Musim panen telah usai, para Petani tdk pergi ke sawah. Mereka mengerjakan tugas lanjutan rutin masing2, menjemur padi. Sementara para buruh tani mencari sisa-sisa padi panen yang tidak terjangkau para pemetik padi. Lumayan ...bisa buat penyambung nyala dapur. Padi yang dihasilkan dari sisa panen pemilik sawah biasanya memang bebas dipetik siapapun, sambil menunggu musim tandur/ tanam padi yang baru.
Mbok Minah dan mba Tini tiba2 lewat depan rumah nenek Tami....
"Hari ini kita ngasag (memetik padi sisa panen-pen) di sawah siapa, yu ?" Tanya Tini pada Mbok Minah.
"Di sawah Mbah Tami aja, di sana luas dan masih baru panennya, jadi belum ada yang ngasag." Jawab Mbok Minah yakin.
"Oh...ya, benarkah ? Bagus kalau begitu, bisa dapat padi lumayan hari ini kita." Wajah Tini berseri penuh harapan.
"Eh...tapi jangan seneng dulu....siapa tahu kita sudah kedaluan orang lain, atau di sana sudah banyak yang lagi ngasag juga...." Mbok Minah memperingtakan Tini supaya tidak terlalu kecewa kalau ternyata nanti sudah banyak teman yang ngasag di Sawah Mbah Tami, nenek Farida.
Farida yang sedang menjemur pakaian kecilnya mendengar pembicaraan Mbok Minah dan lik Tini, tiba2 ingin ikut....Tapi karena Farida sangat pemalu dan tidak enak hati-an/ rikuh ( jawa-pen) tidak mau bilang pada mereka. Farida hanya mengikuti dari belakang bersama kakak sepupunya mba Sri.
"Eh, Farida, ntar kalau dapat telor kita jual, ya...uangnya kita simpan kalau sudah banyak bisa buat beli baju lebaran..."Kata Sri. Sri memang anak yang sangat irit ( gemi -Jawa-pen) rupanya ajaran Eyang Tami untuk bisa mengatur keuangan dan rajin menabung.
"Iya,mba." Farida menjawab lirih karena memang Farida sangat segan pada kakak sepupunya. Kawatir dimarahi atau bahkan dijambak (ditarik rambutnya-Jawa-pen).
Dugaan Mbok Minah benar, sampai di sawah ternyata sudah banyak ibu-ibu buruh tani yang siap ngasag. Di sana juga sudah banyak anak-anak yang ikut ibu mereka , yang remaja ikut membantu memetik padi sisa, yang masih anak-anak ada yang berburu telur bebek, mencari belut atau ikan sawah bagi yang laki2. Sungguh suasana yang menyenangkan, bekerja sambil santai, sehingga lupa pada rasa lelah. Apalagi bagi yang dapat memetik padi lebih banyak atau dapat ikan/ belut banyak. Bahagianya.....
Tiba-tiba dari arah timur....
"Hey...aku nemu telur....." Seru Ardi kegirangan karenamenemukan telur di balik rerumputan pinggir pematang sawah.
"Ih, seneng yah kamu...coba lihat" Salman mendekat ke arah Ardi
"Nih....masih bagus ..lho, belum busuk."Ardi menujjukkan telor temuannya.
Sementara ibu2 pencarai padi sudah agak lumayan dapatnya. Farida sendiri belum dapat apa-apa, seperti biasanya anak terkecil, hanya mengalah dan ikut2an, tapi sudah cukup bahagia, sejenak melupakan kerinduannya pada orangtua dan adik-adiknya yang tinggal di kota. Tidak ada yang tahu hari demi hari bahkan detik2 demi detik adalah kesedihan dan duka bagi Farida, gadis kecil, balita yang harus tinggal terpsah dari keluarganya dan dititipkan pada neneknya di desa,...melakukan semua tangung jawab dan pekerjaannya sendiri, mandi, sekolah, bahakan mencuci baju sendiri, mandiri di usia yang masih di bawah umur. Kelak inilah salah satu faktor yang menyebabkan dia tumbuh menjadi wanita yang tangguh dan mandiri.
"Alloohu Akbar, Alloohu Akbaar...." Terdengar Adzan dhuhur berkumandang dari kejauhan. Semua bersiap pulang, masyarakat desa yang taat beragama, begitu ulet mencari nafkah, baik laki-laki maupun perempuan, tetapi tetap menomor satukan pengabdian pada Tuhannya. Mungkin ini juga yang membentuk Farida sangat memperhatikan agamanya, disamping Ayahandanya yang juga ahli jihad fi sabilillah yang senantiasa mengajarkan nilai-nilai Islami dan mendidik Farida dengan sangat ketat.
"Eh, apa itu...putih-putih...." Farida menunjuk ke arah bawah kerumunan pohon padi yang sudah dipetik padinya, sambil berusa menuju ke sana unutk memastikan dan mengambil benda bulat putih yang kemungkinan adalah telur ayam.
"Asyik...aku dapat..." Tiba2 Sri menjerit kegirangan meraih telur lebih dulu. Lagi2 Farida cuma bisa mengalah dan melihat, ini juga yang menjadi sifat dan kepribadian Farida setelah dewasa kelak. Mengalah karena sejak balita sudah harus mengalah pada Mba sepupu atau saudara2nya.
Bukan main gembiranya Sri dapat telur ayam...Ardi juga senang dengan telur bebek temuannya. Anak-anak lain tidak ada yang dapat tapi mereka tidak iri pada rejeki temannya. Mereka terbiasa tulus, siapa yang dapat berarti itu rejekinya. Sungguh ketulusan yang hakiki, persaudaraan anak-anak desa yang lugu dan penuh niali-nilai kebaikan.
Sebelum sampai di rumah Sri mampir ke warung untuk menjual telur temuannya. Lalu uangnya di masukkan ke celengan ayam miliknya ( wadah tempat menyimpan uang tabungan anak2 yang terbuat dari tanah liat. Lalu Sri dan Farida pergi mandi dan bersiap sholat dhuhur...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar