
Sore itu keluarga Ustadz Muhammad sibuk berbenah awal karena nanti malam ada pertunjukan layar tancap di pasar kubangkangkung. Masyarakat menyambut gembira pertunjukan layar tancap yang hanya diselenggarakan pada moment2 tertentu, tidak mesti bisa sewaktu2, bahkan bisa hanya 1x dalam setahun. Termasuk beberapa anggota keluarga Untadz Muhamad.
Untuk sampai ke lokasi jaraknya kurang lebih 5 kilometer dari dusun bojong menuju pasar kubangkangkung. Masyarakat ramai beriring2an berjalan kaki menuju pasar. Dengan 'sempor ' / obor bambu ( jawa ) mereka mengajak sanak keluarganya beramai2 menuju pertunjukannya. Termasuk Farida juga diajak oleh bundanya. Mereka berangkat bersama, bu lik, pak lik, keponakan berjalan kaki sejauh 5 kilometer.
Farida sendiri tidak tahu film apa yang akan diputar, bahkan sampai saat ini tidak bisa mengingatnya. Farida juga tidak tahu mengapa mereka beramai2 nonton film sejauh itu. Farida juga tidak tahu apakah mereka capai atau tidak. Yang diingat hanya, pada malam itu bersama menyusuri hutan jati, padang ilalang dan lewat dipinggir jalan kereta api jauuhhh sekali, dalam gelap dan sepi diiringi bunyi hewan2 hutan, jangkrik dan burung hutan. Farida juga ingat keluarganya begitu gembira, bercerita dan bersendau gurau penuh keakraban sepanjang perjalanan sampai ke tujuan. Tiba2 pak lik Sawon berbalik memanggil bunda Farida.
"Tuh, mba adikmu sedang 'mborong' jajan.'" pak lik bermaksud memberitahu bunda Salma untuk menegur adiknya supaya tidak boros. Ternyata bu lik Ane berbarengan dengan penjual jajan yg hendak berjualan di pertunjukan layar tancap, dan di borong jajanannya di tengah jalan sebelum sampai lokasi.
"Iya, emang istrimu itu hobi banget jajan, di mana2 tetap jajan, lha wong gelap2 begini koq ya, 'kober2nya beli jajan." Bunda Salma menimpali samapil berbalik menuju bu Lik Anem
"Soal jajan sih nda apa2 bu de, asal secukupnya aja, borosnya itu lho yang yang ketulungan, coba lihat aja pasti nanti diborong semua tuh jajannya." Pak lik menambahkan.
"Sudah, yuk....cukup, jangan banyak2, nanti malah nda habis, siapa yang mau makan jajan sebanyak itu ?" Bunda Salma mengajak bu Lik jalan lagi.
Memang bu Lik Ane terkenal boros dan tidak perhitungan. Pernah waktu masih duduk di kelas 4 SR (sekolah rakyat ) mengambil uang ayahnya rp.1,- untuk mborong jajan dan dibagi2kan untuk teman sekelasnya.
Sampai selesai film diputar Farida tidak mengerti apa yang ditonton, entah film apa. Segenap keluarga beranjak pulang. Dari stasiun kubangkangkung menyusuri pinggiran rel berjalan bersama, karena sudah makin gelap Faridapun di 'ingkling' (duduk diatas pundak) oleh pamannya, yang adik ipar bundanya.
Baru 1 kilo meter dari stasiun, tiba2 Farida kepengin 'pipis'. Gelap, dingin dan sepi. Sungguh suasana yang menakutkan bagi anak2. Tapi Farida yang baru berusia 3 tahun tidak merasa takut. Justru saat ini dia hanya merasa bingung, hatinya bercakap2 sendiri.
"Aku kepengin pipis tapi aku malu mengutarakan pada pak lik.' batinnya yang pemalu.
"Ah,aku tahan ajalah sampai rumah, ntar aja pipis di rumah.' jawab hatinya lagi
Semua yang dewasa berjalan sambil sesekali bercerita isi film yang diputar tadi, tapi tidak seramai saat berangkat. Mungkin karena sudah malam, mereka lelah dan ngantuk.
"Lho...apa ini ?" Tiba2 Pak Lik Sawon berteriak kecil karena kaget, ada sesuatu yang hangat mengalir dari pundak ke arah dada dan perutnya.
"Kenapa, pak lik ?" Bunda Salma bertanya.
"Nda tahu bu de, apa Farida pipis, ya ?" Jawab pak lik
"Farida, kamu pipis ?" bunda Salma bertanya pada Farida. Mereka berhenti sejenak untuk memastikan apakah Farida kencing atau tidak.
"Coba turun sebentar, lihat celanamu..." Pak lik menurunkan Farida dari pundaknya.
"Oh...bener kamu pipis to, nak, koq nda bilang, to ?" Bunda Salma memeriksa celana Farida. Semua tertwa menertawakan pak Lik
"Kapok pak lik, dikencingi tuh sama keonakannya ."Bunda Salma tertawa kecil sambil bergurau. Semua anggota keluarga tertawa ramai menyaksikan kejadian lucu ini, memecah kesunyian malam.....Merekapun melanjutkan perjalanan untuk pulang.
Farida hanya diam, saat di tanya mengapa kencing tidak bilang2. Tapi sebenarnya di hatinya yang paling dalam dia sangat menyesal dan maluuuuuu banget. Farida tidak mau bilang kepengin pipis karena malu pada semua orang, bila pipis di tengah perjalanan dan malu pada pak liknya, sehingga dia memilih menahan pipis karena dalam pikiran mungilnya akan bisa menahan sampai rumah, tapi malah kencing di pundak pak liknya, aduuuhhh lebih maluuu...dech. 'Kalau tahu begini dari tadi aku bilang biar nda bikin malu ngencingi pak lik' batin kecilnya sibuk menjelaskan mengapa dia tidak bilang kebelet pipis dan betapa malunya dia. Betapa ingin mulut mungilnya menjelaskan ini dan meminta maaf yang sedalam2nya pada semuanya, terutama pada pak lik tercinta yang sudah memanggul pulang balik perjalanan.
Sayang sekali pak liknya tidak berumur panjang, Beliau meninggal saat Farida masih balita atau anak2, Farida sendiri belum ingat betul kejadian tersebut, sehingga tidak sempat meminta maaf, karena masih kecil. Seandainya sampai dewasa pak Liknya masih hidup pasti dia akan meminta maaf. Meskipun begitu pak Liknya pasti meamafkannya karena usianya baru 3 tahun, belum pantas dianggap bersalah atas perbuatannta. Inilah barangkali yang bisa jadi pembelajaran buat kita untuk tidak menvonis nakal pada perbuatan anak2 yang terkadang menjengkelkan, tapi sebenarnya mereka bermaksud baik dan tidak disengaja.
Cilacap, ahad legi, 14 september 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar