Minggu, 06 Juli 2014

Bundaku Tangguh

          Pagi yang indah, alam pegunungan yang sejuk, dengan hijaunya dedaunan dan udara yang menyegarkan, membuat hati penduduk desa terasa tenang tanpa beban. Pagi itu bunda Salma telah bersiap pergi ke sumur untuk mencuci pakaian dan mengambil air persediaan untuk masak dan keperluan lain. Sebelumnya sebelum adzan subuh berkumandang beliau telah bangun, mengambil air wudhlu , menunaikan shalat subuh dan masak untuk sarapan pagi.
        Satu ember berisi pakaian kotor dan satu ember kosong tempat air di bawa dengan dipikul menggunakan 'mbatan' ( alat dari bambu untuk memikul 2 ember seperti orang sedang menimbang barang. Salma juga mengajak putrinya, Farida untuk mandi pagi sekalian.
           Cukup jauh sumur yang dituju kurang lebih 1,5 kilometer, maklum di sini sulit mencari sumber mata air yang bisa terus mengalir saat kemarau tiba. Apalagi rumah Salma ada di atas tebing, sedangkan sumurnya di bawah tebing, sehingga harus berjalan menurun sampai 500 meter dari atas undak2an tanah yang dibuat warga untuk naik turun menuju tempat2 di bawahnya, seperti sumur, ladang dan sawah mereka. Sungguh medan yang sangat sulit untuk dijangkau apalagi bila musim hujan, jalan tanah yang berbentuk tangga ini sangat licin. Subhanalloh....betapa hebat keihlasan para perempuan Jawa dalam berumah tangga....
          Sampai di bawah...sumur sedang banyak airnya karena sedang musim hujan. Bunda Salma langsung mencuci di atas kayu tempat menggosok cucian yang dibuatakan suaminya. Sementara Farida ikut2an sambil bermain air dan cucian. Sumur warga ini terletak di lereng bukit, di sebelahnya ada pematang sawah dan sebuah rel kereta api, jadi bila penumpang kereta api menengok ke arah sumur akan terlihat jelas oang2 yang sedang di sumur. Maklum, sumur sederhana dengan dinding daun kelapa yang dianyam ( bleketepe-jawa ).
"Airnya bagus,bun...kayak balon kecil2..." Farida bermain air sabun dicucian bundanya.
"Oh, ya....awas lho hati2, ya....jangan kena mata...perih..." bundanya menimpali.
"He-eh," jawab Farida, manggut2 lucu sambil asyik menangkap gelembung udara dari sabun. Ibunya meneruskan mencuci sambil mengawasi ananda tercinta.
"Farida...sini, mandi dulu, nak....ibu sudah selesai nyucinya, nih." Salma isyarat melambaikan tangan memanggil putri mungilnya yang berjarak 2 meter darinya.
"Aohh...bunda udah selesai , ya....iya deh, aku mandi dulu..." jawabnya menurut karena dia memang kararternya penurut.
            Tiba2 saat memandikan Farida, ada kereta api lewat dengan suara yang gemuruh dan penumpang tampak penuh. Salma cuek tak peduli, meski dia tahu sebagian penumpang kereta api menagraahkan pandangan ke arahnya.
"Bunda....kereta itu mau ke mana ?" 
" Ke Gandrung, nak...memangnya kenepa ?"
"Gandrung itu jauh, ya bun ? "
" Nda....mau apa to ?'' Sebenarnya Farida ingin mengatakan bahwa dia pengin pergi naik kereta tapi takut bundanya tidak setuju maka dia hanya menggeleng tanda bahwa dia tidak ingin apa2, dia hanya bertanya saja.
           Selesai mencuci, Farida juga sudah dimandikan, bunda Salma bergegas pulang. Seorang perempuan tabah dan tangguh, pulang ke rumah memikul 2 ember dengan mbatan di pundaknya. Ember air posisi di depan badan untuk mengurangi goyangan sehingga sampai di rumah tidak terlalu banyak yang tumpah, sedang ember yang satunya posisi di belakang berisi cucian yang akan dijemur.
            Jalan sangat licin dengan hati2 mereka menuju rumah....untuk jalan dari sumur ke jalan bertangga kurang lebih 1 kilo meter. 
" Faraida hati2, nak...'"
" Iya, bun...." anak balita ini menaiki jalan tangga dengan hati2 meski sebenarnya di hatinya takut jatuh karena sangat licin. Farida kecil sangat terkesan dan kagum sekaligus prihatin pada bundanya. Dalam hati kecilnya bertanya-tanya 'kenapa bunda yang perempuan yang mengambil air yang sangat sulit, jauh , jalan naik tebing dan licin. Memang jalan 500 meter ini naik kurang lebih 80 derajat jadi cukup curam dan berbahaya juga. Bukan ayahnya yang mengerjakan hal ini ?' Tanya ini tersimpan dalam hati sampai saat ini karena Farida tergolong anak pendiam, tidak berkata/ bertanya bila belum merasa perlu. Apalagi kalau kewatir akan mengecewakan atau membuat sedih yang ditanyanya, dia tidak akan melakukanya. Apalagi dalam menaiki jalan ini Farida sempat terpeleset sedikit dan ada cucian bundanya yang terjatuh dan kotor. Yang perlu di bersihkan lagi karena jatuh di tanah liat lembek tempat mereka berjalan.
            Sampai di depan rumah langsung menejmur pakaian dan menyimpan air di dapur. Kemudian meneruskan aktifitas 'nambang' ( membuat tali dari sabut kulit kelapa untuk bahan pembuat kesed ) pekerjaan rutin sambilan, meski Salma memilki kebun beberapa hektar tetapi tipe pekerja keras yang ada dalam dirinya membuatnya tidak mau berpangku tangan membuang waktu. Hampir semua waktunya untuk bekerja di keluarga , istirahat hanya apabila tidur malam hari saja.
Cilacap senin 7 juli 2014
             

1 komentar:

  1. LuckyClub Casino Site 2021 ▷ Review & Latest Bonus Offers
    LuckyClub casino is a licensed online luckyclub.live gambling site for UK players. With over 400 games you can play for real money on a regular basis. Rating: 4.3 · ‎Review by LuckyClub.in

    BalasHapus