Pagi itu rumah Keluarga Muhamad tampak hitmad, karena para anggota keluarga sedang menanti kehadiran anggota baru, adik Farida, anak kedua bunda Salma akan lahir menambah keramaian keluarga. Mbah Dukun dan para anggota keluarga telah siap2. Eyang Samina, bunda dari bunda Salma tampak sibuk mengatur orang2 yang hadir.
"Mad, kamu di sini saja, dekat Salma jangan jauh2, bantu Salma dengan doa dan berikan semangat biar lancar melahirkan..." Kata Beliau
"Njih, bu...." Ustadz Muhammad menganggukan kepalanya."Ini mbah 'uborampe ( peralatan-jawa ) buat si jabang bayi...." Eyang Mina menyodorkan seperangkat alat persiapan menerima bayi lahir. Dari mulai 'bokor ( bejana-jawa ) tempat air untuk mandi bayi, handuk kecil, minyak telon, popok,grita dll.
"Farida...sana keluar nak, main sama teman2mu, ra 'ilok' anak kecil melihat orang melahirkan." Bunda Salma masih sempat menyuruh putri kecilnya keluar kamar, karena akan berpengaruh bagi psikologis anak kalau menyaksikan orang melehirkan. Baik karena melihat darah yang cukup banyak maupun proses melahirkan yang sangat berat serta melihat aurat bundanya sendiri.
Farida kecil hanya menurut dan tak luput memperhatikan para tingkah orang2 disekitarnya sambil ikut diam dan merekam kejadian2 dalam memory otak mungilnya. Dalam hati mungilnya terbersit rasa senang dan bahagia akan mempunyai adik, teman bermain yang akan disayangi dan dibimbing sepanjang hari2nya kelak.
Sudah beberapa jam belum lahir juga. Karena sudah agak siang Ustadz Muhamad beranjak akan makan pagi setengah siang karena sudah jam 10 dan dari tadi pagi belum makan pagi. Tidak lupa melengkapi menu lauknya yang unik yaitu cabai hijau bakar tungku 'pawon'. Inilah barangkali yang kelak setelah dewasa Farida jadi suka makan cabai hijau bakar/ goreng untuk lauk barangkali turunan dari ayahnya. Karena kata bundanya dulu saat Farida dalam kandungan, ayahandanya suka sekali menu ini. Sebenarnya bukan cabai hijau bakarnya yang disukai, awalnya hanya suka cabai rawit hijau segar untuk 'cigit' ( makan cabai 1-2 butir pelengkap makan ) petik langsung dari pohon di kebun, tapi terkadang cabai rawit masih muda2, maka memetik cabai merah karena masih muda juga maka dibakar untuk menghilangkan bau 'langu' ( bau cabai hijau yang masih muda ). Hal ini dikatakan beliau saat Farida dewasa mendengar Bundanya mengatakan kebiasaan ayahandanya. Farida dewasa hanya berkata dalam batin,pantes aja aku kalau lihat cabai rawit muda atau cabai besar yang masih hijau bawaannya pengin makan / 'cigit' ternyata menurun dari kebiasaan ayahku.
Baru saja beberapa suap makan,tiba2....
"Mad...ayo sini, nie cabang bayinya mau keluar..." Eyang Samina memanggil.
"Njih, Mbah....Ustadz Muhamad meletakkan piring, membersihkan tangan dan buru2 menuju kamar tempat istrinya melahirkan.
" oe...oe....pada hari kamis pahing 31 Desember 1971 seorang bayi laki2 lahir selamat, sehat, tidak cacat sedikitpun. Baru 2 tahun menikah Ustad Muhamad sudah dikaruniai 2 orang anak. Senin pon 27 Oktober 1969/ 15 syaban lahir Tuti Munfarida ( Farida ). Dan saat ini putra keduanya.
"Alhamdulillah....serentak yang hadir memuji kebesaran Alloh yang telah membuat semuanya lancar dengan karunia yang tiada terhingga ini.
"Allohu Akbar2 ...la ilaha illalloh...Ustadz Muhammad mengumandangkan adzan di telingan kanan dan iqomah di telinga kiri si jabang bayi, anak keduanya.
Seperti saat Farida lahir seminggu kemudian diadakan ritual pemberian nama dengan 'kenduri' mengundang warga sekitar, membaca sholawat al barzanji dan kalimat2 toyibah. Nama anak keduanya Puji Waluyo, karena beberapa bulan sebelum melahirkan Puji Waluyo Ustadz Muhamad sakit parah, dengan nama Puji Waluyo ( memohon keselamatan-jawa ) pada anak keduanya berharap sehat seperti sebelumnya sehingga bisa mengasuh dan mendidik anak2nya.
Setelah dewasa kini Farida baru sadar, ternyata usianya baru 2 tahun saat adiknya lahir, tapi mengapa begitu jelas dalam ingatanya semua peristiwa dan kejadian2 pada saat itu. Farida ingat betul saat bundanya menyruh keluar dari kamar, saat ayahnya belum selesai makansudah berhenti untuk mensupport bundanya melahirkan, saat mbah dukun menerima bayi diatas 'tampah' ( tempayan tempat menyiapkan sayur kalau mau masak sebagai adat jawa menerima bayi lahir dari rahim ibunya ). Ingat semuanya, apakah karena kecerdasan otaknya , atau karena kejadian ini sangat berkesan baginya sehingga membekas, mengendap kuat dan mendalam tak terlupakan dalam ingatannya. Entahlah...yang jelas tidak banyak anak2 seusianya yang bisa merekam peristiwa dengan lengkap dan detail.
