Selasa, 24 Juni 2014

INDAHNYA DESAKU


Hasil gambar untuk gambar pemandangan indah
           
          Gemercik air di lereng lembah desa kubangkangkung,  yang dikelilingi hutan lindung dengan beribu pohon karet, serta alam pegunungan yang sejuk, hijau yang menawarkan kedamaian di hati penduduknya membuat pagi itu terasa indah dan menggairahkan. Alam telah mengalirkan energi positif yang membawa semangat juang untuk mengabdi pada Bangsa dan negri ini. Warto, demikian para tetangga dan teman sebaya memanggil nama ayahku, yang lengkapnya ' suwarto'. Ayahku yang berasal dari desa Mlipak, Danasri lor Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap ditugaskan sebagai 'Mandor' pembangunan jalan raya Kawunganten- Cilacap. Sebagai pegawai kontrak pemerintah daerah / PEMDA Cilacap,hanya menurut saja. Maka sejak itulah ayahku yang baru menikah dengan ibuku yang bernama Salem binti Kartareja, langsung pindah ke desa kubangkangkung kecamatan Kawunganten Kabupaten Cilacap.
           Ayahku adalah tipe laki-laki yang bertanggung jawab, disiplin, teguh memegang prinsip, pekerja keras, penuh kasih sayang dan memiliki bermacam keahlian/ talent. Disamping sebagai karyawan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten ( DPUK ), ayahku juga mengisi waktu luangnya dengan menjadi 'tukang' kayu. Pulang dari kerja pemerintah, di rumah juga menerima berbagai pesanan seperti ; lemari,meja, kursi dan berbagai peralatan dari kayu, bahkan rumahpun dibuatnya. Di kantor ayahku juga menerima pesanan gambar-gambar yang diperlukan oleh pemerintah daerah, seperti gambar gedung/ bangunan kantor, rambu-rambu lalu lintas dan lain2 karena ayahku lulusan Sekolah Teknik ( ST ). Bukan hanya itu Beliau bahkan menerima permintaan menguras WC, mengayuh becak dan mengecat, demi tanggungjawabnya pada keluarga.
              Dalam bidang seni ayahku sudah sejak remaja menjadi Mayoret Drumband, vokalis dan gitaris/ pianis/ pemimpin grup musik dangdut maupun rebana di kampung. Disamping juga pandai melukis, lukisanya sering diminati oleh temen2 kerja sebagai karya seni yang indah. Yang lebih hebat lagi ayahku sangat mahir melukis dan membuat wayang baik yang dari kertas maupun kulit. Wayang hasil karya ayah sangat indah, sampai-sampai menurutku tidak ada wayang yang seindah dan senatural buatan ayah, benar2benar bernilai seni tinggi, berbeda dengan wayang2 yang dijual di pasaran.  Menyanyi, melukis, menggambar membuat wayang adalah keahlian ayahku di bidang seni, disamping juga ayahku adalah pemimpin grup seni Kuda Lumping.
             Di bidang olah raga ayahku sangat potensial, dari bola voly, catur, koprol, pencak silat adalah jenis-jenis olah raga yang sering dijuarainya. Dan entah berapa cabang olah raga lainnya yang sudah dikuasai ayah.
            Dalam bidang Agama Islam, sejak kanak2 ayahku adalah aktifis masjid, sehingga pada saat menikah dan berpindah ke desa kubangkangkung karena tugas negara ayahku aktif menjadi ustadz di mshola sekitar, yang waktu ayahku datang masyarakat di sana masih sangat terbelakang. Mereka masih mengkonsumsi daging celeng/ babi hutan hasil berburu bersama para lelaki di sana. 
           Profesi penduduk waktu itu adalah mencari kayu di hutan, berburu , tukang kayu dan petani dan buruh kebun karet. Sedangkan kaum perempuan menjadi buruh kebun karet, petani/ buruh tani dan ibu rumah tangga.
