2 Sri memberikan sesuatu,
"Nih buat kamu, enak lho, ini namanya 'klentheng' ( biji dari buah randu )." Sri memberikan segengam klentheng pada Farida.
"Ayo, dimakan...!" ajak Sri.
Faridapun menurut makan beberapa butir klentheng. Tiba-tiba....dari arah dapur...
"Farida, sini nak, sudah dulu mainnya, nanti kecapaian, lho." Bunda Salma melambaikan tangannya mengjaka Farida istirahat.
"Lho.lho...kamu makan apa,nak ?'' Tanyanya.
"Nih...." Farida mengacungkan genggaman tangan mungilnya yang berisi beberapa butir klentheng. Tapi sungguh kaget Farida saat mengetahui reaksi bundanya.
"Masya Alloh, nak...apa yang kamu makan ? Lha, ini kan 'cemendil' ( kotoran kambing ), koq kamu makan, to, ayo buang...." Bunda Salma membuang benda dalam genggaman Farida sekaligus membersihkan tangan mungilnya.
"Coba nak buka mulutmu, a...ayo...." Bunda Salma berusaha membuang butiran2 hitam kecil dari mulut putrinya.
"Walah, walah ni anak, cemendil koq ya di makn, to...." Bunda Salma gugup dan menyesal heran.
Saat itu Farida tidak protes, hanya bertanya2 dalam hati ' lha ini kan klentheng koq dibilang cemendil, to...bunda ini gimana ? batinnya keheranan. Saat Farida juga merasa ragu, apa iya ini cemendil ? Kalau iya berarti Sri sengaja membohongi aku. Kalau ini klentheng kenapa Bunda sangat kewatir dan bilang ini cemendil,ya ? Batinnya bertanya-tanya tapi hatinya tetap yakin kalau yang dimakan tadi adalah klentheng.
Ketika Farida sudah dewasa ayahnya sering menceritakan hal ini sebagai lelucon, saat bergurau bersama anak2nya atau dengan saudara2 ayah/ bundanya. Katanya, " tuh Farida dulu waktu kecil pernah makan cemendil makanya giginya sehat dan kuat, ha....ha..." Tetapi sampai saat ini Farida tetap mengatakan kalau yang dipegang dulu adalah klentheng dan sebenarnya belum di telan baru sampai mulut bundanya sudah datang mengeluarkan isi mulutnya, jadi baik klentheng atau cemendil kambing tetap saja belum pernah dimakan. Ha...ha...lucu juga, yang benar yang mana, ya ?
Cilacap, selasa 08 Juli 2014