Cilacap,senin wage 18/ 08/ 2014/ 20 syawal 1435 H
"Mad, kamu di sini saja, dekat Salma jangan jauh2, bantu Salma dengan doa dan berikan semangat biar lancar melahirkan..." Kata Beliau
"Njih, bu...." Ustadz Muhammad menganggukan kepalanya."Ini mbah 'uborampe ( peralatan-jawa ) buat si jabang bayi...." Eyang Mina menyodorkan seperangkat alat persiapan menerima bayi lahir. Dari mulai 'bokor ( bejana-jawa ) tempat air untuk mandi bayi, handuk kecil, minyak telon, popok,grita dll.
"Farida...sana keluar nak, main sama teman2mu, ra 'ilok' anak kecil melihat orang melahirkan." Bunda Salma masih sempat menyuruh putri kecilnya keluar kamar, karena akan berpengaruh bagi psikologis anak kalau menyaksikan orang melehirkan. Baik karena melihat darah yang cukup banyak maupun proses melahirkan yang sangat berat serta melihat aurat bundanya sendiri.
Farida kecil hanya menurut dan tak luput memperhatikan para tingkah orang2 disekitarnya sambil ikut diam dan merekam kejadian2 dalam memory otak mungilnya. Dalam hati mungilnya terbersit rasa senang dan bahagia akan mempunyai adik, teman bermain yang akan disayangi dan dibimbing sepanjang hari2nya kelak.
Sudah beberapa jam belum lahir juga. Karena sudah agak siang Ustadz Muhamad beranjak akan makan pagi setengah siang karena sudah jam 10 dan dari tadi pagi belum makan pagi. Tidak lupa melengkapi menu lauknya yang unik yaitu cabai hijau bakar tungku 'pawon'. Inilah barangkali yang kelak setelah dewasa Farida jadi suka makan cabai hijau bakar/ goreng untuk lauk barangkali turunan dari ayahnya. Karena kata bundanya dulu saat Farida dalam kandungan, ayahandanya suka sekali menu ini. Sebenarnya bukan cabai hijau bakarnya yang disukai, awalnya hanya suka cabai rawit hijau segar untuk 'cigit' ( makan cabai 1-2 butir pelengkap makan ) petik langsung dari pohon di kebun, tapi terkadang cabai rawit masih muda2, maka memetik cabai merah karena masih muda juga maka dibakar untuk menghilangkan bau 'langu' ( bau cabai hijau yang masih muda ). Hal ini dikatakan beliau saat Farida dewasa mendengar Bundanya mengatakan kebiasaan ayahandanya. Farida dewasa hanya berkata dalam batin,pantes aja aku kalau lihat cabai rawit muda atau cabai besar yang masih hijau bawaannya pengin makan / 'cigit' ternyata menurun dari kebiasaan ayahku.
Baru saja beberapa suap makan,tiba2....
"Mad...ayo sini, nie cabang bayinya mau keluar..." Eyang Samina memanggil.
"Njih, Mbah....Ustadz Muhamad meletakkan piring, membersihkan tangan dan buru2 menuju kamar tempat istrinya melahirkan.
" oe...oe....pada hari kamis pahing 31 Desember 1971 seorang bayi laki2 lahir selamat, sehat, tidak cacat sedikitpun. Baru 2 tahun menikah Ustad Muhamad sudah dikaruniai 2 orang anak. Senin pon 27 Oktober 1969/ 15 syaban lahir Tuti Munfarida ( Farida ). Dan saat ini putra keduanya.
"Alhamdulillah....serentak yang hadir memuji kebesaran Alloh yang telah membuat semuanya lancar dengan karunia yang tiada terhingga ini.
"Allohu Akbar2 ...la ilaha illalloh...Ustadz Muhammad mengumandangkan adzan di telingan kanan dan iqomah di telinga kiri si jabang bayi, anak keduanya.
Seperti saat Farida lahir seminggu kemudian diadakan ritual pemberian nama dengan 'kenduri' mengundang warga sekitar, membaca sholawat al barzanji dan kalimat2 toyibah. Nama anak keduanya Puji Waluyo, karena beberapa bulan sebelum melahirkan Puji Waluyo Ustadz Muhamad sakit parah, dengan nama Puji Waluyo ( memohon keselamatan-jawa ) pada anak keduanya berharap sehat seperti sebelumnya sehingga bisa mengasuh dan mendidik anak2nya.
Setelah dewasa kini Farida baru sadar, ternyata usianya baru 2 tahun saat adiknya lahir, tapi mengapa begitu jelas dalam ingatanya semua peristiwa dan kejadian2 pada saat itu. Farida ingat betul saat bundanya menyruh keluar dari kamar, saat ayahnya belum selesai makansudah berhenti untuk mensupport bundanya melahirkan, saat mbah dukun menerima bayi diatas 'tampah' ( tempayan tempat menyiapkan sayur kalau mau masak sebagai adat jawa menerima bayi lahir dari rahim ibunya ). Ingat semuanya, apakah karena kecerdasan otaknya , atau karena kejadian ini sangat berkesan baginya sehingga membekas, mengendap kuat dan mendalam tak terlupakan dalam ingatannya. Entahlah...yang jelas tidak banyak anak2 seusianya yang bisa merekam peristiwa dengan lengkap dan detail.
Cilacap,senin wage 18/ 08/ 2014/ 20 syawal 1435 H
Tidak ada komentar:
Posting Komentar