              Adat kebiasaanya masih sangat terbelakang. Sering seorang perempuan yang menganggur hanya 'petan' ( mencari kutu temannya ) dengan hanya memekai ( kutang/ BH ) dan 'kain kemben'. Sehingga pemandangan perempuan dengan buah dada telanjang adalah hal yang sangat biasa dan bukan sesuatu yang tabu atau memalukan. Bahkan seoarang perempuan menyusui tanpa berpakaian hanya dengan BH di depan rumah, di warung, di rumah tetangga sambil petan tanpa baju sudah baisa. Mereka tidak merasa malu karena sudah menjadi tradisi sehari2. 
              Mungkin ini juga salah satu pemicu perilaku hidup bertetangga yang 'tidak sehat'. Saya ingat betul waktu kanak2 sering mendengar ibu temanku bercinta dengan ayah temanku yang lainnya. Artinya budaya sex dengan suami/ istri tetangganya sudah dianggap biasa. Siapa suka sama siapa asal sama-sama suka tidak apa2. Suami/ istri tidak protes, menuntut atau cemburu karena pada dasarnya, mereka juga bisa suka sama siapa saja yang disukai suatu waktu tanpa dituntut oleh pasangannya. Sungguh kehidupan bagai di hutan seperti alamnya yang dikelilingi perhutanan.
            Alhamdulillah ayah dan ibuku tidak mengikuti tradisi hidup seperti itu. Ibuku adalah tipe wanita setia meski murah senyum dan care. Ayahku adalah laki2 yang berpengetahuan agama Islam yang cukup, sehingga paham betul mana larangan agama mana yang dibolehkan. Hal ini ku simpulkan ketika telinga mungilku sering mendengar, ada seorang pria yang merayu ibuku, ibuku menolak dengan ramah tapi jelas.
            Desa yang indah, sejuk dengan penduduk yang lugu tanpa terbelenggu aturan agama dan negara karena mereka meang terpencil di tengah hutan. Ayahku di tugaskan di sini dari awal menikah sampai mempunyai 3 anak, sekitar tahun 1968- 1975. Sampai pembangunan jalan raya Kawunganten- Cilacap selesai.
           Tugas yang tanpa bayaran yang pantas karena ayahku hanya tenaga kontrak namun ikhlas. Padahal begitu berat dijalani, berbagai cobaan menerpa, karena hidup di tengah hutan. Dari mulai ketakutan sendirian malam hari bila ayahku pergi, ada laki2 yang masuk ke kamar ibuku saat ayhku pergi tapi berhasil ditolak dan pergi. sampai suatu saat ayahku 'kemasukan jin' berbulan2, dalam kondisi mengenaskan.
             Kronologinya begini, diantara jalan Kawunganten- Cilacap ada sebuah pohon besar yang menganggu pembangunan jalan, tetapi tidak ada yang berani menebang karena dari cerita masyarakat di sana mengatakan kalau ohon itu dihuni maklhuk halus. Ayahku yang pemberani yang juga sebagai 'mandor' pemimpin pembangunan di sana, menyruh anak buahnya untuk tetap menebang pohon tersebut supaya bisa dibangun jalan. Maka anak buah ayahku mau menuruti dengan janji apabila ada'apa-apanya' resiko ditanggung ayahku. Maka ayahku meng-iyakan. Singkat cerita anak buah ayahku menebang pohon dengan mengatakan " hai penghuni pohon besar, maaf aku menbang rumahmu, tapi aku hanya orang suruhan mandorku, kalau kamu tidak terima atau marah maka marah dan membalaslah pada mandorku pak Warto.' Lalu dikencingi pohon tersebut dan ditebang seperti perintah ayahku. Ternyata benar, tidak tahu ujung pangkal dan sebabnya, di rumah, ayahku mengamuk, berteriak2 seperti orang gila sampai berbulan2 bahkan telanjang bila tidak dicegah oelh keluarga. Alhamdulillah pak lik ayahku yang bernama mbah Tarmuji adalah orang pintar, maka beliau diundang oleh ibu dan neekku/ ibu ayahku untuk mengobati beliau, sehingga jin penghuni pohon besar tersebut berhasil di usir dan ayahku sembuh sampai saat ini, sudah bersusia 65 tahun, pensiun. Dan menjadi KH Edi suwarto karena perjuangannya untuk Islam dan ibadah haji tahun 2009 Semoga beliau panjang umur dan barokah. Amin
Cilacap, selasa wage 24 juni2014 M
                                 25 syaban 1435 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar