Satu minggu sudah kehadiran sang buah hati pertama Ustadz Muhammad. Dalam Islam di sunnahkan memberi nama anak dan aqiqah / tasyakur kelahiran anak dengan menyembelih kambing 2 ekor bagi anak laki2 dan untuk anak perempuan cukup 1 ekor. Ustadz Muhammad yang hanya pegawai kontrak di DPUK Kabupaten Cilacap tidak mampu membeli seeokr kambing meskipun beliau juga kerja sambilan sebagai tukang kayu atau kerja lainnya. Memang orangtuanya adalah tokoh agama dan tokoh masyarakat yang disegani dan termasuk orang kaya di kampungnya, keturunan Kyai dari Kebumen, yaitu K.Muhammad Yunus Muhsin dan Bapak mertuanya menjadi orang terkaya kedua di daerahnya karena masih keturunan ningrat, ayahanda bu Salma, yaitu R Kartareja. Tetapi Muhammad bukan tipe laki2 yang mau menerima pemberian begitu saja dari orang lain, meski dari mertuanya atau ayahnya sendiri sekalipun.
Maka malam itu malam ke-7 kelahiran putri pertamanya telah mempersiapkan acara pemberian nama 'si jabang bayi' dengan tanpa daging kambing. Hanya meneyembelih seekor ayam jago , 2 kilo telur ayam dan lauk pauk dari sayuran. Nasi 'tumpeng ' telah siap dengan seekor 'ingkung ( ayam kampung jantan yang di rebus dengan bumbu kuning santan ala jawa disajikan utuh ) serta aneka sayur, buah pisang dan jajanan 'ndeso' tertata apik di hamaparan tikar. Sebenarnya pada waktu masih dalam kandungan 4 bulan dan 7 bulanan juga sudah diadakan acara pembacaan albarzanji, bahkan dibacakan al-Qur'an surat2 terpilih, at -taubah, Lukman, maryam, Yusuf dengan maksud ibu dan bayinya senatiasa bertaubat, menjaga diri dari segala dosa dan maksiat. Kelak anak yang lahir menjadi anak sholih/ sholihan lahir batinseperti nabi Yusuf bila laki2 dan seperti maryam ibunda nabi Isa bila perempuan, dan senantiasa mentaati ajaran Islam seperti nasehat Lukmanul Hakim pada anak2nya.
Para undangan telah hadir semua, kurang lebih 40 orang. Mereka duduk melingkar mengelilingi hidangan, tetapi tidak langsung menikmatinya.
" Asalamu'alaikum warohmatullohi wabarokaatuh....."
" Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokaaatuh........" serempak hadirin mnjawab salam Ust Muhamad.
" Alhamdulillahiladzi an'ama 'alaina bini'matil iman wal Islam wa jami'i ni'matihi , wassolatu wasalamu 'ala nabiyil karim SAW ( hadirin menyaut shollallohu 'alaihi wa salam ) Bapak2 yang saya hormati....marilah kita panjatkan puji syukur kepada Alloh SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, inayah dan nikmatnya kepada kita semua, sholawat dan salam senantia kita sanjungkan ke hadirat Rosululloh SAW, terimakasih atas kehadiran bapak2 yang telah meluangkan waktunya untuk memenuhi undangan saya, pada malam hari ini saya punya hajat memberi nama anak pertama saya yang lahir pada hari senin 27 oktober atau 15 sya'ban seminggu yang lalu. Tetapi sebelumnya saya mohon keikhlasan babak2 untuk bersama membaca shalawat al-barzanji beberapa lembar, untuk mengingatkan pada kita akan kelahiran Nabi Muhammad SAW, sebagai uswatun hasanah. Saya juga berharap dengan dibacakannya kisah2 kelahiran Nabi Muhammad dan bersholawat pada Beliau akan menjadi wasilah dan doa semoga putri saya menjadi anak yang sholihah, berbakti pada kedua orangtua , negara dan Agama, Amiin. " ( hadirin menyaut, aamiin...).
"A'dzubillahiminasyaithonirojim, bismillahirohmanirrohiim, abtadiul imlaa...abismidatil 'aliyah.....( Alloh...seru hadirin ) .....demikian bait demi bait kisah Rosululloh SAW di baca secara bergantian oleh beberapa orang yang dipilih, yang lainnya menyahut, Alloooh....sampai pada srakal ( bacaan sajak/ bait puisi puji2an pada pribadi Rosululloh yang sangat mulia, hadirin berdiri untuk mencukur rambut bayi berusia 7 hari itu secara bergiliran. Dengan digendong bundanya dan dibimbing ayahandanya bayi mungil itu dibawa keliling bergantian ke para hadirin untuk dicukur. Para hadirin tidak merasa ragu untuk mencukur karena rambutnya hitam, lebat dan panjang bagai anak usia 3 tahun. Ustadz Muhamammad mendahului mencukur dengan bersholawat.......
"Ya Rosulalloh salamun'alaik...ya Rofi'asani wadaroji, 'atfata ya ji rotal 'alamiin ya uhai laljudi wal karomi....
Sampai akhirnya dianggap cukup bacaan2 yang dipilih karena tidak mungkin menyelesaikan satu buku sejarah Nabi yang di tulis oleh al-Barzanji itu.
Segera 'megari ( nama petugas pembagi nasi tumpeng ), maklum tumpeng yang cuma 1-3 dan ayam jago 1 ekor dibagi 40 orang, jadi harus ada yang biasa membagi bila tidak pasti akan bingung bagaimana membaginya, jadi butuh keahlian khusus, yang orang disebut megari. Budaya peninggalan Jawa Hindu dan politheisme ketika mereka mendoakan merayakan sesuatu untuk memohon pada para dewa yang dilestarikan oleh Walisongo, penyeru ajaran Islam. Hal ini tentu saja telah disesuaikan dengan ajaran Islam.Misalnya ritual doanya bukan meminta pada dewa, roh leluhur atau makhluk lain tetapi pada Alloh SWT. Mantera-mantera magic diganti dengan kalimah toyyibah , sholawat dan doa2, makanan yang pada waktu jaman Jawa Hindu disajikan untuk para dewa dan leluhur ,sekarang dibagi untuk sodaqoh dan hadiyah bagi para hadirin yang diundang untuk dimakan bersama dan dibawa pulang untuk keluarga yang menunggu di rumah.
Sehingga budaya 'kenduri/ kepungan/ syukuran ' ini menjadi budaya yang sangat bagus untuk berbagi, kebersamaan, sillaturhaim , shodaqoh dan persatuan serta persaudaraan sesama Muslim dan umat manusia.
Setelah doa penutup, Ustadz Muhammad mengumumkan...
"Alhamdulillah.....terimaksih bapak2, acara berjalan lancar, penuh hikmat tanpa ada halangan apapun. Selanjutnya saya akan menyampaikan bahwa putri kami akan kami beri nama " Derita Tuti Munfarida". Mohon doa restunya semoga bisa menjadi perempuan seperti arti namanya. Amiin. Terimaksih atas kehadiran dan doanya, semoga menjadi amal sholih bagi bapak2, kami tidak bisa membalas apa2, hanya Alloh SWT yang akan membalas amal baik kita semua. Amiin. Wasalamu'alaikum warohmatullohi wabarokaatuh." Sambil menikmati hidangan, dilantunkan beberapa tembang Islami, dari grup qashidah pimpinan Ustadz Muhammad ,yang multi talnt. Hadirin juga dipersilahkan kembali ke rumah masing2 bagi yang sudah merasa cukup merasa cukup menikmati hidangan.
Kata ayahku Namaku adalah nama dari kesepakatan beliau berdua, ibu saya ingin memberi nama saya "Derita' dengan maksud hidupnya bahagia selamanya, tidak pernah menderita, sedangkan Farida adalah nama teman perempuan ayah yang dikagumi karena kecantikan dan kepandaiannya, ibu berharap sejak awal anak pertama beliau lahir perempuan dan akan memberi nama dengan nama peempuan yang disukai oleh ayah dengan harapan ayahku akan melupakan Farida, karena sudah dapat pengganti, putrinya sendiri sebagai penyejuk hati. Kupikir aneh juga ibuku, masa ingin membuang kennagan ayah dengan wanita idolanya malah dengan anak perempuan sendiri, diberi nama dengan namanya lagi, ah, aku tak menngerti jalan pikiran bundaku itu. Sedangkan Tuti adalah nama idola pada zaman itu maka ibuku membubuhkan nama tersebut, nama yg lagi ngetren, he..he.
Belakangan setelah aku dewasa aku mengartikan namaku dengan versiku sendiri. Derita sudah tidak masuk menjadi namaku semenjak aku mendaftar sekolah di SD karena aku masuk SD ketika akau ikut nenek di desa Mlipak Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap. Saat aku ditanya namaku siapa aku hanya menjawab "mum" panggilanku sehari2,lalu kakak seppu perempuanku yang sudah kelas 2 SD waktu itu mengatakan pada Guruku namaku 'mumfaridah". Ketika kelas 6 ada pendataan calon peserta ujian akhir SD aku diberi tahu kalau namaku 'Tuti Munfarida". Berasal dari bahasa arab maka panggilan Mun menjadi Mum karena ada huruf nun mati bertemu fa ( bacaan ikhfa ). Maka aku memperbaiki nama panjangku Tuti Munfarida, tetapi guru SD ku ternyata orang Muslim yang alim, tahu tata bahasa arab/ ilmu nahwu- shorof/ gramatika bahasa arab. Sehingga namaku ditulis Tuti Munfaridah ( huruh h dibelakang adalah ciri abhasa arab kalau aku perempuan akata beliau ) walaupun sampai saat ini aku tidak suka dengan huruf h ini. Tetapi sudah ditulis dijazah SD samapai saat ini. Sedangkan nama Derita baru ku ketahui setelah aku sekolah SMP kata ibuku, sebenarnya namaku Derita Tuti Munfarida. Tetapi aku tidak suka dengan nama derita karena seperti nama kalimat, juga aku takut dipanggil Rita bila nama Derita menempel karena nama temanku Rita adalah perempuan 'nakal' sejak remaja. Na'udzubillah, aku nda ingin seperti dia. Maka sampai saat ini namaku Tuti Munfaridah.
Setelah aku dewasa dan mengaji aku mengartikan namaku sendiri, dengan arti : Tuti berasal dari bahasa arab : Tuti ' ; yang berarti taat/ mampu ( tatho'a ). Sedangkan Munfaridah : artinya sendiri. Maka aku menafsiri namaku sebagai ; perempuan mandiri yang taat kepada Alloh SWT atau perempuan yang memiliki keistimewaan/ kemampuan tersendiri. Amiin.
Cilacap, kamis pon 03 Juli 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar