Senin, 07 Juli 2014

Menelan 'cemendil '

              Minggu yang cerah, Ustadz Muhammad sudah bersiap 'nukang' meneruskan pesanan yang belum selesai. Sementara Salma sudah selesai masak untuk sarapan pagi. Bunda Salma juga sudah selesai mencuci dan mengambil air dari sumur. Semalam tidak turun hujan karena sedang musim kemarau. Hampir semua sumur kering, hanya beberapa sumur warga yang masih mengeluarkan air, itupun berwarna keruh dan sangat dalam, sulit dijangkau dengan 'timba' air. Tetapi tidak ada warga desa yang mengeluh, mereka sudah terbiasa menjalani kondisi sulit seperti ini. Maklum daerah perbukitan memang begitu, kalau musim kemarau sulit mendapatkan air. Bahkan tanah perkebunan dan sawah merekapun kering kerontang sampai terbelah-belah ( mlethak-jawa ).
               Saat Muhamad sedang meng-amplas kayu tiba2 putrinya menghampiri sambil tersenyum lucu.
"Ayah....ini buat aku, ya ?" Dia menunjukkan sesuatu di tangan mungilnya, ternyata mangkuk mainan yang berisi 'grajian ( serpihan kayu bekas digergaji yang berukuran sangat kecil2 seperti padi ).
" Ya...tapi hati2,ya nak...kalau kena angin bisa kelilipan,lho...."
" Ya, yah...." senang dikabulkan keinginannya berlari kecil menghampiri teman2 mainnya yang merupakan kemenakan bunda Salma. Mereka adalah anak dari kakak-kakak  dan adik bunda Salma.
" Farida, sini kita main masak2an..." ajak Sri kakak sepupu Farida yang hanya selisih 1 minggu umurnya, lebih tua Sri. Tapi anak ini sangat jauh berbeda dengan Farida yang lembut, kuning bersih,sehat,  lincah dan cerdas, penuh feminim. Sedangkan Sri berkulit gelap, tomboi, agak kurus, kasar bagai anak laki2. 
        Mereka berdua sedang asyik main masak2kan tiba2 datang adik sepupunya yang laki2, Tofik namanya. Anak ini gagah, berkulit bersih, ramah tapi tegas seperti ayahnya yang merupakan suami dari adik bunda Salma. Memang anak gadis R Kartareja semua bersuami ganteng, terhormat dan berkepribadian baik. Maklum mbah R. Kartareja adalah keturunan ningrat sehingga yang berani menjadi 'besan' dan menantunya juga orang2 pilihan. Apalagi istri mbah Raden Karta juga seorang keturunan ningrat yang karismatik, lembut, dan ayu.
"Mba, aku punya mainan nih, bagus,kan ? " Tofik menunjukkan tembak2an dari pelepah pisang pada kedua kakak perempuan sepupunya. Sri dan Farida hanya manggut2 tanda setuju, entah apa yang ada dalam benak mereka. Mungkin karena takut Tofik marah bila bilang tidak bagus atau memang karena bener2 bagus mainannya.
             Mereka bermain bertiga sambil berlarian memainkan tembak2an. Tofik yang menembak sedang Sri dan Farida yang berlarian menghidari temabkan seolah mereka sedang di kejar penjahat bersenjata.
"Dor,dor,dor...." Mulut Tofik berbunyi menirukan bunyi senapan.
" Aduh...." Tiba2 Farida mengaduh lirih, terjatuh dan lututnya lecet2kecil. Spontan Ustd Muhamad berlari menghampiri putrinya, sambil berkata :
"Ah...nda papa...cuma lecet sedikit, koq...ayo berdiri, terusin mainnya sana !" Ustadz Muhamad membimbing putrinya berdiri sambil menenangkan dan mengajarinya untuk menjadi bocah tangguh yang tidak mudah mengeluh.
            Setelah capai berlarian main tembak2an mereka bertiga memutuskan bermain di belakng rumah. Tiba2 Sri  memberikan sesuatu,
"Nih buat kamu, enak lho, ini namanya 'klentheng' ( biji dari buah randu )." Sri memberikan segengam klentheng pada Farida.
"Ayo, dimakan...!" ajak Sri. 
Faridapun menurut makan beberapa butir klentheng. Tiba-tiba....dari arah dapur...
"Farida, sini nak, sudah dulu mainnya, nanti kecapaian, lho." Bunda Salma melambaikan tangannya mengjaka Farida istirahat.
"Lho.lho...kamu makan apa,nak ?'' Tanyanya.
"Nih...." Farida mengacungkan genggaman tangan mungilnya yang berisi beberapa butir klentheng. Tapi sungguh kaget Farida saat mengetahui reaksi bundanya.
"Masya Alloh, nak...apa yang kamu makan ? Lha, ini kan 'cemendil' ( kotoran kambing ), koq kamu makan, to, ayo buang...." Bunda Salma membuang benda dalam genggaman Farida sekaligus membersihkan tangan mungilnya.
"Coba nak buka mulutmu, a...ayo...." Bunda Salma berusaha membuang butiran2 hitam kecil dari mulut putrinya.
"Walah, walah ni anak, cemendil koq ya di makn, to...." Bunda Salma gugup dan menyesal heran.
         Saat itu Farida tidak protes, hanya bertanya2 dalam hati ' lha ini kan klentheng koq dibilang cemendil, to...bunda ini gimana ? batinnya keheranan. Saat Farida juga merasa ragu, apa iya ini cemendil ? Kalau iya berarti Sri sengaja membohongi aku. Kalau ini klentheng kenapa Bunda sangat kewatir dan bilang ini cemendil,ya ? Batinnya bertanya-tanya tapi hatinya tetap yakin kalau yang dimakan tadi adalah klentheng.
         Ketika Farida sudah dewasa ayahnya sering menceritakan hal ini sebagai lelucon, saat bergurau bersama anak2nya atau dengan saudara2 ayah/ bundanya.  Katanya, " tuh Farida dulu waktu kecil pernah makan cemendil makanya giginya sehat dan kuat, ha....ha..." Tetapi sampai saat ini Farida tetap mengatakan kalau yang dipegang dulu adalah klentheng dan sebenarnya belum di telan baru sampai mulut bundanya sudah datang mengeluarkan isi mulutnya, jadi baik klentheng atau cemendil kambing tetap saja belum pernah dimakan. Ha...ha...lucu juga, yang benar yang mana, ya ?
Cilacap, selasa 08 Juli 2014

Minggu, 06 Juli 2014

Bundaku Tangguh

          Pagi yang indah, alam pegunungan yang sejuk, dengan hijaunya dedaunan dan udara yang menyegarkan, membuat hati penduduk desa terasa tenang tanpa beban. Pagi itu bunda Salma telah bersiap pergi ke sumur untuk mencuci pakaian dan mengambil air persediaan untuk masak dan keperluan lain. Sebelumnya sebelum adzan subuh berkumandang beliau telah bangun, mengambil air wudhlu , menunaikan shalat subuh dan masak untuk sarapan pagi.
        Satu ember berisi pakaian kotor dan satu ember kosong tempat air di bawa dengan dipikul menggunakan 'mbatan' ( alat dari bambu untuk memikul 2 ember seperti orang sedang menimbang barang. Salma juga mengajak putrinya, Farida untuk mandi pagi sekalian.
           Cukup jauh sumur yang dituju kurang lebih 1,5 kilometer, maklum di sini sulit mencari sumber mata air yang bisa terus mengalir saat kemarau tiba. Apalagi rumah Salma ada di atas tebing, sedangkan sumurnya di bawah tebing, sehingga harus berjalan menurun sampai 500 meter dari atas undak2an tanah yang dibuat warga untuk naik turun menuju tempat2 di bawahnya, seperti sumur, ladang dan sawah mereka. Sungguh medan yang sangat sulit untuk dijangkau apalagi bila musim hujan, jalan tanah yang berbentuk tangga ini sangat licin. Subhanalloh....betapa hebat keihlasan para perempuan Jawa dalam berumah tangga....
          Sampai di bawah...sumur sedang banyak airnya karena sedang musim hujan. Bunda Salma langsung mencuci di atas kayu tempat menggosok cucian yang dibuatakan suaminya. Sementara Farida ikut2an sambil bermain air dan cucian. Sumur warga ini terletak di lereng bukit, di sebelahnya ada pematang sawah dan sebuah rel kereta api, jadi bila penumpang kereta api menengok ke arah sumur akan terlihat jelas oang2 yang sedang di sumur. Maklum, sumur sederhana dengan dinding daun kelapa yang dianyam ( bleketepe-jawa ).
"Airnya bagus,bun...kayak balon kecil2..." Farida bermain air sabun dicucian bundanya.
"Oh, ya....awas lho hati2, ya....jangan kena mata...perih..." bundanya menimpali.
"He-eh," jawab Farida, manggut2 lucu sambil asyik menangkap gelembung udara dari sabun. Ibunya meneruskan mencuci sambil mengawasi ananda tercinta.
"Farida...sini, mandi dulu, nak....ibu sudah selesai nyucinya, nih." Salma isyarat melambaikan tangan memanggil putri mungilnya yang berjarak 2 meter darinya.
"Aohh...bunda udah selesai , ya....iya deh, aku mandi dulu..." jawabnya menurut karena dia memang kararternya penurut.
            Tiba2 saat memandikan Farida, ada kereta api lewat dengan suara yang gemuruh dan penumpang tampak penuh. Salma cuek tak peduli, meski dia tahu sebagian penumpang kereta api menagraahkan pandangan ke arahnya.
"Bunda....kereta itu mau ke mana ?" 
" Ke Gandrung, nak...memangnya kenepa ?"
"Gandrung itu jauh, ya bun ? "
" Nda....mau apa to ?'' Sebenarnya Farida ingin mengatakan bahwa dia pengin pergi naik kereta tapi takut bundanya tidak setuju maka dia hanya menggeleng tanda bahwa dia tidak ingin apa2, dia hanya bertanya saja.
           Selesai mencuci, Farida juga sudah dimandikan, bunda Salma bergegas pulang. Seorang perempuan tabah dan tangguh, pulang ke rumah memikul 2 ember dengan mbatan di pundaknya. Ember air posisi di depan badan untuk mengurangi goyangan sehingga sampai di rumah tidak terlalu banyak yang tumpah, sedang ember yang satunya posisi di belakang berisi cucian yang akan dijemur.
            Jalan sangat licin dengan hati2 mereka menuju rumah....untuk jalan dari sumur ke jalan bertangga kurang lebih 1 kilo meter. 
" Faraida hati2, nak...'"
" Iya, bun...." anak balita ini menaiki jalan tangga dengan hati2 meski sebenarnya di hatinya takut jatuh karena sangat licin. Farida kecil sangat terkesan dan kagum sekaligus prihatin pada bundanya. Dalam hati kecilnya bertanya-tanya 'kenapa bunda yang perempuan yang mengambil air yang sangat sulit, jauh , jalan naik tebing dan licin. Memang jalan 500 meter ini naik kurang lebih 80 derajat jadi cukup curam dan berbahaya juga. Bukan ayahnya yang mengerjakan hal ini ?' Tanya ini tersimpan dalam hati sampai saat ini karena Farida tergolong anak pendiam, tidak berkata/ bertanya bila belum merasa perlu. Apalagi kalau kewatir akan mengecewakan atau membuat sedih yang ditanyanya, dia tidak akan melakukanya. Apalagi dalam menaiki jalan ini Farida sempat terpeleset sedikit dan ada cucian bundanya yang terjatuh dan kotor. Yang perlu di bersihkan lagi karena jatuh di tanah liat lembek tempat mereka berjalan.
            Sampai di depan rumah langsung menejmur pakaian dan menyimpan air di dapur. Kemudian meneruskan aktifitas 'nambang' ( membuat tali dari sabut kulit kelapa untuk bahan pembuat kesed ) pekerjaan rutin sambilan, meski Salma memilki kebun beberapa hektar tetapi tipe pekerja keras yang ada dalam dirinya membuatnya tidak mau berpangku tangan membuang waktu. Hampir semua waktunya untuk bekerja di keluarga , istirahat hanya apabila tidur malam hari saja.
Cilacap senin 7 juli 2014
             

Sabtu, 05 Juli 2014

Sang Idola ( Tipe ayah dan anak idola )


         Kicauan burung bersautan mndendangkan lagu pujian. Mentari bersinar cerah di balik rerimbunan pohon2 hutan, mengabarkan sejuta harapan bagi penduduk desa. Ada yang bergegas menuju ke sawah , ada yang ke ladang, ada juga yang ke hutan dan beberapa orang ke pasar. Mereka kebanyakan adalah buruh tani, pekerja kebun karet, buruh kebun dan pemilik warung klontong. 
            Muhammad yang telah selesai mengawasi pembangunan jalan, bersiap untuk meneruskan pekerjaan rutin 'nukang'. Ada beberapa pesanan kursi, meja dan lemari yang belum selesai. Dengan di bantu kakak ipar dan bapak mertuanya yang terkadang juga ikut menekuni keahlian 'nukang', Muhamad asyik 'masah' ( menghaluskan kayu dengan alat tukang kayu yg disebut pasah ). Tiba-tiba pasah yang digunakan terasa kurang pas posisinya/ agak miring, maka dia mencari palu kecil untuk meluruskan, tetapi tidak ditemukan. Beruntung ketika menoleh ke arah kiri, beliau melihat putri kecilnya sedang bermain.
"Farida, tolong ambilkan palu, nak !"
Putri kecilnya yang baru berusia 2 tahun sudah terbiasa dengan alat2 tukang kepunyaan ayahnya. Dia juga anak yang lucu dan cerdas, cepat menghafal dan kuat ingatannya meski tanpa diajari satu2.
"Nih..." Farida mengacungkan palu kecil ke ayahnya, tidak salah memang yang diberikannya palu bukan yang lain, meski belum pernah diberi tahu namanya, tetapi karena sering mendengar atau melihat maka dia paham.
         Farida melanjutkan bermain dengan mainan seadanya. Selendang kecil, payung kecil dan beberapa wadah kecil untuk main masak2an. Meski bermain sendirian tanpa teman, dia tidak pernah rewel apalagi merajuk. Dia memang tipe anak yang mandiri, tabah dan 'nrimo'. Tidak pernah meminta apapun pada siapapun. Apa yang dimilikinya baginya sudah cukup, bila menginginkan sesuatu tidak pernah diutarakan pada siapapun, hanya disimpan di hati. Dia hanya menerima apabila diberi, tidak pernah meminta.
         Bundanya, Salma sedang asyik di dapur menumbuk padi untuk di masak karena jauh dari tempat penggilingan padi dan di dipan sudah tersedia daun singkong dan kelapa muda diparut dan dimasak  disantan. Sungguh keluarga yang hidup sederhana dan ikhlas. Masaknyapun dengan 'pawon' ( perapian kuno alat pembakaran ketika memasak. Maka tidak aneh apabila dinding dapur rumah dan dapurnya juga berwarna hitam saking seringnya terkena asap dapur.
            Jam 08.00 pagi masakan sudah tersedia, maklum  Salma bangun pagi sekali sebelum subuh. Tanpa di suruh, Muhamad dan keluarga kumpul di balai tempat mereka makan bersama. Lima keluarga dalam rumah yang bersebelahan satu komplek tetapi sering berkumpul untuk makan bersama. Kali ini hanya 3 keluarga yang berkumpul, yaitu yang 'nukang' bareng, keluarga ayah Salma, keluarga kakak bu Salma dan keluarga Muhamad / Salma sendiri. Salma membagi nasi ke masing2 piring di depannya, mereka mengambil lauk sendiri2 hanya santan daun singkong, tempe goreng  dan sambal terasi. Kenikmatan mereka sangat tampak, meski sederhana tapi ikhlas.
"Ayo...nambah, mad ..." kakak iparnya mempersilahkan Muhamad untuk tidak sungkan nembah makanan.
"Ya, sudah ....cukup, cukup....sampean monggo...katanya
"Ya. nda usah malu2, lha kamu laki2 koq makanya sedikit, nanti nda 'rosa / kuat, lho." ayah mertuanya menimpali. Muhamad hanya terseyum kecil.....
            Farida ikut2an membawa sisa hidangan yang sudah selesai ke dapur, meski hanya membawa piring satu, itu sudah cukup menunjukkan kalau dia bukan anak pemalas. Memang meski baru berusia 2 tahun, dia sudah terlihat karakter positifnya. Suka membnatu bundanya, cepat tanggap, cerdas, lincah dan mandiri serta 'nrimo' nda suka meminta apapun apalagi merajuk, tidak pernah sama sekali, itu karena gen dan didikan dari kedua orangtuanya sebagai anak pertama yang diharapkan menjadi contoh dan pelindung adik2nya kelak.
Cilacap, Sabtu 05 Juli 2014
          

Rabu, 02 Juli 2014

NAMAKU


         
           Satu minggu sudah kehadiran sang buah hati pertama Ustadz Muhammad. Dalam Islam di sunnahkan memberi nama anak dan aqiqah /  tasyakur kelahiran anak dengan menyembelih kambing 2 ekor bagi anak laki2 dan untuk anak perempuan cukup 1 ekor. Ustadz Muhammad yang hanya pegawai kontrak di DPUK Kabupaten Cilacap tidak mampu membeli seeokr kambing meskipun beliau juga kerja sambilan sebagai tukang kayu atau kerja lainnya. Memang orangtuanya adalah tokoh agama dan tokoh masyarakat yang disegani dan termasuk orang kaya di kampungnya, keturunan Kyai dari Kebumen, yaitu K.Muhammad Yunus Muhsin dan Bapak mertuanya menjadi orang terkaya kedua di daerahnya karena masih keturunan ningrat, ayahanda bu Salma, yaitu R Kartareja. Tetapi Muhammad bukan tipe laki2 yang mau menerima pemberian begitu saja dari orang lain, meski dari mertuanya atau ayahnya sendiri sekalipun.
           Maka malam itu malam ke-7 kelahiran putri pertamanya telah mempersiapkan acara pemberian nama 'si jabang bayi' dengan tanpa daging kambing. Hanya meneyembelih seekor ayam jago , 2 kilo telur ayam dan lauk pauk dari sayuran. Nasi 'tumpeng ' telah siap dengan seekor 'ingkung ( ayam kampung jantan yang di rebus dengan bumbu kuning santan ala jawa disajikan utuh ) serta aneka sayur, buah pisang dan jajanan 'ndeso' tertata apik di hamaparan tikar.  Sebenarnya pada waktu masih dalam kandungan 4 bulan dan 7 bulanan juga sudah diadakan acara pembacaan albarzanji, bahkan dibacakan al-Qur'an surat2 terpilih, at -taubah, Lukman, maryam, Yusuf  dengan maksud ibu dan bayinya senatiasa bertaubat, menjaga diri dari segala dosa dan maksiat. Kelak anak yang lahir menjadi anak sholih/ sholihan lahir batinseperti nabi Yusuf bila laki2 dan seperti maryam ibunda nabi Isa bila perempuan, dan senantiasa mentaati ajaran Islam seperti nasehat Lukmanul Hakim pada anak2nya.
        Para undangan telah hadir semua, kurang lebih 40 orang. Mereka duduk melingkar mengelilingi hidangan, tetapi tidak langsung menikmatinya.
" Asalamu'alaikum warohmatullohi wabarokaatuh....."
" Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokaaatuh........" serempak hadirin mnjawab salam Ust Muhamad.
" Alhamdulillahiladzi an'ama 'alaina bini'matil iman wal Islam wa jami'i ni'matihi , wassolatu wasalamu 'ala nabiyil karim SAW  ( hadirin menyaut shollallohu 'alaihi wa salam ) Bapak2 yang saya hormati....marilah kita panjatkan puji syukur kepada Alloh SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, inayah dan nikmatnya kepada kita semua, sholawat dan salam senantia kita sanjungkan ke hadirat Rosululloh SAW, terimakasih atas kehadiran bapak2 yang telah meluangkan waktunya untuk memenuhi undangan saya, pada malam hari ini saya punya hajat memberi nama anak pertama saya yang lahir pada hari senin 27 oktober atau 15 sya'ban seminggu yang lalu. Tetapi sebelumnya saya mohon keikhlasan babak2 untuk bersama membaca shalawat al-barzanji  beberapa lembar, untuk mengingatkan pada kita akan kelahiran Nabi Muhammad SAW, sebagai uswatun hasanah. Saya juga berharap dengan dibacakannya kisah2 kelahiran Nabi Muhammad dan bersholawat pada Beliau akan menjadi wasilah dan doa semoga putri saya menjadi anak yang sholihah, berbakti pada kedua orangtua , negara dan Agama, Amiin. " ( hadirin menyaut, aamiin...).
    "A'dzubillahiminasyaithonirojim, bismillahirohmanirrohiim, abtadiul imlaa...abismidatil 'aliyah.....( Alloh...seru hadirin ) .....demikian bait demi bait kisah Rosululloh SAW di baca secara bergantian oleh beberapa orang yang dipilih, yang lainnya menyahut, Alloooh....sampai pada srakal ( bacaan sajak/ bait puisi puji2an pada pribadi Rosululloh yang sangat mulia, hadirin berdiri untuk mencukur rambut bayi berusia 7 hari itu secara bergiliran. Dengan digendong bundanya dan dibimbing ayahandanya bayi mungil itu dibawa keliling bergantian ke para hadirin untuk dicukur. Para hadirin tidak merasa ragu untuk mencukur karena rambutnya hitam, lebat dan panjang bagai anak usia 3 tahun. Ustadz Muhamammad mendahului mencukur dengan bersholawat.......
"Ya Rosulalloh salamun'alaik...ya Rofi'asani wadaroji, 'atfata ya ji rotal 'alamiin ya uhai laljudi wal karomi....
Sampai akhirnya dianggap cukup bacaan2 yang dipilih karena tidak mungkin menyelesaikan satu buku sejarah Nabi yang di tulis oleh al-Barzanji itu.
             Segera 'megari ( nama petugas pembagi nasi tumpeng ), maklum tumpeng yang cuma 1-3  dan ayam jago 1 ekor dibagi 40 orang, jadi harus ada yang biasa membagi bila tidak pasti akan bingung bagaimana membaginya, jadi butuh keahlian khusus, yang orang disebut megari. Budaya peninggalan Jawa Hindu dan politheisme ketika mereka mendoakan  merayakan sesuatu untuk memohon pada para dewa yang dilestarikan oleh Walisongo, penyeru ajaran Islam. Hal ini tentu saja telah disesuaikan dengan ajaran Islam.Misalnya ritual doanya bukan meminta pada dewa, roh leluhur atau makhluk lain tetapi pada Alloh SWT. Mantera-mantera magic diganti dengan kalimah toyyibah , sholawat dan doa2, makanan yang pada waktu jaman Jawa Hindu disajikan untuk para dewa dan leluhur ,sekarang dibagi untuk sodaqoh dan hadiyah bagi para hadirin yang diundang untuk dimakan bersama dan dibawa pulang untuk keluarga yang menunggu di rumah. 
Sehingga budaya 'kenduri/ kepungan/ syukuran ' ini menjadi budaya yang sangat bagus untuk berbagi, kebersamaan, sillaturhaim , shodaqoh  dan persatuan serta persaudaraan sesama Muslim dan umat manusia.
           Setelah doa penutup, Ustadz Muhammad mengumumkan...
"Alhamdulillah.....terimaksih bapak2, acara berjalan lancar, penuh hikmat tanpa ada halangan apapun. Selanjutnya saya akan menyampaikan bahwa putri kami akan kami beri nama " Derita Tuti Munfarida". Mohon doa restunya semoga bisa menjadi perempuan seperti arti namanya. Amiin. Terimaksih atas kehadiran dan doanya, semoga menjadi amal sholih bagi bapak2, kami tidak bisa membalas apa2, hanya Alloh SWT yang akan membalas amal baik kita semua. Amiin. Wasalamu'alaikum warohmatullohi wabarokaatuh."  Sambil menikmati hidangan, dilantunkan beberapa tembang Islami, dari grup qashidah pimpinan Ustadz Muhammad ,yang multi talnt. Hadirin juga dipersilahkan kembali ke rumah masing2 bagi yang sudah merasa cukup merasa cukup menikmati hidangan.
         Kata ayahku Namaku adalah nama dari kesepakatan beliau  berdua, ibu  saya ingin memberi nama saya "Derita' dengan maksud hidupnya bahagia selamanya, tidak pernah menderita, sedangkan Farida adalah nama teman perempuan ayah yang dikagumi karena kecantikan dan kepandaiannya, ibu  berharap sejak awal anak pertama beliau  lahir perempuan dan akan memberi nama dengan nama peempuan yang disukai oleh ayah dengan harapan ayahku akan melupakan Farida, karena sudah dapat pengganti, putrinya sendiri sebagai penyejuk hati. Kupikir aneh juga ibuku, masa ingin membuang kennagan ayah dengan wanita idolanya malah dengan anak perempuan sendiri, diberi nama dengan namanya lagi, ah, aku tak menngerti jalan pikiran bundaku itu. Sedangkan Tuti adalah nama idola pada zaman itu maka ibuku membubuhkan nama tersebut, nama yg lagi ngetren, he..he.
          Belakangan setelah aku dewasa aku mengartikan namaku dengan versiku sendiri. Derita sudah tidak masuk menjadi namaku semenjak aku mendaftar sekolah di SD karena aku masuk SD ketika akau ikut nenek di desa Mlipak Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap. Saat aku ditanya namaku siapa aku hanya menjawab "mum" panggilanku sehari2,lalu kakak seppu perempuanku yang sudah kelas 2 SD waktu itu mengatakan pada Guruku namaku 'mumfaridah". Ketika kelas 6 ada pendataan calon peserta ujian akhir SD aku diberi tahu kalau namaku 'Tuti Munfarida". Berasal dari bahasa arab maka panggilan Mun menjadi Mum karena ada huruf nun mati bertemu fa ( bacaan ikhfa ). Maka aku memperbaiki nama panjangku Tuti Munfarida, tetapi guru SD ku ternyata orang Muslim yang alim, tahu tata bahasa arab/ ilmu nahwu- shorof/ gramatika bahasa arab. Sehingga namaku ditulis Tuti Munfaridah ( huruh h dibelakang adalah ciri abhasa arab kalau aku perempuan akata beliau ) walaupun sampai saat ini aku tidak  suka dengan huruf h ini. Tetapi sudah ditulis dijazah SD samapai saat ini. Sedangkan nama Derita baru ku ketahui setelah aku sekolah SMP kata ibuku, sebenarnya namaku Derita Tuti Munfarida. Tetapi aku tidak suka dengan nama derita karena seperti nama kalimat, juga  aku takut dipanggil Rita bila nama Derita menempel karena nama temanku Rita adalah perempuan 'nakal' sejak remaja. Na'udzubillah, aku nda ingin seperti dia. Maka sampai saat ini namaku Tuti Munfaridah.
          Setelah aku dewasa dan mengaji aku mengartikan namaku sendiri, dengan arti : Tuti berasal dari bahasa arab : Tuti ' ; yang berarti taat/ mampu ( tatho'a ). Sedangkan Munfaridah : artinya sendiri. Maka aku menafsiri namaku sebagai ; perempuan mandiri yang taat kepada Alloh SWT atau perempuan yang memiliki keistimewaan/ kemampuan tersendiri. Amiin.
Cilacap, kamis pon 03 Juli 2014