Sabtu, 05 Juli 2014

Sang Idola ( Tipe ayah dan anak idola )


         Kicauan burung bersautan mndendangkan lagu pujian. Mentari bersinar cerah di balik rerimbunan pohon2 hutan, mengabarkan sejuta harapan bagi penduduk desa. Ada yang bergegas menuju ke sawah , ada yang ke ladang, ada juga yang ke hutan dan beberapa orang ke pasar. Mereka kebanyakan adalah buruh tani, pekerja kebun karet, buruh kebun dan pemilik warung klontong. 
            Muhammad yang telah selesai mengawasi pembangunan jalan, bersiap untuk meneruskan pekerjaan rutin 'nukang'. Ada beberapa pesanan kursi, meja dan lemari yang belum selesai. Dengan di bantu kakak ipar dan bapak mertuanya yang terkadang juga ikut menekuni keahlian 'nukang', Muhamad asyik 'masah' ( menghaluskan kayu dengan alat tukang kayu yg disebut pasah ). Tiba-tiba pasah yang digunakan terasa kurang pas posisinya/ agak miring, maka dia mencari palu kecil untuk meluruskan, tetapi tidak ditemukan. Beruntung ketika menoleh ke arah kiri, beliau melihat putri kecilnya sedang bermain.
"Farida, tolong ambilkan palu, nak !"
Putri kecilnya yang baru berusia 2 tahun sudah terbiasa dengan alat2 tukang kepunyaan ayahnya. Dia juga anak yang lucu dan cerdas, cepat menghafal dan kuat ingatannya meski tanpa diajari satu2.
"Nih..." Farida mengacungkan palu kecil ke ayahnya, tidak salah memang yang diberikannya palu bukan yang lain, meski belum pernah diberi tahu namanya, tetapi karena sering mendengar atau melihat maka dia paham.
         Farida melanjutkan bermain dengan mainan seadanya. Selendang kecil, payung kecil dan beberapa wadah kecil untuk main masak2an. Meski bermain sendirian tanpa teman, dia tidak pernah rewel apalagi merajuk. Dia memang tipe anak yang mandiri, tabah dan 'nrimo'. Tidak pernah meminta apapun pada siapapun. Apa yang dimilikinya baginya sudah cukup, bila menginginkan sesuatu tidak pernah diutarakan pada siapapun, hanya disimpan di hati. Dia hanya menerima apabila diberi, tidak pernah meminta.
         Bundanya, Salma sedang asyik di dapur menumbuk padi untuk di masak karena jauh dari tempat penggilingan padi dan di dipan sudah tersedia daun singkong dan kelapa muda diparut dan dimasak  disantan. Sungguh keluarga yang hidup sederhana dan ikhlas. Masaknyapun dengan 'pawon' ( perapian kuno alat pembakaran ketika memasak. Maka tidak aneh apabila dinding dapur rumah dan dapurnya juga berwarna hitam saking seringnya terkena asap dapur.
            Jam 08.00 pagi masakan sudah tersedia, maklum  Salma bangun pagi sekali sebelum subuh. Tanpa di suruh, Muhamad dan keluarga kumpul di balai tempat mereka makan bersama. Lima keluarga dalam rumah yang bersebelahan satu komplek tetapi sering berkumpul untuk makan bersama. Kali ini hanya 3 keluarga yang berkumpul, yaitu yang 'nukang' bareng, keluarga ayah Salma, keluarga kakak bu Salma dan keluarga Muhamad / Salma sendiri. Salma membagi nasi ke masing2 piring di depannya, mereka mengambil lauk sendiri2 hanya santan daun singkong, tempe goreng  dan sambal terasi. Kenikmatan mereka sangat tampak, meski sederhana tapi ikhlas.
"Ayo...nambah, mad ..." kakak iparnya mempersilahkan Muhamad untuk tidak sungkan nembah makanan.
"Ya, sudah ....cukup, cukup....sampean monggo...katanya
"Ya. nda usah malu2, lha kamu laki2 koq makanya sedikit, nanti nda 'rosa / kuat, lho." ayah mertuanya menimpali. Muhamad hanya terseyum kecil.....
            Farida ikut2an membawa sisa hidangan yang sudah selesai ke dapur, meski hanya membawa piring satu, itu sudah cukup menunjukkan kalau dia bukan anak pemalas. Memang meski baru berusia 2 tahun, dia sudah terlihat karakter positifnya. Suka membnatu bundanya, cepat tanggap, cerdas, lincah dan mandiri serta 'nrimo' nda suka meminta apapun apalagi merajuk, tidak pernah sama sekali, itu karena gen dan didikan dari kedua orangtuanya sebagai anak pertama yang diharapkan menjadi contoh dan pelindung adik2nya kelak.
Cilacap, Sabtu 05 Juli 2014
          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar