Saat umur 5 th Farida di kirim ke desa Mlipak di Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap, karena Ustadz Muhammad kembali ditugaskan di kota Kabupaten. Karena Proyek pembangunan jalan Cilacap- Kawunganten sudah usai. Kalau di ajak ke Cilacap terasa repot dengan 3 anak, dan anak pertama baru berumur 5 th.
Neneknya adalah perempuan jawa yang sangat tangguh, memiliki 14 anak, dengan pekerjaan rumah tangga yang padat, masih bekerja di sawah atau di kebun pada masa-masa tertentu, misalnya ; saat musim tanam, "matun ( jawa )" , atau musim panen. Beberapa petak sawah dan tanah di desa dengan beberapa orang pekerja/ buruh tani nenek termasuk orang yang ulet ikut ke sawah meski hanya mengawasi buruh dan menunjukkan lokasi dan padi mana yang mesti dipanen dulu.
Farida sangat suka saat ikut nenek ke sawah. Di sana banyak belalang, bahkan bisa sampai ratusan/ ribuan bila musim belalang datang.
"pyuuur....." segerombolan belalang terbang menghindar saat para pemetik padi mendekati area persawahan.
" Pyak...." Farida berusaha menjaring belalng dengan jaring buatan sendiri yang sudah di bawa dari rumah. Jaring dari plastik kiloan yang diikatkan pada sebilah kayu seperti ketika menangkap kupu2.
" Ah ! ngga kena..." Seambil terus berjalan mengikuti nenek dan sepupunya serta para pekerja pemetik padi melewati pematang sawah.
"Aha...kena, kamu ! Tiba2 Farida berseru gembira karena jaringnya berhasil menangkap seekor belalang sawah yang sedang asyik makan biji padi dia atas pohonnya.
"Oh, kamu dapat, ya...? Aku belum, lho." Sri kakak sepupu Farida melihat kea arah Farida.Nenek Tami senyum2 bahagia menyaksikan cucu2nya bermain penuh tawa ria, bergembira bersama.
Rombongan pemetik padi sudah agak jauh masuk pematang. Nenek Tami memandang kanan kiri dengan teliti, di sebelah mana padi yang sudah siap panen.
"Bu...., pak....berhenti, di belah sini dulu yang dipetik, nih sudah banyak yang tua." Nenek Tami menunjuk ke arah padi yang sudah kuning matang membuat senang bagi mata yang memandang.
"Njih, mbah..." Hampir serempak para buruh tani menjawab bersamaan. Mereka segera turun dari pematang menuju ke sawah yang sudah menguning tersebut.
Saat nenek Tami menagwasi para pekerja dan para buruh tani memetik padi, Farida dan Sri asyik lari ke sana kemari mengejar dan menangkap belalang. Hari sudah agak siang adzan dhuhur hampir berkumandanga.
"Bapa2... ibu2....istirahat dulu, mari kita makan siang dulu, nanti kita teruskan setelah sholat dhuhur." Nenek Tami mengajak para pekerja Ishoma ( istirahat, sholat dan makan ).
"Ayo kita makan, tuh sudah dipanggil mbah..." kata bu Dinem mengajak bu Warti. Tanpa menjawab bu Warti langsung mengajak semua temennya.
"Bapak2...ibu2....kita istirahat dulu, mari makan dulu." Katanya.
Farida...Sri...ayu makan cah ayu....nanti pulang...jangan lama2 di sawah nanti kalian sakit."Nenek Tami mekan kedua cucunya dan menyuruh pulang setelah makan tidak boleh sampai sore kewatir cucunya sakit.
Pak Paiman mengambil tas besar yang berisi 30 "penggel" ( nasi bungkus yang di bungkus daun dengan menu kuliner Jawa ).
"Ndi...penggele, jal bu...aku njaluk telu kiye go sebelah kene." Bu Narti minta 3 bungkus nasi ke teman sebelahnya untuk mengambilkan, bu Ijah. Suasana yang penuh persaudaraan, kebersamaan, nikmat, penuh syukur dengan menikmati menu hidangan kuliner "ndeso" yang alami, bebas pengawet dan pewarna buatan atau "ayam tiren".
"Farida, yuk kita pulang....nanti diamarahi nenek lho kalau kita nda pulang. " Ajak Sri
" Yuk ! Nih akau dapat belalang banyak, coba lihat punyamu, mba....!" kata Farida.
"Nih...wah...banyak punyaku..daripada punyamu".kata Sri gembira.
" Ya, iya ,lah...kan mba Sri lebih gede darikuku, hehe...." Farida tersenyum meledek kakak sepupunya.
Sampai di rumah, belanag di bersihkan dan dibumbui lalu digoreng. Memang di desa jaman dulu 70 an, belalang masih banyak di sawah2 dan oarang2 di desa memanfaatkan sebagai lauk makan atau sekedar cemilan, maka tidak ada yang merasa "jijik", bahakan terasa gurih dan nikmat. Ternyata di man internet saat ini diberdayakan lagi dan menjadi cemilan/ lauk mewah yang cukup mahal karena berdasarkan penelitian ternyata belalang mengandung protein yang tinggi dan sangat sulit dicari. Hemm.....ternyata ' keren juga' orang desa, yah ?
Farida sangat suka saat ikut nenek ke sawah. Di sana banyak belalang, bahkan bisa sampai ratusan/ ribuan bila musim belalang datang.
"pyuuur....." segerombolan belalang terbang menghindar saat para pemetik padi mendekati area persawahan.
" Pyak...." Farida berusaha menjaring belalng dengan jaring buatan sendiri yang sudah di bawa dari rumah. Jaring dari plastik kiloan yang diikatkan pada sebilah kayu seperti ketika menangkap kupu2.
" Ah ! ngga kena..." Seambil terus berjalan mengikuti nenek dan sepupunya serta para pekerja pemetik padi melewati pematang sawah.
"Aha...kena, kamu ! Tiba2 Farida berseru gembira karena jaringnya berhasil menangkap seekor belalang sawah yang sedang asyik makan biji padi dia atas pohonnya.
"Oh, kamu dapat, ya...? Aku belum, lho." Sri kakak sepupu Farida melihat kea arah Farida.Nenek Tami senyum2 bahagia menyaksikan cucu2nya bermain penuh tawa ria, bergembira bersama.
Rombongan pemetik padi sudah agak jauh masuk pematang. Nenek Tami memandang kanan kiri dengan teliti, di sebelah mana padi yang sudah siap panen.
"Bu...., pak....berhenti, di belah sini dulu yang dipetik, nih sudah banyak yang tua." Nenek Tami menunjuk ke arah padi yang sudah kuning matang membuat senang bagi mata yang memandang.
"Njih, mbah..." Hampir serempak para buruh tani menjawab bersamaan. Mereka segera turun dari pematang menuju ke sawah yang sudah menguning tersebut.
Saat nenek Tami menagwasi para pekerja dan para buruh tani memetik padi, Farida dan Sri asyik lari ke sana kemari mengejar dan menangkap belalang. Hari sudah agak siang adzan dhuhur hampir berkumandanga.
"Bapa2... ibu2....istirahat dulu, mari kita makan siang dulu, nanti kita teruskan setelah sholat dhuhur." Nenek Tami mengajak para pekerja Ishoma ( istirahat, sholat dan makan ).
"Ayo kita makan, tuh sudah dipanggil mbah..." kata bu Dinem mengajak bu Warti. Tanpa menjawab bu Warti langsung mengajak semua temennya.
"Bapak2...ibu2....kita istirahat dulu, mari makan dulu." Katanya.
Farida...Sri...ayu makan cah ayu....nanti pulang...jangan lama2 di sawah nanti kalian sakit."Nenek Tami mekan kedua cucunya dan menyuruh pulang setelah makan tidak boleh sampai sore kewatir cucunya sakit.
Pak Paiman mengambil tas besar yang berisi 30 "penggel" ( nasi bungkus yang di bungkus daun dengan menu kuliner Jawa ).
"Ndi...penggele, jal bu...aku njaluk telu kiye go sebelah kene." Bu Narti minta 3 bungkus nasi ke teman sebelahnya untuk mengambilkan, bu Ijah. Suasana yang penuh persaudaraan, kebersamaan, nikmat, penuh syukur dengan menikmati menu hidangan kuliner "ndeso" yang alami, bebas pengawet dan pewarna buatan atau "ayam tiren".
"Farida, yuk kita pulang....nanti diamarahi nenek lho kalau kita nda pulang. " Ajak Sri
" Yuk ! Nih akau dapat belalang banyak, coba lihat punyamu, mba....!" kata Farida.
"Nih...wah...banyak punyaku..daripada punyamu".kata Sri gembira.
" Ya, iya ,lah...kan mba Sri lebih gede darikuku, hehe...." Farida tersenyum meledek kakak sepupunya.
Sampai di rumah, belanag di bersihkan dan dibumbui lalu digoreng. Memang di desa jaman dulu 70 an, belalang masih banyak di sawah2 dan oarang2 di desa memanfaatkan sebagai lauk makan atau sekedar cemilan, maka tidak ada yang merasa "jijik", bahakan terasa gurih dan nikmat. Ternyata di man internet saat ini diberdayakan lagi dan menjadi cemilan/ lauk mewah yang cukup mahal karena berdasarkan penelitian ternyata belalang mengandung protein yang tinggi dan sangat sulit dicari. Hemm.....ternyata ' keren juga' orang desa, yah ?
hallo bu...salam kenal....
BalasHapuskayaknya sy pernah baca deh tulisan2 ibu yg lama....udah dihapus ya...??
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapushallo bu.....jumpa lagi....
BalasHapusmaaf...mau tanya nih....kalo blog ini punya ibu jg....??
tulisannya ada yg terkesan blak2-an....dan sedikit hot...hehe...
http://tutimnfarida.blogspot.co.id/2014/08/indahnya-nikmat-dan-karuniamu-ya-alloh.html